Dipublikasikan: 19 November 2025
Terakhir diperbarui: 19 November 2025
Dipublikasikan: 19 November 2025
Terakhir diperbarui: 19 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Amphiboly adalah bentuk sesat pikir yang muncul ketika struktur kalimat memungkinkan lebih dari satu interpretasi, sehingga suatu argumen tampak sah padahal berdiri di atas ambiguitas sintaksis. Dalam logika, masalah ini bukan hanya persoalan kebahasaan, melainkan soal bagaimana pikiran manusia membaca struktur kalimat dan menganggapnya sebagai representasi realitas. Ketika struktur tersebut kabur, maka proses penarikan kesimpulan pun ikut terganggu. Dalam konteks filsafat bahasa, amphiboly menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar medium komunikasi, melainkan juga medan di mana kesalahan penalaran dapat berkembang tanpa disadari.
Daftar Isi
Secara definisi, amphiboly adalah sesat pikir yang timbul karena ambiguitas dalam struktur kalimat. Ambiguitas ini tidak disebabkan oleh makna kata yang berubah, melainkan oleh cara kata atau frasa disusun. Kalimat seperti “Saya melihat orang di bukit dengan teropong” memiliki beberapa kemungkinan interpretasi yang sama-sama sah secara gramatikal. Namun, ketika salah satu interpretasi dijadikan dasar kesimpulan logis, sesat pikir pun terjadi. Dalam kerangka epistemologis, kekeliruan ini menyoroti keterbatasan bahasa dalam menyampaikan makna secara presisi tanpa dukungan konteks.
Ada beberapa pola yang sering memicu amphiboly. Pertama, frasa keterangan yang dapat melekat pada lebih dari satu unsur kalimat. Kedua, klausa bawahan yang posisinya kabur. Ketiga, penghilangan tanda baca yang seharusnya memisahkan informasi. Keempat, penggunaan struktur pasif yang tidak menjelaskan jelas siapa pelaku sebenarnya. Ambiguitas seperti ini sering muncul dalam bahasa sehari-hari karena manusia cenderung berbicara tanpa memperhatikan struktur formal, sehingga potensi sesat pikir pun meningkat.
Pertama, kalimat “Guru memarahi murid di kelas dengan keras” dapat bermakna guru memarahi dengan keras atau murid yang bersikap keras. Kedua, “Polisi menangkap pria dengan parang” dapat dimaknai polisi menggunakan parang atau pria tersebut yang membawa parang. Ketiga, “Kami menawarkan diskon untuk mahasiswa baru” apakah diskonnya baru atau mahasiswanya baru. Ketidakjelasan ini bukan hanya linguistik, tetapi dapat berimplikasi pada kesalahan argumen ketika seseorang menggunakan salah satu makna sebagai dasar penalaran yang tidak sah.
Menariknya, amphiboly tidak selalu terjadi tanpa sengaja. Dalam retorika politik atau iklan, kalimat ambigu sering digunakan untuk menciptakan kesan tertentu tanpa memberikan pernyataan eksplisit yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan membiarkan interpretasi terbuka, pembicara dapat menghindari komitmen terhadap makna yang jelas. Secara etis, strategi ini dipertanyakan karena menempatkan publik dalam posisi salah paham, padahal argumen tampak wajar dan tidak menimbulkan kecurigaan.
Kesalahan amphiboly menunjukkan bahwa pemahaman manusia terhadap bahasa tidak selalu linier. Pikiran sering memilih interpretasi yang paling familiar atau paling mudah, bukan yang paling tepat. Dengan demikian, amphiboly memperlihatkan bahwa bahasa dan pikiran saling terkait erat: ketidakjelasan struktur kalimat dapat menyesatkan proses pengetahuan. Dalam kajian filsafat bahasa, fenomena ini menjadi bukti bahwa makna bukan hanya ditentukan oleh kata, tetapi oleh relasi sintaksis yang mengikatnya.
Beberapa langkah dapat diambil untuk menghindari sesat pikir ini. Pertama, memperjelas struktur kalimat dengan menata ulang frasa atau menambahkan tanda baca. Kedua, memastikan klausa penjelas melekat pada unsur yang tepat. Ketiga, menghindari kalimat pasif yang tidak perlu. Keempat, mengajukan pertanyaan klarifikasi ketika menerima pernyataan ambigu. Dalam konteks akademik, presisi struktur menjadi kunci agar argumentasi tidak terjebak dalam makna ganda.
Amphiboly adalah bentuk sesat pikir yang tampak sederhana tetapi memiliki implikasi mendalam bagi penalaran manusia. Dengan memahami bagaimana ambiguitas sintaksis dapat menyesatkan argumen, kita dapat meningkatkan kejernihan komunikasi dan menghindari kesalahan logika. Kecermatan terhadap struktur kalimat bukan hanya tugas linguistik, tetapi bagian dari usaha filosofis untuk menjaga integritas pengetahuan dan kejelasan berpikir.
Amphiboly muncul dari struktur kalimat yang ambigu, sedangkan equivocation berasal dari makna kata yang berubah dalam argumen.
Tidak. Dalam retorika politik atau iklan, ambiguitas sering digunakan secara sengaja untuk mengarahkan persepsi publik.
Perhatikan apakah kalimat memiliki lebih dari satu interpretasi sintaksis yang sah dan apakah kesimpulan bergantung pada salah satu interpretasi tersebut.