Dipublikasikan: 1 November 2025
Terakhir diperbarui: 1 November 2025
Dipublikasikan: 1 November 2025
Terakhir diperbarui: 1 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Marxisme-Leninisme merupakan ideologi politik yang menggabungkan prinsip Marxisme klasik dengan strategi revolusi dan organisasi negara yang dikembangkan oleh Vladimir Lenin. Ideologi ini menekankan peran partai avant-garde sebagai pemimpin kelas pekerja, perlunya revolusi proletariat, dan pembangunan negara sosialis sebagai tahap transisi menuju masyarakat tanpa kelas. Marxisme-Leninisme menjadi fondasi bagi gerakan komunis di abad ke-20 dan menekankan sentralisasi kekuasaan, mobilisasi massa, dan industrialisasi negara sosialis.
Daftar Isi
Marxisme-Leninisme dapat didefinisikan sebagai adaptasi Marxisme untuk kondisi praktis revolusi, menekankan kepemimpinan partai revolusioner, demokrasi terpusat, dan pembangunan negara sosialis sebagai sarana menuju komunisme.
“Without revolutionary theory there can be no revolutionary movement.”
— Vladimir I. Lenin, What Is To Be Done? (1902), p. 15
Ideologi ini menekankan bahwa kesadaran kelas pekerja perlu dibimbing oleh partai terorganisir agar revolusi berhasil dan negara sosialis dapat didirikan.
Marxisme-Leninisme menekankan bahwa kelas pekerja membutuhkan partai revolusioner untuk membimbing perjuangan dan meningkatkan kesadaran kelas.
“The task of the revolutionary party is to raise the working class from trade-union consciousness to revolutionary consciousness.”
— Lenin, What Is To Be Done? (1902), p. 19
Partai bertugas merencanakan strategi revolusi, mengorganisasi massa, dan menegakkan disiplin ideologis.
Ideologi ini menganut diskusi internal demokratis yang diikuti dengan disiplin penuh dalam pelaksanaan keputusan partai.
“Freedom of discussion, unity in action.”
— Lenin, The State and Revolution (1917), p. 89
Demokrasi terpusat memastikan partai tetap disiplin dan efektif dalam menghadapi oposisi eksternal.
Marxisme-Leninisme menekankan revolusi proletariat untuk menggulingkan kapitalisme dan membangun negara proletariat sebagai alat transisi menuju komunisme.
“The dictatorship of the proletariat is a necessary phase in the transition from capitalism to communism.”
— Lenin, The State and Revolution (1917), p. 92
Negara ini bersifat sementara dan digunakan untuk menekan resistensi kelas lama serta mengatur ekonomi sosialis.
Marxisme-Leninisme menekankan solidaritas kelas pekerja di seluruh dunia, karena kapitalisme merupakan sistem global.
“Proletarian revolution is impossible in a single country alone; it requires the solidarity of the working class worldwide.”
— Lenin, Imperialism, the Highest Stage of Capitalism (1917), p. 42
Revolusi nasional harus dihubungkan dengan gerakan proletariat internasional untuk memastikan keberhasilan jangka panjang.
Marxisme-Leninisme menekankan pembangunan ekonomi terpusat dan industrialisasi cepat sebagai fondasi negara sosialis modern.
“Socialism cannot succeed without the industrial development of the country and the organization of the economy on a planned basis.”
— Joseph Stalin, Foundations of Leninism (1936), p. 101
Strategi ini menekankan efisiensi, kemandirian ekonomi, dan penghapusan ketimpangan kelas.
Marxisme-Leninisme menekankan partai avant-garde, demokrasi terpusat, dan strategi revolusi yang disesuaikan dengan kondisi praktis, sedangkan Marxisme klasik lebih menekankan kesadaran kelas proletariat secara spontan dan revolusi industri perkotaan.
Secara teori, Marxisme-Leninisme menekankan sentralisasi untuk memastikan keberhasilan revolusi, tetapi praktik sejarah menunjukkan munculnya otoritarianisme akibat kondisi politik dan perang.
Prinsip seperti kepemimpinan partai, disiplin organisasi, dan solidaritas kelas tetap digunakan sebagai kerangka teori politik dan analisis sosial meski praktik revolusi bersenjata lebih jarang.