Dipublikasikan: 1 November 2025
Terakhir diperbarui: 1 November 2025
Dipublikasikan: 1 November 2025
Terakhir diperbarui: 1 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Marxisme-Leninisme-Maoisme merupakan ideologi politik yang menggabungkan prinsip Marxisme, strategi revolusi Lenin, dan adaptasi Maoisme untuk kondisi agraris. Ideologi ini menekankan peran petani dan rakyat pedesaan sebagai kekuatan revolusi, kepemimpinan Partai Komunis, perang gerilya, dan pembangunan negara sosialis sebagai tahap transisi menuju komunisme. Marxisme-Leninisme-Maoisme menjadi fondasi ideologi bagi gerakan komunis revolusioner di berbagai negara agraris pada abad ke-20.
Daftar Isi
Marxisme-Leninisme-Maoisme dapat didefinisikan sebagai adaptasi Marxisme-Leninisme dengan fokus pada revolusi agraris, mobilisasi massa, dan strategi gerilya untuk mencapai masyarakat tanpa kelas.
“The peasants are the sea in which the revolutionary army swims; without them, revolution cannot succeed.”
— Mao Zedong, Report on an Investigation of the Peasant Movement in Hunan (1927), p. 21
Ideologi ini menekankan bahwa revolusi harus bersifat rakyat, berkelanjutan, dan dipimpin oleh Partai Komunis untuk mencapai transformasi sosial dan ekonomi.
Marxisme-Leninisme-Maoisme menekankan peran petani sebagai kekuatan utama revolusi di negara agraris, berbeda dari Marxisme klasik yang menekankan proletariat perkotaan.
“The revolution cannot succeed without the active participation of the rural masses; they are the main force.”
— Mao Zedong, On Guerrilla Warfare (1937), p. 95
Mobilisasi dilakukan melalui pendidikan politik, organisasi desa, dan partisipasi langsung dalam perjuangan sosial.
Ideologi ini menekankan perang rakyat yang fleksibel, menggunakan pengetahuan lokal dan dukungan massa untuk menghadapi musuh yang lebih kuat.
“The guerrilla must move amongst the people as a fish swims in the sea.”
— Mao Zedong, On Guerrilla Warfare (1937), p. 101
Perang gerilya juga berfungsi sebagai sarana membangun kesadaran politik rakyat.
Marxisme-Leninisme-Maoisme menekankan revolusi yang berkelanjutan untuk mencegah kebangkitan kelas penguasa dan memastikan pembangunan sosialisme tetap sesuai prinsip rakyat.
“Revolution must be continuous to prevent the restoration of bourgeois elements in society.”
— Mao Zedong, Quotations from Chairman Mao Tse-tung (1964), p. 55
Revolusi berkelanjutan ini memastikan transformasi sosial dan politik berlangsung sampai tercapai masyarakat tanpa kelas.
Partai Komunis menjadi pemimpin revolusi, pengatur strategi, dan penjaga ideologi, dengan disiplin ketat dan organisasi terpusat.
“The Party commands the gun, and must lead the people in all revolutionary tasks.”
— Mao Zedong, Selected Works of Mao Tse-tung, Vol. II (1940), p. 33
Partai memastikan kemenangan revolusi melalui kepemimpinan terpusat dan strategi terorganisir.
Marxisme-Leninisme-Maoisme menekankan transformasi sosial-ekonomi melalui kolektivisasi, reformasi tanah, dan industrialisasi berbasis desa, untuk membangun fondasi negara sosialis.
“Socialism cannot succeed without transforming agriculture and developing industry in the countryside.”
— Mao Zedong, Selected Works of Mao Tse-tung, Vol. III (1950), p. 72
Transformasi ini menekankan kemandirian lokal, produksi kolektif, dan penghapusan ketimpangan kelas.
Marxisme-Leninisme-Maoisme menekankan revolusi agraris, mobilisasi petani, perang gerilya, dan revolusi berkelanjutan, sedangkan Marxisme-Leninisme lebih menekankan proletariat perkotaan dan industrialisasi negara.
Ya, revolusi bersenjata dan strategi gerilya dianggap penting, tetapi selalu dikombinasikan dengan mobilisasi massa dan pendidikan politik.
Prinsip mobilisasi masyarakat, pembangunan berbasis desa, dan solidaritas kelas tetap relevan untuk analisis sosial-politik, meski praktik revolusi bersenjata modern jarang digunakan.