Dipublikasikan: 19 November 2025
Terakhir diperbarui: 19 November 2025
Dipublikasikan: 19 November 2025
Terakhir diperbarui: 19 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Argument from Incredulity adalah kekeliruan logis yang terjadi ketika seseorang menolak suatu klaim karena ia merasa sulit membayangkan, memahami, atau mempercayainya. Dengan kata lain, sebuah argumen dianggap salah hanya karena tampak “tidak masuk akal” bagi individu tersebut, bukan karena adanya sanggahan logis atau bukti yang kuat. Kekeliruan ini berakar dari keterbatasan kognitif manusia, di mana apa yang tidak dapat dipahami sering kali diasumsikan mustahil.*
Daftar Isi
Argument from Incredulity (appeal to personal incredulity) adalah bentuk fallacy yang mengabaikan bukti dengan alasan subjektif seperti “saya tidak bisa membayangkan itu benar” atau “itu terdengar terlalu aneh”. Penolakan ini bukan didasarkan pada analisis objektif, tetapi pada keterbatasan imajinasi atau pengetahuan pribadi. Secara epistemologis, kesulitan memahami suatu fenomena tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan kesalahan atau ketidakbenarannya.
Beberapa indikator kekeliruan ini meliputi:
Ciri-ciri tersebut memperlihatkan bahwa batas kemampuan berpikir individu dijadikan dasar penalaran.
Contoh umum:
“Evolusi tidak mungkin terjadi. Saya tidak bisa membayangkan manusia berasal dari makhluk lain.”
Ketidakmampuan membayangkan bukanlah bukti ilmiah.
Contoh lain:
“Kesadaran muncul dari proses biologis? Mustahil. Itu terlalu aneh.”
Reaksi emosional tersebut tidak menjadi alasan epistemik untuk membantah penelitian ilmiah.
Kekeliruan ini bermasalah karena:
Dalam filsafat ilmu, kebenaran ditentukan oleh bukti dan metode, bukan oleh batas pengetahuan subjektif.
Dampak dari Argument from Incredulity antara lain:
Konsekuensinya, kualitas dialog publik menurun dan peluang untuk memperluas wawasan menjadi terhambat.
Beberapa langkah untuk menghindarinya:
Dengan demikian, penilaian dapat dilakukan secara lebih rasional dan terbuka.
Argument from Incredulity adalah kekeliruan yang menolak suatu klaim berdasarkan ketidakmampuan membayangkan atau memahaminya. Kekeliruan ini mengabaikan peran bukti dan logika dalam menentukan kebenaran. Untuk menjaga integritas penalaran, penting memisahkan reaksi subjektif dari evaluasi objektif, serta membuka ruang bagi kemungkinan yang melampaui batas pemahaman pribadi.
Karena manusia cenderung menjadikan pengalaman dan imajinasi pribadi sebagai standar penilaian kebenaran.
Tidak. Banyak kebenaran ilmiah awalnya tampak tidak intuitif, tetapi terbukti melalui penelitian.
Ajak mereka fokus pada bukti, bukan pada reaksi emosional atau batas pemahaman pribadi.