Dipublikasikan: 19 November 2025
Terakhir diperbarui: 19 November 2025
Dipublikasikan: 19 November 2025
Terakhir diperbarui: 19 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Argument from Silence adalah kekeliruan logis yang muncul ketika seseorang menyimpulkan bahwa suatu klaim benar atau salah hanya karena tidak ada bukti, pernyataan, atau catatan yang mendukung atau menolaknya. Dengan kata lain, ketiadaan informasi diperlakukan sebagai bukti yang menentukan. Kekeliruan ini sering muncul dalam sejarah, debat publik, dan penyelidikan ilmiah, ketika asumsi terbentuk bukan dari apa yang tercatat, tetapi dari apa yang tidak tercatat.*
Daftar Isi
Argument from Silence (argumentum ex silentio) adalah fallacy yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan berdasarkan diamnya suatu sumber atau kurangnya dokumentasi. Dalam epistemologi, “ketiadaan bukti” tidak identik dengan “bukti ketiadaan”. Diamnya suatu teks atau individu tidak dapat digunakan untuk membuat klaim kebenaran tanpa dukungan konteks dan analisis tambahan.
Kekeliruan ini berbahaya karena membuat penalaran bergantung pada spekulasi, bukan data objektif.
Beberapa ciri umumnya meliputi:
Ciri-ciri ini menunjukkan bahwa logika dipaksakan pada ruang kosong, bukan pada premis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Contoh sederhana:
“Dokumen kuno tidak menyebutkan nama tokoh ini, jadi tokoh itu tidak pernah ada.”
Padahal kemungkinan lain: catatan hilang, tidak dianggap penting, atau tidak dituliskan.
Contoh lain:
“Dia tidak menyangkal tuduhan itu, berarti dia bersalah.”
Diam tidak selalu berarti setuju; bisa karena takut, bingung, atau belum punya kesempatan menjawab.
Beberapa alasan utama:
Dalam kerangka epistemik, argumen yang valid membutuhkan premis yang ada, bukan premis yang hilang.
Kekeliruan ini memiliki berbagai dampak negatif:
Akhirnya, kualitas penalaran menurun ketika kesimpulan dibuat tanpa basis konkret.
Untuk menghindari kekeliruan ini:
Pendekatan ini menjaga integritas dalam penelitian, diskusi, dan analisis kritis.
Argument from Silence adalah kekeliruan yang terjadi ketika kesimpulan ditarik dari ketiadaan informasi. Diam atau absennya catatan bukan bukti yang memadai untuk klaim kebenaran. Untuk berpikir secara rasional, kita harus menilai konteks, mempertimbangkan alternatif, dan mengakui bahwa ketidakpastian lebih baik daripada kesimpulan yang tidak berdasar.
Tidak. Diam perlu ditafsirkan berdasarkan konteks. Namun, ia tidak bisa langsung menjadi bukti konklusif.
Karena banyak catatan yang hilang atau tidak lengkap, sehingga ruang hening sering diisi dengan spekulasi.
Argumen valid bertumpu pada premis positif. Argument from Silence bertumpu pada apa yang tidak ada.