Dipublikasikan: 1 November 2025
Terakhir diperbarui: 1 November 2025
Dipublikasikan: 1 November 2025
Terakhir diperbarui: 1 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Neokonservatisme adalah ideologi politik yang menekankan peran aktif negara dalam membela nilai-nilai demokrasi dan kepentingan nasional di tingkat global, dengan fokus pada kebijakan luar negeri yang kuat, intervensi militer bila diperlukan, dan promosi nilai-nilai liberal-demokratis. Ideologi ini lahir di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-20 sebagai reaksi terhadap kebijakan liberal domestik dan kebijakan luar negeri yang dianggap terlalu pasif terhadap komunisme. Neokonservatisme menekankan keseimbangan antara kebebasan individu dalam negeri dan kewajiban moral negara di pentas internasional.
Daftar Isi
Neokonservatisme dapat didefinisikan sebagai pendekatan politik yang menekankan pentingnya intervensi aktif negara dalam urusan global untuk melindungi kepentingan nasional dan mempromosikan nilai-nilai demokrasi, sambil menjaga kebijakan domestik yang mendukung kebebasan individu dan pasar.
“The purpose of American power is to spread liberty and prevent tyranny, even beyond our borders.”
— Irving Kristol, Neoconservatism: The Autobiography of an Idea (1995), p. 34
Ideologi ini memandang kekuatan militer dan diplomasi sebagai instrumen penting untuk menjaga stabilitas global dan keamanan nasional.
Neokonservatisme menekankan bahwa negara harus mengambil peran sentral dalam membela kepentingan dan nilai-nilai nasional di kancah internasional.
“It is the duty of a great nation to defend freedom wherever it is threatened.”
— Norman Podhoretz, Making It (1993), p. 88
Kebijakan ini dapat melibatkan diplomasi tegas, aliansi strategis, dan penggunaan kekuatan militer bila diperlukan.
Ideologi ini menekankan bahwa negara berperan dalam menyebarkan prinsip demokrasi, hak asasi manusia, dan pemerintahan konstitusional ke negara-negara lain.
“Democracy is not just a domestic virtue; it is a global imperative.”
— Irving Kristol, Neoconservatism: The Autobiography of an Idea (1995), p. 42
Promosi demokrasi dilakukan melalui dukungan politik, bantuan internasional, hingga intervensi militer jika dianggap sah.
Neokonservatisme menekankan perlindungan hak-hak individu domestik sambil menekankan kewajiban moral negara di panggung dunia.
“A nation must protect the liberties of its citizens while asserting moral leadership abroad.”
— Paul Wolfowitz, The Future of American Power (2004), p. 67
Pendekatan ini memadukan kebijakan domestik liberal dengan strategi luar negeri yang aktif.
Neokonservatisme menekankan kemampuan militer sebagai instrumen untuk menegakkan kepentingan nasional dan menjaga perdamaian global.
“Military strength underpins diplomatic influence and deters aggression.”
— William Kristol, The Neocon Reader (2004), p. 23
Strategi ini mendorong penggunaan kekuatan secara selektif untuk mencegah konflik lebih besar dan memastikan stabilitas.
Neokonservatisme percaya bahwa negara besar memiliki tanggung jawab moral untuk memimpin dan membentuk tatanan dunia berdasarkan nilai-nilai demokratis.
“Power entails responsibility; leadership is necessary to guide the world toward liberty.”
— Irving Kristol, Neoconservatism: The Autobiography of an Idea (1995), p. 55
Kepemimpinan global dianggap esensial untuk mencegah kekacauan, totalitarianisme, atau dominasi kekuatan otoriter.
Neokonservatisme menekankan intervensi global dan penyebaran demokrasi melalui kekuatan negara, sedangkan konservatisme tradisional cenderung fokus pada nilai domestik, stabilitas sosial, dan kebijakan luar negeri yang lebih hati-hati.
Tidak selalu; neokonservatisme menekankan penggunaan kekuatan militer secara selektif untuk melindungi kepentingan nasional dan mendorong nilai demokrasi, bukan perang agresif tanpa alasan strategis.
Neokonservatisme tetap relevan sebagai kerangka kebijakan luar negeri untuk negara yang ingin mempertahankan kepentingan strategis, mempromosikan demokrasi, dan berperan dalam tata dunia yang kompetitif.