Dipublikasikan: 18 November 2025
Terakhir diperbarui: 18 November 2025
Dipublikasikan: 18 November 2025
Terakhir diperbarui: 18 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Michael Sandel adalah filsuf politik Amerika yang terkenal karena kritiknya terhadap liberalisme pasar, komersialisasi kehidupan publik, dan hilangnya orientasi moral dalam demokrasi modern. Ia adalah salah satu profesor paling populer di Harvard, dengan kuliahnya Justice yang diikuti jutaan orang secara global.
Daftar Isi
Michael J. Sandel lahir pada 5 Maret 1953 di Minneapolis, Minnesota. Ia menempuh pendidikan di Brandeis University, lalu menjadi Rhodes Scholar di Oxford di bawah bimbingan Charles Taylor dan terpengaruh oleh tradisi komunitarian.
Sejak tahun 1980-an, Sandel mengajar di Harvard University dan menjadi salah satu tokoh utama dalam perdebatan besar antara liberalisme vs komunitarianisme. Gaya penelitiannya menggabungkan filsafat moral, kebijakan publik, dan analisis etika populer sehingga tulisannya dapat diakses oleh banyak kalangan.
Sandel menantang gagasan bahwa politik dapat dipisahkan dari moralitas, dan berpandangan bahwa masyarakat membutuhkan diskursus moral yang sehat agar demokrasi dapat berfungsi.
Sandel menolak klaim liberalisme—khususnya versi Rawlsian—bahwa negara harus bersikap netral terhadap konsep the good. Baginya, politik tanpa nilai moral tidak mungkin dilakukan.
A just society requires a public engagement with what is the right way to live.
(Justice, 2009, hlm. 19)
Negara, menurut Sandel, tidak bisa menghindari pertanyaan moral dan seharusnya tidak menghindarinya.
Dalam karya terkenalnya What Money Can’t Buy (2012), Sandel mengkritik bagaimana logika pasar merembes ke ranah kehidupan yang seharusnya tidak dikomodifikasi.
Menurutnya, masalah utama adalah:
The more things money can buy, the more inequality matters.
(What Money Can’t Buy, 2012, hlm. 8)
Pasar tidak netral—ia membawa nilai, dan nilai itu sering kali merusak tatanan sosial.
Sandel memandang bahwa individu tidak dapat dipahami terlepas dari komunitas, tradisi, dan nilai bersama.
Ia menekankan pentingnya:
We cannot be fully human without being situated in a community that shapes our identity.
(Liberalism and the Limits of Justice, 1982, hlm. 179)
Sandel menginginkan ruang publik yang deliberatif, di mana warga negara secara terbuka memperdebatkan apa yang mereka anggap baik, benar, dan adil. Demokrasi menurutnya bersifat moral dan dialogis, bukan hanya prosedural.
Dalam bukunya The Tyranny of Merit (2020), Sandel menunjukkan bahwa meritokrasi dapat bersifat kejam karena menimbulkan:
The meritocratic ideal leads to resentment and moral injury.
(The Tyranny of Merit, 2020, hlm. 12)
Ia menyarankan pentingnya kerendahan moral dan pengakuan bahwa kesuksesan selalu hasil dari keberuntungan sosial.
Sandel sering dilihat sebagai penantang utama liberalisme Rawlsian.
Ia mempromosikan model politik yang lebih dekat dengan:
Pemikirannya membentuk wacana modern mengenai etika publik, keadilan distributif, dan peran moral dalam kebijakan.
Sandel menulis dan berbicara tentang isu seperti:
Argumennya sering digunakan dalam diskusi kebijakan publik di berbagai negara.
Tidak. Ia tidak menolak pasar, tetapi menolak dominasi pasar atas moralitas dan kehidupan publik.
Ia tidak secara eksplisit mengklaim diri demikian, tetapi banyak argumennya sejalan dengan tradisi komunitarian.
Karena Sandel memberikan contoh konkret, dialog langsung dengan murid, dan menghubungkan filsafat abstrak dengan persoalan sehari-hari.