Dipublikasikan: 2 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 2 Desember 2025
Dipublikasikan: 2 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 2 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Kettle Logic Fallacy adalah salah satu jenis kesalahan logika di mana seseorang menggunakan beberapa argumen yang saling bertentangan untuk membela diri, mendukung klaim, atau menjustifikasi tindakan tertentu. Fallacy ini muncul ketika argumen-argumen tersebut tidak konsisten satu sama lain, sehingga meskipun masing-masing tampak masuk akal, secara logis mereka tidak dapat berlaku secara bersamaan. Nama “Kettle Logic” berasal dari contoh klasik Sigmund Freud, di mana seseorang yang dituduh merusak panci menggunakan tiga alasan berbeda sekaligus: panci itu sudah retak, panci itu sudah dimiliki oleh orang lain, dan panci itu bukan miliknya. Fallacy ini sering muncul dalam hukum, debat politik, retorika, dan komunikasi sehari-hari.
Daftar Isi
Kettle Logic Fallacy, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “Kesalahan Logika Argumen Bertentangan,” adalah kesalahan berpikir yang terjadi ketika seseorang mengajukan beberapa argumen yang saling bertentangan untuk mendukung klaim yang sama. Fallacy ini termasuk dalam kategori informal fallacy, karena menyerang kualitas argumen melalui inkonsistensi internal, bukan kesalahan dalam struktur logika formal.
Ciri khas Kettle Logic Fallacy meliputi:
Fallacy ini sering muncul dalam:
Secara psikologis, fallacy ini memanfaatkan kecenderungan audiens untuk menerima argumen yang berjumlah banyak sebagai bukti kuat, meskipun argumen-argumen tersebut tidak koheren.
Berikut beberapa contoh konkret dari Kettle Logic Fallacy:
Beberapa strategi untuk mengenali dan menghindari fallacy ini meliputi: