Dipublikasikan: 18 November 2025
Terakhir diperbarui: 18 November 2025
Dipublikasikan: 18 November 2025
Terakhir diperbarui: 18 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Peter Singer adalah filsuf moral Australia yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam etika terapan, khususnya animal ethics, effective altruism, dan kritik tajam terhadap spesiesisme. Karyanya Animal Liberation (1975) menjadi tonggak utama gerakan hak-hak hewan modern.
Daftar Isi
Peter Albert David Singer lahir pada 6 Juli 1946 di Melbourne, Australia, dari keluarga Yahudi yang melarikan diri dari Austria selama Perang Dunia II. Ia belajar di University of Melbourne dan kemudian melanjutkan studi di University of Oxford.
Singer mengajar di berbagai universitas ternama sebelum akhirnya menjadi profesor di Princeton University. Ia dikenal luas karena kemampuannya menerapkan teori utilitarianisme ke dalam isu-isu moral kontemporer, mulai dari etika makanan, kemiskinan global, aborsi, euthanasia, hingga bioetika medis.
Pemikiran Singer sering kontroversial, namun selalu berangkat dari prinsip utilitarian yang ketat: memaksimalkan kesejahteraan dan meminimalkan penderitaan.
Singer mengembangkan versi utilitarianisme preferensi, yang berfokus pada pemenuhan kepentingan serta preferensi makhluk hidup, bukan hanya kebahagiaan.
“The right action is the one that satisfies the preferences of all affected.”
(Practical Ethics, 1993, hlm. 12)
Makhluk yang dapat merasakan penderitaan memiliki nilai moral, terlepas dari spesiesnya.
Salah satu gagasan paling berpengaruh Singer adalah anti-spesiesisme—keyakinan bahwa mendiskriminasi makhluk hidup berdasarkan spesies sama tidak benarnya dengan rasisme atau seksisme.
“Speciesism… is a prejudice no more defensible than racism or sexism.”
(Animal Liberation, 1975, hlm. 6)
Argumen ini menjadi dasar moral bagi gerakan perlindungan hewan modern.
Singer adalah salah satu tokoh utama gerakan effective altruism: gagasan bahwa seseorang harus menyumbangkan sumber daya mereka ke tujuan yang paling efektif dalam mengurangi penderitaan global.
“If we can prevent something bad from happening without sacrificing anything nearly as important, we ought to do it.”
(Famine, Affluence, and Morality, 1972)
Ia mendorong orang untuk menyumbang sebagian penghasilan mereka demi memerangi kemiskinan ekstrem.
Singer juga terkenal karena pandangannya tentang:
Pandangan-pandangannya sering memicu kontroversi, karena ia menilai nilai moral berdasarkan kapasitas sadar dan preferensi makhluk tersebut.
Menurut Singer, tidak semua makhluk memiliki status moral yang sama—status moral bergantung pada kapasitas untuk merasakan dan memiliki preferensi.
Singer berpendapat bahwa kemiskinan ekstrem adalah masalah moral yang mendesak, dan setiap individu mampu mengurangi penderitaan wajib melakukannya.
Ia memberikan argumen terkenal tentang anak yang tenggelam—analogi bahwa kita wajib menolong jika dapat melakukannya dengan biaya yang relatif kecil.
Pemikiran Singer mendorong gelombang besar aktivisme hewan. Ia sering dianggap sebagai bapak filsafat pembebasan hewan, meskipun ia sendiri lebih menekankan argumen moral daripada aktivisme politik.
Ide Singer digunakan dalam debat global mengenai:
Pendekatannya yang sistematis—meskipun kontroversial—memberikan kerangka yang kuat dalam etika kebijakan publik.
Ia bukan vegan ketat dalam pengertian aktivis, tetapi ia secara moral menganjurkan pola makan berbasis tanaman dan menghindari produk hewani dari industri yang menyebabkan penderitaan.
Karena ia menilai nilai moral makhluk berdasarkan kapasitas kognitif, sehingga beberapa pandangannya menantang premis tradisional tentang nilai intrinsik kehidupan manusia.
Ia mengadopsi versi utilitarianisme preferensi, bukan utilitarianisme hedonis klasik seperti Bentham.