Dipublikasikan: 5 November 2025
Terakhir diperbarui: 5 November 2025
Dipublikasikan: 5 November 2025
Terakhir diperbarui: 5 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Voluntarisme adalah ideologi dan pandangan filosofis yang menempatkan kehendak (voluntas) sebagai prinsip utama dalam memahami tindakan manusia, moralitas, dan realitas sosial. Dalam voluntarisme, kehendak dianggap lebih fundamental daripada akal atau rasio. Artinya, keputusan manusia dan arah sejarah lebih ditentukan oleh dorongan kehendak bebas daripada oleh nalar atau hukum rasional. Ideologi ini memiliki akar dalam filsafat skolastik, psikologi modern, hingga teori politik tentang kebebasan individu dan partisipasi sukarela.
Daftar Isi
Voluntarisme secara etimologis berasal dari bahasa Latin voluntas yang berarti “kehendak.” Dalam konteks filsafat dan ideologi, istilah ini merujuk pada keyakinan bahwa kehendak adalah kekuatan dasar yang menggerakkan realitas, moralitas, dan tindakan manusia.
“The world is my will.”
— Arthur Schopenhauer, The World as Will and Representation (1818), p. 25
Voluntarisme memandang bahwa tindakan manusia tidak semata-mata hasil pertimbangan rasional, tetapi terutama karena dorongan internal yang bersifat kehendak — baik kehendak pribadi maupun kolektif.
Bagi Schopenhauer, kehendak adalah esensi terdalam dari segala sesuatu, bahkan lebih mendasar daripada kesadaran atau intelek.
“The will is the thing-in-itself, the inner essence of everything.”
— Arthur Schopenhauer, The World as Will and Representation (1818), p. 31
Kehidupan dunia adalah manifestasi dari dorongan universal untuk hidup, berkehendak, dan bertahan — bukan hasil rancangan rasional.
Nietzsche menafsirkan voluntarisme dalam kerangka eksistensial. Kehendak tidak sekadar bertahan hidup, tetapi berupaya menegaskan dan mengatasi diri sendiri.
“My philosophy aims at the revaluation of all values through the will to power.”
— Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil (1886), p. 203
Kehendak menjadi motor kreativitas dan kebebasan manusia untuk mencipta nilai dan makna hidup tanpa bergantung pada sistem moral eksternal.
Dalam konteks etika, voluntarisme menekankan bahwa tanggung jawab moral bersumber dari kebebasan kehendak, bukan dari kepatuhan terhadap hukum eksternal.
“Freedom is the self-determination of the will.”
— Johannes Duns Scotus, Ordinatio (1300), Book II, p. 45
Moralitas muncul ketika manusia secara sadar memilih tindakannya, bukan ketika ia hanya mengikuti aturan tanpa refleksi.
Dalam ranah politik, voluntarisme berkembang menjadi keyakinan bahwa hubungan sosial harus berdasarkan kesukarelaan dan bukan paksaan.
“All legitimate authority must rest on voluntary consent.”
— William Godwin, Enquiry Concerning Political Justice (1793), p. 62
Prinsip ini kemudian memengaruhi teori politik libertarian dan anarkis yang menolak otoritas negara yang bersifat memaksa.
Tidak sepenuhnya. Voluntarisme tidak menolak akal, tetapi menempatkannya di bawah kehendak. Rasio berfungsi sebagai alat untuk melayani arah yang ditentukan oleh kehendak.
Schopenhauer melihat kehendak sebagai kekuatan buta yang membawa penderitaan, sedangkan Nietzsche menafsirkan kehendak sebagai dorongan kreatif untuk mengatasi keterbatasan dan menegaskan kehidupan.
Voluntarisme politik menekankan pentingnya partisipasi sukarela, otonomi individu, dan legitimasi kekuasaan yang didasarkan pada persetujuan bebas warga.