Dipublikasikan: 2 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 2 Desember 2025
Dipublikasikan: 2 Desember 2025
Terakhir diperbarui: 2 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Historical Fallacy adalah salah satu jenis kesalahan logika yang terjadi ketika seseorang menyimpulkan bahwa peristiwa masa lalu harus berulang atau memiliki konsekuensi tertentu di masa kini atau masa depan, tanpa mempertimbangkan konteks yang berbeda, perubahan kondisi, atau faktor baru yang relevan. Kesalahan ini sering muncul dalam analisis sejarah, politik, ekonomi, dan literatur populer. Misalnya, pernyataan “Perang dunia sebelumnya dimulai karena kebijakan proteksionis, jadi perang berikutnya pasti akan muncul jika proteksionisme diterapkan lagi” merupakan contoh Historical Fallacy, karena mengabaikan perbedaan konteks sosial, politik, dan ekonomi antara kedua periode tersebut. Fallacy ini dapat menyesatkan karena menyederhanakan kompleksitas sejarah dan memunculkan prediksi atau keputusan yang tidak akurat.
Daftar Isi
Historical Fallacy, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “Kesalahan Logika Historis,” adalah kesalahan berpikir yang terjadi ketika kesimpulan atau prediksi didasarkan secara berlebihan pada peristiwa sejarah, tanpa mempertimbangkan konteks yang berbeda atau perubahan kondisi. Fallacy ini termasuk dalam kategori informal fallacy, karena menyerang kualitas argumen dengan menyalahgunakan analogi historis, bukan struktur logika formal.
Ciri khas Historical Fallacy meliputi:
Fallacy ini sering muncul dalam:
Secara psikologis, fallacy ini terkait dengan bias retrospektif dan kecenderungan manusia untuk mencari pola dalam sejarah sebagai panduan untuk masa depan, meskipun konteksnya berbeda.
Berikut beberapa contoh konkret dari Historical Fallacy:
Beberapa strategi dapat diterapkan untuk mengenali dan menghindari fallacy ini: