Dipublikasikan: 30 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 30 Oktober 2025
Dipublikasikan: 30 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 30 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Historisisme merupakan pandangan filsafat dan metodologi sosial yang menegaskan bahwa realitas manusia, termasuk gagasan, nilai, dan institusi, hanya dapat dipahami melalui konteks sejarahnya. Ideologi ini menolak pandangan universal dan ahistoris tentang kebenaran, dengan menekankan bahwa setiap bentuk pemikiran dan tindakan manusia terbentuk oleh kondisi historis yang melingkupinya. Historisisme menjadi fondasi penting dalam studi budaya, politik, dan filsafat modern, karena ia memperlakukan sejarah bukan sekadar catatan peristiwa, melainkan proses pembentukan makna dan identitas manusia.
Daftar Isi
Historisisme dapat didefinisikan sebagai pendekatan intelektual yang melihat segala bentuk pemikiran dan kehidupan sosial sebagai produk dari perkembangan historis yang spesifik. Dalam pandangan ini, ide-ide tidak berdiri di ruang hampa, melainkan merupakan hasil dari situasi sosial, ekonomi, dan budaya pada zamannya.
“The historical sense involves a perception, not only of the pastness of the past, but of its presence.”
— T. S. Eliot, Tradition and the Individual Talent (1919), p. 15
Historisisme berusaha memahami bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar berakhir; ia hidup dalam struktur dan nilai-nilai masa kini. Karena itu, memahami sejarah berarti memahami diri sendiri dalam kontinuitas yang dinamis antara masa lalu dan masa kini.
Historisisme berpandangan bahwa semua gagasan, nilai, dan tindakan manusia tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarahnya.
“We study history in order to understand the present.”
— Wilhelm Dilthey, Introduction to the Human Sciences (1883), p. 56
Setiap pemikiran memiliki akar temporal. Sebuah ide filosofis atau sistem politik hanya dapat dimengerti ketika kita menempatkannya dalam konteks zamannya. Dengan demikian, historisisme menolak pandangan absolut tentang kebenaran dan menggantinya dengan pemahaman yang kontekstual dan hermeneutis.
Hegelianisme memiliki pengaruh kuat terhadap historisisme, terutama dalam hal pandangan bahwa sejarah merupakan proses dialektis menuju kesadaran diri dan kebebasan.
“The history of the world is none other than the progress of the consciousness of freedom.”
— G. W. F. Hegel, Lectures on the Philosophy of History (1837), p. 54
Namun, historisisme tidak selalu menilai sejarah sebagai progresif secara moral atau rasional. Ia menyoroti perubahan sebagai hasil dari interaksi kompleks antara ide, kondisi sosial, dan pengalaman manusia.
Bagi para historisis, kebenaran bersifat temporal dan relatif terhadap konteks sejarah. Pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari bahasa, tradisi, dan horizon zamannya.
“All understanding is interpretation, and all interpretation takes place in the medium of a tradition.”
— Hans-Georg Gadamer, Truth and Method (1960), p. 291
Gagasan ini menjelaskan bahwa memahami sesuatu berarti menafsirkan warisan masa lalu dalam kerangka pemahaman masa kini. Dengan demikian, historisisme menjadi dasar bagi hermeneutika modern dan studi kultural.
Sementara beberapa bentuk historisisme klasik bersifat teleologis (menganggap sejarah memiliki tujuan akhir tertentu), banyak pemikir kemudian menolak pandangan deterministik tersebut.
“The belief in historical destiny is sheer superstition.”
— Karl Popper, The Poverty of Historicism (1957), p. 34
Bagi Popper, sejarah tidak bergerak menuju arah yang pasti, melainkan terbentuk oleh keputusan manusia yang bebas. Ini membuka ruang bagi tanggung jawab moral dan kebebasan dalam pembentukan sejarah.
Historisisme juga berfungsi sebagai metode dalam ilmu kemanusiaan, di mana peneliti berusaha memahami fenomena manusia melalui rekonstruksi makna historisnya.
“History is the self-knowledge of the spirit.”
— Benedetto Croce, Theory and History of Historiography (1917), p. 8
Dalam kerangka ini, sejarah bukan sekadar pengumpulan fakta, tetapi proses reflektif yang menghubungkan masa lalu dan kesadaran masa kini.
Tidak selalu. Historisisme menolak kebenaran absolut, tetapi tidak meniadakan rasionalitas. Ia menekankan bahwa setiap kebenaran harus dipahami dalam konteks historisnya, bukan sebagai sesuatu yang tetap dan universal.
Tidak. Historisisme melengkapi ilmu pengetahuan dengan dimensi interpretatif yang membantu memahami aspek manusiawi dalam ilmu sosial dan budaya.
Sangat relevan, terutama dalam kajian budaya, filsafat sejarah, dan teori sosial. Historisisme membantu memahami bagaimana ideologi, politik, dan identitas berkembang dalam konteks waktu dan ruang.