Dipublikasikan: 1 November 2025
Terakhir diperbarui: 1 November 2025
Dipublikasikan: 1 November 2025
Terakhir diperbarui: 1 November 2025
Raymond Kelvin Nando — Marxisme merupakan ideologi politik, ekonomi, dan sosial yang dikembangkan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, yang menekankan perjuangan kelas sebagai pendorong sejarah dan transformasi sosial. Marxisme menyoroti konflik antara kelas pekerja (proletariat) dan kelas penguasa (borjuasi), serta mendorong penghapusan kepemilikan pribadi atas alat produksi untuk mencapai masyarakat tanpa kelas. Ideologi ini menjadi dasar teori sosial, ekonomi, dan politik yang menekankan perubahan struktural melalui revolusi atau transformasi sosial.
Daftar Isi
Marxisme dapat didefinisikan sebagai teori yang menekankan konflik kelas, kepemilikan kolektif atas alat produksi, dan pembangunan masyarakat tanpa kelas sebagai tujuan akhir sejarah manusia.
“The history of all hitherto existing society is the history of class struggles.”
— Karl Marx & Friedrich Engels, The Communist Manifesto (1848), p. 14
Marxisme memandang sejarah sebagai proses dialektis di mana perubahan sosial dan politik terjadi melalui perjuangan antara kelas yang berlawanan.
Marxisme menekankan bahwa perubahan sosial dan sejarah manusia ditentukan oleh kondisi material dan ekonomi, bukan oleh ide atau moral semata.
“The mode of production of material life conditions the social, political, and intellectual life process in general.”
— Karl Marx, A Contribution to the Critique of Political Economy (1859), p. 21
Ini menekankan bahwa struktur ekonomi mendasari semua institusi sosial dan politik.
Marxisme menekankan bahwa sejarah adalah konflik berkelanjutan antara kelas yang berlawanan, yang mendorong transformasi sosial.
“Class struggle necessarily leads to the overthrow of the ruling class.”
— Karl Marx & Friedrich Engels, The Communist Manifesto (1848), p. 35
Proletariat harus menggulingkan borjuasi untuk menghapus eksploitasi dan mencapai masyarakat egaliter.
Marxisme menekankan penghapusan kepemilikan pribadi atas alat produksi, digantikan dengan kepemilikan kolektif untuk menghapus eksploitasi dan mencapai keadilan sosial.
“Abolition of private property is the central task of the proletariat in its revolution.”
— Karl Marx, The Communist Manifesto (1848), p. 42
Distribusi kekayaan dan pengelolaan sumber daya harus berdasarkan kebutuhan sosial, bukan keuntungan individu.
Marxisme menekankan negara sebagai alat kelas penguasa, yang harus digantikan oleh negara proletariat dalam fase transisi menuju masyarakat tanpa kelas.
“The state is a committee for managing the common affairs of the bourgeoisie; it must be replaced by the dictatorship of the proletariat.”
— Karl Marx, Critique of the Gotha Program (1875), p. 19
Negara proletariat bersifat sementara dan berfungsi untuk menekan resistensi kelas lama sambil membangun ekonomi sosialis.
Marxisme menekankan persatuan kelas pekerja secara internasional, karena kapitalisme adalah sistem global yang menindas pekerja di seluruh dunia.
“Workers of the world unite; you have nothing to lose but your chains.”
— Karl Marx & Friedrich Engels, The Communist Manifesto (1848), p. 66
Solidaritas internasional dianggap penting untuk keberhasilan revolusi dan pembangunan masyarakat tanpa kelas.
Marxisme menekankan analisis historis, perjuangan kelas, dan transformasi struktural melalui revolusi, sedangkan sosialisme lebih fokus pada redistribusi ekonomi dan kesejahteraan sosial tanpa selalu menekankan revolusi.
Secara teori, Marxisme menekankan perubahan struktural melalui perjuangan kelas, yang bisa melalui revolusi atau reformasi, tergantung kondisi sosial dan politik.
Marxisme tetap digunakan sebagai alat analisis sosial, politik, dan ekonomi, serta dasar ideologi beberapa partai komunis dan gerakan pekerja di seluruh dunia.