Dipublikasikan: 5 November 2025
Terakhir diperbarui: 5 November 2025
Dipublikasikan: 5 November 2025
Terakhir diperbarui: 5 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Transhumanisme adalah ideologi dan gerakan intelektual yang berfokus pada penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kemampuan manusia — baik fisik, intelektual, maupun psikologis — dengan tujuan melampaui batas-batas biologis yang ada. Penganut transhumanisme meyakini bahwa evolusi manusia tidak berhenti pada tahap biologis, melainkan dapat dilanjutkan melalui intervensi teknologi seperti kecerdasan buatan, rekayasa genetik, nanoteknologi, dan integrasi manusia–mesin. Ideologi ini memunculkan perdebatan etis dan filosofis mengenai hakikat manusia, kesadaran, serta masa depan peradaban.
Daftar Isi
Transhumanisme dapat didefinisikan sebagai pandangan filosofis dan ideologis yang menekankan bahwa manusia dapat dan seharusnya menggunakan teknologi untuk memperluas potensi dan melampaui keterbatasan biologisnya.
“Transhumanism is the belief that we can and should use technology to overcome our biological limitations and enhance human capacities.”
— Nick Bostrom, In Defense of Posthuman Dignity (2005), p. 3
Dalam konteks ini, transhumanisme tidak hanya berurusan dengan kemajuan teknologi, tetapi juga dengan nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan individu, dan tanggung jawab etis terhadap masa depan evolusi manusia.
Transhumanisme menegaskan bahwa manusia dapat ditingkatkan secara biologis, kognitif, dan emosional melalui teknologi.
“Human enhancement technologies enable us to transcend our natural limitations and realize our highest potential.”
— Max More, Transhumanist Values (1999), p. 2
Peningkatan ini dianggap sebagai kelanjutan alami dari evolusi manusia, bukan penyimpangan darinya.
Salah satu gagasan sentral transhumanisme adalah singularity — masa ketika kecerdasan buatan mencapai atau melampaui kecerdasan manusia, menciptakan lompatan eksponensial dalam perkembangan teknologi.
“The singularity will represent the culmination of the merger between human and machine intelligence.”
— Ray Kurzweil, The Singularity Is Near (2005), p. 9
Momen ini diyakini akan mengubah cara manusia memahami eksistensi dan kesadaran.
Transhumanis berpendapat bahwa kematian biologis bukanlah keniscayaan, melainkan tantangan ilmiah yang dapat diatasi melalui teknologi seperti mind uploading atau rekayasa genetika.
“Death is not destiny; it is a technical problem to be solved.”
— Natasha Vita-More, Designing Human Futures (2010), p. 15
Gagasan ini menimbulkan perdebatan etis dan metafisik mengenai nilai kehidupan dan makna identitas manusia.
Transhumanisme menyoroti pentingnya etika teknologi, yakni bagaimana memastikan kemajuan teknologi tidak menciptakan ketimpangan atau meniadakan nilai-nilai kemanusiaan.
“We must ensure that our pursuit of posthumanity enhances, rather than diminishes, what is valuable about being human.”
— Nick Bostrom, A History of Transhumanist Thought (2005), p. 17
Posthumanisme dalam konteks ini berarti kondisi di mana manusia berevolusi menjadi bentuk kehidupan baru yang melampaui keterbatasan biologis.
Tidak sepenuhnya. Transhumanisme justru berupaya memperluas kemampuan manusia dengan tetap menghormati nilai-nilai kemanusiaan, meski beberapa kalangan humanis tradisional menganggapnya sebagai ancaman terhadap identitas manusia.
Salah satu tujuan utamanya adalah memperpanjang umur dan meningkatkan kualitas hidup, tetapi “keabadian” lebih dipahami sebagai keberlanjutan kesadaran melalui teknologi, bukan hidup tanpa akhir secara biologis.
Transhumanisme berfokus pada proses peningkatan manusia, sedangkan posthumanisme menggambarkan kondisi setelah manusia mengalami transformasi total melalui teknologi.