Dipublikasikan: 19 November 2025
Terakhir diperbarui: 19 November 2025
Dipublikasikan: 19 November 2025
Terakhir diperbarui: 19 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Appeal to Ridicule adalah kekeliruan berpikir yang muncul ketika seseorang mencoba membantah atau melemahkan argumen dengan cara mengejek, menertawakan, atau memperolok-olok ide tersebut, alih-alih memberikan sanggahan logis yang relevan. Dalam praktiknya, jenis fallacy ini berfungsi sebagai serangan psikologis yang mengalihkan perhatian dari substansi argumen menuju reaksi emosional berupa rasa malu atau inferioritas. Karena sifatnya yang persuasif namun tidak rasional, Appeal to Ridicule sering ditemukan dalam debat politik, satire sosial, media daring, hingga percakapan sehari-hari.*
Daftar Isi
Appeal to Ridicule adalah bentuk kekeliruan logis (logical fallacy) yang berusaha mendiskreditkan suatu klaim dengan menggambarkannya sebagai sesuatu yang konyol, bodoh, atau pantas ditertawakan. Alih-alih memberikan argumen tandingan berdasarkan bukti atau premis yang solid, pembicara justru menggunakan humor, ejekan, atau sarkasme untuk membentuk persepsi bahwa kesimpulan lawan tidak masuk akal.
Dalam epistemologi dan teori argumentasi, pola seperti ini dianggap cacat karena bertumpu pada efek psikologis, bukan relevansi logis.
Beberapa tanda umum munculnya Appeal to Ridicule antara lain:
Ciri-ciri ini membantu mendeteksi manipulasi yang menyaru sebagai humor.
Contoh sederhana:
“Dia bilang bumi mengelilingi matahari? Hahaha, coba dengar teori lucunya itu!”
Tertawanya tidak membuktikan apa pun secara ilmiah.
Contoh lain dalam konteks sosial:
“Mengurangi sampah plastik? Kedengarannya seperti hobi orang yang tidak punya kerjaan!”
Ejekan tersebut tidak menilai argumen tentang dampak lingkungan secara objektif.
Appeal to Ridicule merupakan kekeliruan karena:
Dalam konteks rasionalitas, argumen harus dijawab dengan argumen, bukan cemoohan.
Kekeliruan ini memiliki dampak signifikan:
Untuk menghindarinya:
Appeal to Ridicule adalah kekeliruan logis yang menolak argumen melalui ejekan, bukan melalui penalaran. Meski humor dapat menjadi alat retorika yang kuat, ia tidak memiliki nilai epistemik untuk menentukan kebenaran. Memahami kekeliruan ini membantu menjaga kualitas dialog serta menghindari manipulasi yang mengandalkan rasa malu sebagai strategi debat.
Periksa apakah suatu argumen ditanggapi dengan ejekan atau humor alih-alih alasan yang relevan.
Tidak. Humor dapat memperjelas atau meringankan suasana, tetapi tidak boleh menggantikan logika sebagai dasar pembuktian.
Karena ejekan lebih mudah memengaruhi psikologi massa dibandingkan penjelasan rasional, sehingga menjadi alat retorika yang efektif namun menyesatkan.