Jeopardy Fallacy

Dipublikasikan: 2 Desember 2025

Terakhir diperbarui: 2 Desember 2025

Raymond Kelvin Nando Jeopardy Fallacy adalah salah satu kesalahan logika di mana seseorang mengasumsikan bahwa jika sebuah klaim tidak benar, maka klaim yang berlawanan pasti benar. Fallacy ini sering muncul dalam debat, argumen sehari-hari, dan retorika politik, karena tampaknya memberikan pilihan biner yang sederhana, padahal realitas sering lebih kompleks. Misalnya, jika seseorang berkata, “Jika teori A salah, maka teori B harus benar,” padahal bisa saja kedua teori itu salah atau ada alternatif lain, maka itu adalah contoh Jeopardy Fallacy. Kesalahan ini berbahaya karena menyederhanakan masalah kompleks menjadi pilihan hitam-putih yang menyesatkan, dan dapat mengarahkan orang ke kesimpulan yang salah.

Pengertian Jeopardy Fallacy

Jeopardy Fallacy, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “Kesalahan Logika Pilihan Palsu Terbatas,” adalah kesalahan berpikir yang terjadi ketika seseorang mengasumsikan bahwa ketiadaan kebenaran pada satu klaim otomatis membuktikan kebenaran klaim lain, seolah-olah hanya ada dua kemungkinan. Fallacy ini termasuk dalam kategori informal fallacy, karena menyerang kualitas argumen dengan membuat asumsi biner yang tidak valid, bukan menilai struktur logika formal.

Ciri khas Jeopardy Fallacy meliputi:

  1. Membuat asumsi biner: jika satu klaim salah, klaim lainnya pasti benar.
  2. Mengabaikan kemungkinan adanya opsi ketiga atau lebih.
  3. Sering digunakan dalam retorika persuasif untuk menyederhanakan argumen yang kompleks.

Fallacy ini sering muncul dalam:

  • Debat Politik: Menyederhanakan isu menjadi dua pihak yang saling bertentangan.
  • Diskusi Ilmiah: Menganggap jika teori populer salah, maka teori alternatif tertentu pasti benar.
  • Media & Opini Publik: Menggunakan retorika “hitam-putih” untuk mempengaruhi persepsi audiens.

Secara psikologis, fallacy ini memanfaatkan false dichotomy heuristic, yaitu kecenderungan manusia untuk menyederhanakan pilihan menjadi dua ekstrem yang mudah dipahami, meskipun kenyataannya lebih kompleks.

Orang lain juga membaca :  Poisoning the Well Fallacy

Contoh Jeopardy Fallacy

Berikut beberapa contoh konkret dari Jeopardy Fallacy:

  1. Debat Politik: “Jika pemerintah ini gagal dalam menangani ekonomi, maka oposisi pasti lebih baik.” Padahal oposisi belum tentu lebih efektif.
  2. Ilmu & Teori: “Jika teori gravitasi Newton salah, maka teori Einstein harus benar.” Faktanya, ada banyak teori alternatif yang mungkin ada.
  3. Kesehatan & Sains: “Jika obat A tidak efektif, obat B pasti efektif.” Kesimpulan ini mengabaikan kemungkinan obat lain atau kombinasi terapi yang lebih tepat.
  4. Media & Opini: “Jika film ini buruk, maka film lawan genre pasti bagus.” Padahal kualitas film tidak harus saling bertentangan.
  5. Diskusi Sehari-hari: “Jika makanan restoran ini tidak enak, maka restoran lain pasti lebih lezat.” Kesimpulan ini mengabaikan banyak variabel lain, seperti selera atau standar masakan.

Cara Mengatasi Jeopardy Fallacy

Beberapa strategi untuk mengenali dan menghindari fallacy ini meliputi:

  1. Pertimbangkan Opsi Lain: Selalu tanyakan apakah ada alternatif lain selain klaim yang sedang dibandingkan.
  2. Hindari Asumsi Biner: Jangan menganggap hanya ada dua kemungkinan dalam situasi kompleks.
  3. Evaluasi Bukti secara Independen: Nilai setiap klaim berdasarkan merit dan bukti, bukan hanya karena klaim lain salah.
  4. Gunakan Logika Multi-opsi: Pikirkan kemungkinan spektrum solusi atau jawaban yang lebih luas.
  5. Edukasi tentang Fallacy Biner: Memahami kecenderungan untuk membuat pilihan hitam-putih membantu menghindari kesalahan ini.

Referensi

  • Walton, D. (2008). Informal logic: A pragmatic approach (2nd ed.). Cambridge University Press.
  • Damer, T. E. (2012). Attacking faulty reasoning (7th ed.). Cengage Learning.
  • Govier, T. (2010). A practical study of argument (7th ed.). Wadsworth Cengage Learning.
  • Johnson, R. H., & Blair, J. A. (2006). Logical self-defense (3rd ed.). International Debate Education Association.
  • Hitchcock, D. (2018). The Oxford handbook of explanatory reasoning. Oxford University Press.
  • Walton, D. (1998). The new dialectic: Conversational contexts of argument. University of Toronto Press.
  • Copi, I. M., Cohen, C., & McMahon, K. (2016). Introduction to logic (14th ed.). Routledge.
Orang lain juga membaca :  Projection Fallacy

Citation

Previous Article

Jumping to Conclusion Fallacy

Next Article

Kettle Logic Fallacy

Citation copied!