Dipublikasikan: 3 November 2025
Terakhir diperbarui: 3 November 2025
Dipublikasikan: 3 November 2025
Terakhir diperbarui: 3 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Revolusionisme merupakan ideologi dan gerakan yang menekankan perlunya perubahan sosial, politik, dan ekonomi secara cepat, menyeluruh, serta mendasar melalui revolusi. Pandangan ini lahir dari keyakinan bahwa sistem yang ada sudah terlalu rusak untuk diperbaiki melalui reformasi bertahap, sehingga hanya tindakan revolusioner yang dapat menciptakan tatanan baru yang lebih adil dan bebas.
Daftar Isi
Secara konseptual, revolusionisme adalah keyakinan bahwa perubahan besar dalam masyarakat hanya dapat dicapai melalui revolusi, bukan melalui kompromi atau reformasi. Ideologi ini menolak cara-cara gradual yang dianggap memperlambat kemajuan dan melestarikan ketidakadilan.
“Revolutions are the locomotives of history.”
— Karl Marx, The Class Struggles in France (1850), p. 13
Dalam pandangan revolusioner, perubahan sejati memerlukan penggulingan struktur kekuasaan lama — baik itu sistem ekonomi, politik, maupun nilai moral — agar lahir tatanan sosial yang baru dan lebih adil.
Revolusionisme menganggap perubahan sosial yang mendalam tidak bisa dicapai secara bertahap. Ia menuntut perombakan total terhadap sistem politik dan ekonomi yang dianggap menindas.
“The old world is dying, and the new world struggles to be born.”
— Antonio Gramsci, Prison Notebooks (1930), p. 276
Revolusi dalam pandangan ini bukan sekadar pergantian penguasa, melainkan transformasi struktur sosial secara menyeluruh — dari basis ekonomi hingga kesadaran rakyat.
Bagi kaum revolusioner, konflik adalah motor sejarah. Masyarakat bergerak maju melalui perjuangan antara kelas yang menindas dan kelas yang tertindas.
“The history of all hitherto existing society is the history of class struggles.”
— Karl Marx & Friedrich Engels, The Communist Manifesto (1848), p. 1
Revolusionisme memandang ketegangan sosial bukan sebagai hal yang harus dihindari, tetapi sebagai energi kreatif yang diperlukan untuk menghancurkan tatanan lama.
Kekuasaan, dalam perspektif revolusionisme, harus direbut untuk diubah menjadi alat pembebasan. Pengambilalihan kekuasaan bukanlah tujuan akhir, tetapi sarana untuk menciptakan sistem baru yang berkeadilan.
“Power is not a means, it is an end; one does not establish a dictatorship to safeguard a revolution, one makes the revolution to establish a dictatorship.”
— George Orwell, Nineteen Eighty-Four (1949), p. 210
Pandangan ini sering kali menimbulkan paradoks — bahwa dalam memperjuangkan kebebasan, revolusi dapat melahirkan bentuk kekuasaan baru yang menindas jika tidak diawasi secara moral dan politik.
Revolusionisme menolak birokrasi dan prosedur yang dianggap memperlambat perjuangan. Ia menekankan tindakan langsung (direct action), seperti demonstrasi, pemberontakan, atau perang rakyat.
“It is not enough to interpret the world; the point is to change it.”
— Karl Marx, Theses on Feuerbach (1845), p. 11
Tindakan revolusioner bukan hanya alat politik, tetapi juga sarana pendidikan moral bagi rakyat untuk merebut kesadaran mereka dari dominasi ideologis.
Kaum revolusioner percaya bahwa perubahan sejati hanya dapat tercapai jika rakyat memiliki kesadaran kolektif terhadap penindasan yang mereka alami.
“The revolution is not an apple that falls when it is ripe. You have to make it fall.”
— Che Guevara, Reminiscences of the Cuban Revolutionary War (1961), p. 27
Kesadaran revolusioner berarti memahami bahwa kebebasan dan keadilan tidak diberikan, melainkan diperjuangkan melalui tindakan bersama yang terorganisir.
Tidak selalu, meskipun banyak gerakan revolusioner menggunakan kekerasan. Beberapa bentuk revolusionisme bersifat kultural atau moral, seperti revolusi kesadaran dan pendidikan.
Radikalisme menuntut perubahan hingga ke akar, tetapi bisa dicapai melalui reformasi bertahap. Revolusionisme menuntut perubahan cepat dan menyeluruh, sering kali dengan menggulingkan tatanan yang ada.
Karena banyak gerakan sosialisme, khususnya yang dipengaruhi oleh Marx dan Lenin, menganggap revolusi sebagai satu-satunya jalan menuju masyarakat tanpa kelas.