Dipublikasikan: 3 November 2025
Terakhir diperbarui: 3 November 2025
Dipublikasikan: 3 November 2025
Terakhir diperbarui: 3 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Sosialisme Pasar adalah ideologi ekonomi yang berupaya menggabungkan prinsip sosialisme dengan mekanisme pasar sebagai alat alokasi sumber daya. Sistem ini bertujuan menciptakan keseimbangan antara efisiensi ekonomi yang dihasilkan pasar dan keadilan sosial yang menjadi inti sosialisme. Sosialisme Pasar muncul sebagai reaksi terhadap kegagalan sistem ekonomi terpusat yang kaku, sekaligus sebagai upaya mempertahankan prinsip sosialisme di tengah kebutuhan efisiensi ekonomi modern.
Daftar Isi
Sosialisme Pasar dapat didefinisikan sebagai sistem ekonomi di mana alat produksi dimiliki secara sosial—baik oleh negara, koperasi, atau masyarakat—tetapi alokasi sumber daya dan distribusi barang diatur melalui mekanisme pasar.
“Market socialism seeks to achieve the allocative efficiency of markets while retaining social ownership of productive assets.”
— Alec Nove, The Economics of Feasible Socialism (1983), p. 45
Tujuannya adalah untuk menciptakan ekonomi yang efisien tanpa mengorbankan nilai-nilai sosial seperti pemerataan, solidaritas, dan kesejahteraan kolektif.
Meskipun menggunakan pasar, sosialisme pasar tetap menolak kepemilikan pribadi atas alat produksi dalam skala besar. Produksi dikelola oleh negara, koperasi, atau komunitas.
“Public ownership does not exclude the market; it redefines its purpose.”
— Oskar Lange, On the Economic Theory of Socialism (1936), p. 72
Kepemilikan sosial memastikan hasil produksi tidak dikuasai segelintir orang, tetapi digunakan untuk kepentingan publik.
Pasar dalam sistem ini dipandang sebagai alat koordinasi ekonomi, bukan sebagai sistem nilai. Harga tetap digunakan untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan, namun diarahkan demi kesejahteraan sosial, bukan akumulasi keuntungan pribadi.
“The market can serve socialism if it is subordinated to social objectives.”
— Alec Nove, The Economics of Feasible Socialism (1983), p. 64
Hal ini menciptakan sistem yang fleksibel dan efisien, namun tetap berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Sosialisme Pasar menekankan partisipasi aktif pekerja dalam manajemen dan pengambilan keputusan ekonomi, sehingga setiap individu memiliki kendali terhadap hasil kerjanya.
“Economic democracy is the heart of market socialism; it replaces capital’s rule with workers’ participation.”
— Branko Horvat, The Political Economy of Socialism (1982), p. 98
Partisipasi ini dianggap mampu mendorong produktivitas sekaligus memperkuat solidaritas sosial.
Sosialisme Pasar berusaha mencapai efisiensi ekonomi tanpa mengorbankan pemerataan dan kesejahteraan sosial.
“Efficiency must not come at the expense of equity; socialism must reconcile both.”
— Alec Nove, The Economics of Feasible Socialism (1983), p. 115
Dengan memadukan prinsip pasar dan sosialisme, sistem ini menghindari birokrasi berlebihan sekaligus ketimpangan ekstrem.
Berbeda dari sosialisme terpusat, sosialisme pasar menekankan desentralisasi pengambilan keputusan ekonomi, di mana unit-unit produksi memiliki otonomi dalam pengelolaan sumber daya mereka.
“Decentralization is the antidote to bureaucratic stagnation in socialist planning.”
— Oskar Lange, On the Economic Theory of Socialism (1936), p. 88
Desentralisasi ini memungkinkan adaptasi terhadap perubahan pasar tanpa kehilangan nilai-nilai sosialisme.
Sosialisme pasar menggunakan mekanisme pasar, tetapi alat produksi dimiliki secara sosial. Kapitalisme menempatkan kepemilikan pribadi dan keuntungan sebagai pusat sistem ekonomi.
Ya. Negara tetap berperan sebagai pengatur utama untuk memastikan pasar tidak menimbulkan ketimpangan dan tetap berorientasi pada kepentingan sosial.
Model ini pernah diterapkan di Yugoslavia pada masa Tito, dan beberapa unsur prinsipnya juga dapat ditemukan dalam reformasi ekonomi Tiongkok era Deng Xiaoping.