Dipublikasikan: 18 November 2025
Terakhir diperbarui: 18 November 2025
Dipublikasikan: 18 November 2025
Terakhir diperbarui: 18 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Cornel West adalah filsuf, kritikus budaya, teolog, dan intelektual publik Amerika Serikat yang dikenal karena analisisnya mengenai ras, demokrasi, keadilan sosial, dan kemanusiaan dalam konteks masyarakat kapitalis modern. Ia adalah salah satu suara paling berpengaruh dalam tradisi filsafat Afrika-Amerika, pragmatisme radikal, dan demokrasi profetik.
Daftar Isi
Cornel Ronald West lahir pada 2 Juni 1953 di Tulsa, Oklahoma, dan dibesarkan di Sacramento, California. Ia menyelesaikan gelar sarjananya di Harvard University dan kemudian memperoleh gelar doktor dalam filsafat dari Princeton University—menjadikannya mahasiswa Afrika-Amerika pertama yang mendapatkan gelar PhD filsafat dari institusi tersebut.
West menjadi figur utama dalam wacana sosial Amerika melalui tulisannya yang mendalam dan gaya retorika yang kuat, memadukan filsafat, teologi, musik, sejarah, dan kritik budaya. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain Race Matters (1993) dan Democracy Matters (2004).
Ia juga dikenal karena keterlibatannya dalam aktivisme politik dan gerakan keadilan sosial, serta kolaborasinya dengan berbagai komunitas akar rumput.
Demokrasi profetik adalah gagasan West tentang demokrasi yang berorientasi pada keadilan, kasih, empati, serta keberanian moral. Ia menggabungkan etika religius, pemikiran radikal Amerika, dan tradisi Afrika-Amerika untuk menekankan bahwa demokrasi sejati menuntut kritik terhadap kekuasaan dan solidaritas dengan yang tertindas.
“Democracy is not just a system but a way of life rooted in love and justice.”
(Democracy Matters, 2004)
West mengkritik kapitalisme sebagai sistem yang meminggirkan warga kelas bawah dan menghilangkan nilai-nilai spiritual-sosial yang penting. Ia menentang neoliberalisme karena dianggap mengorbankan martabat manusia demi profit dan efisiensi ekonomi.
Bagi West, kapitalisme tidak hanya menciptakan ketimpangan material, tetapi juga kemerosotan moral.
Rasisme struktural menjadi salah satu tema utama pemikiran West. Dalam Race Matters, ia meneliti akar ketidakadilan rasial, krisis moral dalam komunitas kulit hitam, dan bagaimana supremasi kulit putih masih menembus institusi sosial.
Ia menekankan pentingnya solidaritas lintas-rasial yang berbasis pada kejujuran, empati, dan perjuangan melawan ketidakadilan.
West menggabungkan pragmatisme Amerika (khususnya William James dan John Dewey) dengan teologi Kristen profetik. Bagi West, filsafat harus terlibat langsung dengan realitas sosial dan menghasilkan transformasi nyata, bukan sekadar spekulasi akademik.
West menilai bahwa intelektual harus “berbicara kebenaran kepada kekuasaan.” Mereka memiliki tanggung jawab moral untuk berpihak pada kaum tertindas.
Ia sering mengkritik budaya pop, politik identitas yang dangkal, komersialisasi media, dan turunnya kualitas wacana publik Amerika.
West membela bentuk humanisme yang memadukan kasih sayang, solidaritas, kesetaraan, dan perhatian terhadap martabat manusia. Ia percaya bahwa perubahan sosial membutuhkan transformasi spiritual dan emosional, bukan hanya reformasi politik.
West terlibat dalam gerakan Black Lives Matter, protes ketidakadilan rasial, isu Palestina, hak pekerja, dan kampanye politik yang berfokus pada kelas pekerja. West tidak hanya seorang filsuf—ia adalah aktivis yang konsisten hadir di lapangan.
West sering menggabungkan referensi musik jazz, blues, dan hip-hop dalam analisisnya. Ia memandang musik sebagai bentuk ekspresi spiritual dan politik komunitas kulit hitam.
Ia lebih cocok disebut demokrat radikal atau humanis sosialis, yang menekankan keadilan sosial namun tidak mengikuti model negara sosialis klasik.
Karena ia menolak profesionalisme akademik yang dianggapnya menjauhkan intelektual dari rakyat kecil. Ia mengutamakan aktivisme moral dan kerja komunitas.
Ya. Ia adalah seorang Kristen profetik yang percaya pada kasih, keadilan, dan solidaritas, tetapi juga kritis terhadap institusi agama yang korup.