Dipublikasikan: 19 November 2025
Terakhir diperbarui: 19 November 2025
Dipublikasikan: 19 November 2025
Terakhir diperbarui: 19 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Black-or-White Fallacy, juga dikenal sebagai false dichotomy atau false dilemma, adalah sebuah fallacy yang terjadi ketika suatu argumen memaksa seseorang memilih hanya antara dua opsi seolah keduanya merupakan satu-satunya kemungkinan, padahal kenyataannya terdapat berbagai alternatif lain. Kesesatan ini menyederhanakan kompleksitas realitas menjadi pilihan biner, sehingga menutup ruang bagi pemikiran yang lebih nuansatif. Dalam banyak diskursus sosial, politik, moral, maupun akademik, reduksi semacam ini dapat menyesatkan karena memaksa audiens menerima kerangka berpikir yang sempit.
Daftar Isi
Pada dasarnya, Black-or-White Fallacy memaksa sebuah situasi kompleks ke dalam dua kategori ekstrem: benar atau salah, baik atau buruk, mendukung atau menolak. Struktur ini memberikan kesan bahwa realitas dapat dipisahkan dengan sangat tegas, padahal pada kenyataannya banyak fenomena berada pada spektrum atau memiliki banyak variabel yang saling berkelindan. Dengan memaksakan dikotomi, penalaran kehilangan kemampuan untuk mengakui kemungkinan ketiga, keempat, atau bahkan kombinasi berbagai faktor secara bersamaan.
Contoh yang sering muncul adalah argumen seperti: “Jika kamu tidak setuju dengan kebijakan ini, berarti kamu tidak peduli pada bangsa ini.” Kalimat tersebut menyempitkan posisi menjadi hanya dua: setuju atau tidak peduli. Padahal seseorang bisa saja menolak kebijakan tersebut karena alasan moral, ekonomi, atau teknis, tanpa kehilangan rasa peduli terhadap bangsa. Reduksi seperti ini menjadi berbahaya ketika digunakan dalam perdebatan publik karena menciptakan polarisasi yang tidak perlu.
Dalam kehidupan sehari-hari, Black-or-White Fallacy muncul ketika orang menanggapi fenomena sosial yang kompleks dengan pandangan ekstrem. Di ranah pendidikan, misalnya, muncul pernyataan seperti: “Jika siswa tidak cerdas dalam matematika, maka ia pasti tidak cerdas sama sekali.” Padahal kecerdasan bersifat multidimensi. Dalam ranah moral, kesesatan ini terlihat dalam pernyataan: “Orang baik tidak pernah melakukan kesalahan,” yang jelas mengabaikan kenyataan bahwa moralitas manusia jauh lebih kompleks.
Dalam politik, Black-or-White Fallacy sering digunakan untuk memanipulasi opini publik. Politisi dapat menciptakan narasi bahwa hanya ada dua jalan: mendukung mereka atau menghadapi kehancuran. Sementara itu, di lingkungan keluarga atau hubungan personal, dikotomi palsu dapat muncul dalam bentuk ultimatum emosional seperti “Kalau kamu mencintaiku, kamu harus setuju dengan keputusanku.” Padahal cinta dan persetujuan terhadap sebuah keputusan tidak selalu berjalan seiring.
Kesesatan ini dapat mempersempit wawasan, menghambat diskusi kritis, dan memperkuat bias berpikir. Di tingkat sosial, ia memicu polarisasi dan memperlemah kemampuan masyarakat untuk berdialog dengan nuansa. Ketika orang terbiasa berpikir dalam kerangka biner, kemampuan untuk memahami kompleksitas dunia menjadi tereduksi. Dalam konteks ilmiah, penggunaan Black-or-White Fallacy dapat menghambat penelitian karena mengabaikan variabel-variabel penting yang tidak sesuai dengan dikotomi sederhana.
Untuk menghindari kesesatan ini, penting untuk mempertanyakan apakah benar hanya ada dua opsi dalam suatu situasi. Menanyakan kemungkinan alternatif adalah langkah pertama untuk menghindari dikotomi palsu. Dalam dialog, penting untuk mengakui bahwa banyak persoalan membutuhkan pemikiran spektral, bukan biner. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, termasuk kemampuan mengidentifikasi kategori abu-abu, adalah fondasi untuk membangun analisis yang lebih matang.
Selain itu, argumentasi yang baik seharusnya membuka ruang untuk kompleksitas. Penggunaan data, perspektif multidisipliner, dan pendekatan yang mempertimbangkan berbagai variabel dapat membantu membangun argumen yang lebih lengkap dan tidak jatuh pada penyederhanaan yang menyesatkan.
Karena ia menyederhanakan realitas dan menutup kemungkinan alternatif, sehingga mempersempit cara berpikir dan memicu polarisasi.
Perhatikan apakah argumen memaksa dua pilihan ekstrem tanpa mengakui opsi lain yang mungkin lebih masuk akal.
Tidak. Dikotomi valid jika memang hanya ada dua kemungkinan secara logis. Kesesatan terjadi jika dikotomi tersebut palsu atau dipaksakan.