Dipublikasikan: 19 November 2025
Terakhir diperbarui: 19 November 2025
Dipublikasikan: 19 November 2025
Terakhir diperbarui: 19 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Appeal to Tradition adalah kekeliruan logis yang terjadi ketika suatu gagasan dianggap benar, baik, atau lebih unggul hanya karena sudah berlangsung lama atau diwariskan secara turun-temurun. Kekeliruan ini sering muncul dalam diskursus budaya, etika, politik, hingga keputusan organisasi, di mana tradisi dijadikan landasan kebenaran tanpa mempertimbangkan relevansi atau bukti empiris. Dalam konteks filsafat, tradisi memiliki nilai historis dan identitas, tetapi tidak otomatis menjadi argumen yang valid secara logis.*
Daftar Isi
Appeal to Tradition (argumentum ad antiquitatem) adalah bentuk fallacy yang menyatakan bahwa suatu praktik harus diterima semata-mata karena sudah dilakukan sejak dulu. Argumen seperti ini mengabaikan kebutuhan untuk menilai premis berdasarkan bukti aktual atau konteks yang berubah. Secara epistemologis, kekeliruan ini tidak mampu menjawab pertanyaan mendasar: apakah tradisi itu benar secara logis, etis, atau efektif?
Beberapa ciri umum munculnya Appeal to Tradition antara lain:
Penggunaan tradisi sebagai fondasi nilai memang sah secara budaya, tetapi menjadi keliru ketika dijadikan dasar kebenaran logis.
Contoh sederhana:
“Cara ini sudah dilakukan ratusan tahun. Jadi pasti yang paling benar.”
Padahal usia praktik tidak menjamin validitasnya.
Contoh lain dalam organisasi:
“Kita tidak perlu sistem digital. Dari dulu cara manual sudah cukup.”
Alasan tersebut menolak perubahan tanpa evaluasi kebutuhan aktual.
Kekeliruan ini bermasalah karena:
Secara epistemik, tradisi hanyalah satu sumber nilai, bukan jaminan kebenaran objektif.
Konsekuensi dari Appeal to Tradition mencakup:
Namun demikian, tradisi tetap memiliki tempat dalam menjaga identitas budaya — hanya saja tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar logis.
Untuk menghindarinya:
Pendekatan ini menjaga keseimbangan antara penghormatan terhadap tradisi dan penalaran rasional.
Appeal to Tradition merupakan kekeliruan yang menjadikan usia atau warisan suatu praktik sebagai dasar kebenaran. Walaupun tradisi mengandung nilai historis dan identitas, ia bukan bukti yang cukup untuk menetapkan validitas argumen. Menghindari kekeliruan ini membantu kita menilai gagasan secara objektif dan tetap terbuka pada inovasi tanpa kehilangan akar budaya.
Tidak. Tradisi dapat menjadi alasan budaya atau identitas, tetapi bukan bukti logis bagi kebenaran.
Appeal to Tradition terjadi ketika tradisi dijadikan dasar kebenaran. Jika tradisi dihormati sebagai nilai, tanpa klaim logis, itu tidak termasuk fallacy.
Karena masyarakat cenderung mengasosiasikan kebiasaan lama dengan kebaikan moral, meskipun konteks zaman telah berubah.