Dipublikasikan: 2 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 2 Desember 2025
Dipublikasikan: 2 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 2 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Moralistic Fallacy adalah salah satu jenis kesalahan logika di mana seseorang menganggap bahwa dunia “seharusnya” atau “harus” sesuai dengan nilai moral tertentu, lalu menyimpulkan bahwa hal itu memang terjadi di dunia nyata. Fallacy ini sering muncul dalam debat etika, politik, pendidikan, dan isu sosial, karena orang cenderung membiaskan penilaian empiris dengan keyakinan moral mereka. Misalnya, seseorang yang berkata, “Karena kekerasan itu salah, maka manusia tidak secara alami agresif” telah melakukan Moralistic Fallacy. Kesalahan ini berbahaya karena dapat menutup pemahaman terhadap fakta empiris dan memengaruhi kebijakan atau keputusan berdasarkan asumsi moral, bukan bukti nyata.
Daftar Isi
Moralistic Fallacy, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “Kesalahan Logika Moral,” adalah kesalahan berpikir yang terjadi ketika seseorang mengasumsikan bahwa fakta dunia harus sesuai dengan norma moral atau nilai yang dianggap ideal, sehingga kesimpulan yang diambil lebih berdasarkan etika daripada bukti empiris. Fallacy ini termasuk dalam kategori informal fallacy, karena menyerang kualitas argumen melalui bias nilai, bukan melalui kesalahan logika formal.
Ciri khas Moralistic Fallacy meliputi:
Fallacy ini sering muncul dalam:
Secara psikologis, fallacy ini memanfaatkan bias persepsi manusia yang menginginkan konsistensi moral antara keyakinan etika dan fakta, sehingga sering mengabaikan realitas kompleks.
Berikut beberapa contoh konkret dari Moralistic Fallacy:
Beberapa strategi untuk mengenali dan menghindari fallacy ini meliputi: