Dipublikasikan: 19 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 26 Desember 2025
Dipublikasikan: 19 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 26 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Entri ini disusun pribadi oleh Raymond Kelvin Nando untuk merumuskan sistem filsafatnya, mulai dari 19 Oktober 2025. Tujuannya sebagai filsafat yang dapat menjadi pedoman dalam ranah teoritis maupun praktis bagi diri sendiri, istri, anak & cucuku dari marga Raymond, serta masyarakat secara luas dalam menjalani kehidupan.

Filsafat ini berusaha ditulis dengan bahasa yang semudah mungkin untuk dibaca, dan dipahami agar dapat dibaca kembali di kemudian hari; Adapun beberapa kata yang digunakan adalah kata – kata yang pada umumnya digunakan oleh masyarakat Indonesia pada tahun 2025, maka dari itu saya menyadari bahwa dimasa depan pasti makna kata akan berubah sesuai dengan perkembangan bahasa pada saat teks ini dibaca, maka dari itu diperlukan analisis dalam konteks historis kembali ke tahun 2025 pada saat membaca teks ini.
Dibagian akhir akan dibuat catatan kronologis dari semua perubahan penting yang dilakukan langsung oleh saya, karena teks ini disusun mulai dari 19 Oktober 2025 dan mungkin akan terus berubah hingga pada akhirnya fisik saya mati.
Daftar Isi
Pencipta adalah Sumber Realitas Absolut (Prima Causa), sebab dari Atribut-Nya lah termanifestasi seluruh ciptaan. Pencipta tidak beranak dan tidak pula diperanakkan serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya
Dalam hakikat-Nya, Pencipta memiliki atribut yaitu Kesadaran Universal & Ketiadaan.
Atribut adalah “apa adanya“, Atribut berbeda dengan sifat; Sifat adalah ciri khas atau watak yang melekat pada Ciptaan — Sedangkan Pencipta tidak memiliki sifat (karena sifat ada di Ciptaan).
Kedua atribut Pencipta inilah (Kesadaran Universal dan Ketiadaan), yang kemudian memanifestasikan berbagai sifat pada ciptaan.
Kesadaran Universal adalah salah satu dari atribut Pencipta yang menata berbagai potensi kesadaran di seluruh eksistensi, sehingga setiap entitas — dari mineral, tumbuhan, hewan, bintang, hingga manusia; dimanifestasikan melalui atribut ini.
Ketiadaan adalah salah satu atribut Pencipta, Primordial yang hadir sebelum segala bentuk diferensiasi seperti waktu, ruang, dan ciptaan. Ia (Ketiadaan) bukan diciptakan, melainkan merupakan kondisi asli sebelum ada apa pun selain Pencipta itu sendiri — sebuah “keadaan tanpa batas” sebagai infinite void. Dalam keadaan itu, tidak ada struktur, tidak ada arah, tidak ada perubahan, dan tidak ada kategori apa pun, sebab konsep perubahan membutuhkan waktu, konsep lokasi membutuhkan ruang, dan konsep relasi membutuhkan entitas lain. Semua itu belum ada.
Karena itulah ketiadaan bukan sekadar “tidak ada apa-apa”, melainkan ketiadaan struktur, yaitu kondisi di mana kategori ruang, waktu, bentuk, atau batas sama sekali belum mungkin untuk diterapkan.
Ia (Ketiadaan) tidak memiliki tepi atau ukuran karena ukuran membutuhkan ruang; ia tidak memiliki durasi karena durasi membutuhkan waktu; ia tidak memiliki nilai atau moral karena moralitas hanya muncul jika ada makhluk terbatas yang bertindak dalam sistem sebab–akibat. Maka ketiadaan adalah keadaan netral dan tanpa dualitas.
Kehendak dan Hukum adalah salah satu ciptaan yang termanifestasi dari Kesadaran Universal dan Ketiadaan Pencipta. Kehendak bersifat daya aktif yang “melahirkan” ciptaan, sedangkan Hukum adalah batas dan tatanan yang mengiringi segala yang tercipta. Keduanya bagaikan dua sisi dari satu koin — berbeda dalam fungsi, namun satu dalam hakikat.
Ruang dan Waktu juga merupakan ciptaan Pencipta. Ruang adalah medium dasar yang memiliki sifat – sifat untuk memungkinkan diferensiasi, jarak, bentuk, dan orientasi. Ia (Ruang) menjadi “wadah” bagi setiap wujud untuk dapat menempati keberadaannya dalam struktur eksistensi. Namun ruang tidak memiliki kehendak, tujuan, atau moralitas. Ia hanyalah kondisi laten yang membuat segala sesuatu dapat berada “di suatu tempat” dan berhubungan satu sama lain.
Waktu, di sisi lain adalah batas tatanan yang mengatur perubahan. Jika ruang memberi ‘lokasi’, waktu memberi ‘urutan’. Tanpa waktu, tidak ada transformasi; tanpa transformasi, tidak ada proses; tanpa proses. Waktu bukan sekadar durasi yang diukur, tetapi yang menjaga eksistensi lainnya dari kekacauan absolut. Dengan waktu, setiap ciptaan bergerak dari potensi kesadaran (Kesadaran Universal) menuju aktualitas dan kembali kepada kondisi primordialnya (Ketiadaan) secara teratur.
Ruang dan Waktu memerlukan diferensiasi dan batas — sedangkan Pencipta tidak memiliki batas. Keduanya (Ruang dan Waktu) juga bukan kondisi yang mendahului Pencipta, sebab tidak mungkin ada medium atau urutan tanpa atribut Kesadaran universal dan ketiadaan Pencipta; Yang dari-Nya “mereka” berasal. Ruang dan Waktu ada karena Pencipta mengaktualkan potensi keberadaan, dan menyediakan kondisi non-terikat yang memungkinkan batas-batas itu muncul.
Ruang dan Waktu bekerja sebagai “pasangan komplementer”: ruang menyediakan struktur, waktu menyediakan arah. Mereka adalah kerangka universal bagi seluruh ciptaan, namun sepenuhnya tunduk pada hukum kosmik yang lebih besar — hukum yang tidak berasal dari ruang dan waktu itu sendiri, tetapi dari sifat keteraturan yang mengalir dari Pencipta.
Mahluk adalah Ciptaan. Mahluk eksis didalam Ruang melalui Kehendaknya dan dibatasi oleh Hukum melalui Waktu. Mahluk sama seperti ciptaan lainnya, tidak memiliki hirarki dalam bentuk apapun karena ketergantungan antara satu dengan yang lainnya.
Ciptaan dibekali sifat – sifat yang termanifestasi dari atribut Pencipta, yakni Kesadaran yang bersumber dari Kesadaran Universal milik Pencipta.
Kesadaran bukanlah pencapaian eksternal, bukan penyempurnaan moral, bukan kenaikan hierarkis, dan bukan pula perjalanan menuju suatu bentuk kemuliaan yang lebih tinggi. Kesadaran, tidak memiliki misi untuk menjadi lebih baik atau lebih benar; ia hanya bergerak mengikuti arus eksistensi yang lahir dari atribut Pencipta.
Arah kosmisnya adalah eksis, mengalami keberadaan dalam berbagai bentuk dan kadar, lalu kembali kepada ketiadaan yang menjadi kondisi primordial dari Pencipta. Eksistensi bukan sebuah ujian, melainkan medan diferensiasi bagi kesadaran untuk mewujudkan potensi yang tersimpan dalam dirinya. Setiap bentuk wujud—batu, bintang, hewan, manusia—menjalani arus ini dengan cara yang berbeda sesuai kapasitasnya, namun seluruhnya terikat pada pola yang sama: terbit dalam batas, bergerak dalam hukum, mengalami perubahan melalui waktu, dan pada akhirnya melepaskan seluruh batas untuk kembali ke ketiadaan.
Kesadaran tidak kembali karena dihukum atau dihapus, tetapi karena batas-batas yang membentuk dirinya untuk eksis dalam ruang dan waktu adalah kondisi sementara. Ketika struktur-struktur itu runtuh atau selesai menjalankan fungsinya, kesadaran tidak lenyap; ia melepaskan bentuk dan kembali ke keadaan asal (Ketiadaan).
Ketiadaan di sini bukan nihil, melainkan medan tanpa batas di mana semua potensial tetap ada tanpa aktualitas. Maka kembali ke ketiadaan bukan berarti kehilangan, melainkan pelepasan dari penjara bentuk. Ketiadaan adalah rumah awal sekaligus rumah akhir bagi kesadaran.
Sebagian dari kesadaran ciptaan tertutup oleh ketidaksadaran, yang muncul sebagai konsekuensi dari batas-batas eksistensialnya, memungkinkan pengalaman dan diferensiasi unik untuk terwujud.
Setiap ciptaan eksis di dalam ruang, waktu, kehendak dan hukum. Ketidaksadaran muncul karena kesadaran tertutup oleh bentuk, batas, atau struktur yang membatasi aktualisasi potensinya.
Ketidaksadaran merupakan konsekuensi alami dari keterbatasan ciptaan. Setiap entitas yang muncul dari Kesadaran Universal berada di dalam ruang, waktu, kehendak dan hukum yang membentuk kerangka eksistensinya. Struktur ini memungkinkan diferensiasi, tetapi sekaligus menutup sebagian kesadaran dari keseluruhan potensinya.
Ketidaksadaran muncul bukan karena kesalahan atau kekurangan, melainkan karena eksistensi ciptaan yang akan selalu terikat pada bentuk, batas, dan kondisi sementara yang membatasi aktualisasi potensi kesadaran itu sendiri.
Ketidaksadaran berfungsi sebagai mekanisme yang memungkinkan kesadaran untuk mengalami realitas tanpa terguncang oleh totalitas Kesadaran Universal. Tanpa lapisan ketidaksadaran ini, setiap ciptaan akan langsung menyadari keseluruhan realitas sekaligus, sehingga diferensiasi dan keberadaan individu tidak mungkin terjadi. Ketidaksadaran bertindak seperti “kabut” yang membatasi pandangan ciptaan terhadap keseluruhan alam, memberi ruang bagi identitas dan pengalaman unik untuk berkembang.
Lebih jauh, ketidaksadaran adalah fase dalam perjalanan eksistensi. Kesadaran muncul, dibatasi oleh bentuk dan struktur ciptaan, sebagian tersembunyi oleh ketidaksadaran, dan melalui pengalaman dalam ruang dan waktu, batas-batas itu perlahan runtuh. Pada akhirnya, kesadaran kembali ke Ketiadaan, kembali ke kondisi primordial Pencipta, tanpa kehilangan esensi dirinya.
Pencipta tidak menciptakan kepercayaan atau agama sebagai jalan bagi ciptaan untuk menyembah-Nya. Selayaknya Pencipta, Ciptaan juga tidak memerlukan pengakuan atau penyembahan dari apa pun yang diciptakan-Nya. Sama seperti manusia yang memelihara ikan dalam kolam atau menanam pohon di halaman rumah, apakah penting bagi ikan atau pohon mengetahui nama dan menyembah pemeliharanya? Apakah mereka perlu menyembah sang pemelihara agar tetap hidup dan berkembang? Penyembahan bukanlah tujuan eksistensi mereka, demikian pula bagi seluruh ciptaan Pencipta.
Agama muncul dari Ketidaksadaran Manusia, dari kebutuhan untuk bersandar pada sesuatu yang lebih besar, untuk menemukan alasan, perlindungan, atau bahkan tempat menyalahkan. Dalam proses itu, manusia membentuk konsep Tuhan, ritual, dan aturan moral, yang kemudian menjadi agama. Namun, hal ini sepenuhnya merupakan konstruksi manusia, bukan ciptaan Pencipta. Agama lahir dari keterbatasan kesadaran manusia, bukan dari kebutuhan kosmis atau hakikat realitas.
Setiap ciptaan sudah dibekali kesadaran yang bersumber dari Kesadaran Universal Pencipta, tetapi sebagian kesadaran itu tertutup oleh ketidaksadaran—konsekuensi dari batas-batas eksistensial ciptaan dalam ruang, waktu, dan hukum. Ketidaksadaran memungkinkan diferensiasi unik dan pengalaman yang khas bagi setiap entitas, serta mencegah kesadaran dari terbeban oleh totalitas realitas. Dengan demikian, ciptaan mengalami eksistensinya secara utuh tanpa perlu agama atau kepercayaan sebagai perantara.
Kesadaran ciptaan bergerak mengikuti arus kosmis yang lahir dari atribut Pencipta: terbit dalam batas, bergerak melalui hukum dan waktu, mengalami perubahan, belajar, dan mengekspresikan dirinya dalam bentuk-bentuk berbeda. Pada akhirnya, kesadaran melepaskan seluruh batasnya, kembali ke Ketiadaan yang merupakan kondisi primordial Pencipta. Dalam konteks ini, agama bukanlah jalan menuju Pencipta; ia hanyalah refleksi manusia terhadap keterbatasan dan ketidaksadaran mereka sendiri. Setiap ciptaan, melalui kesadaran yang dibekali secara inheren, memiliki arus eksistensi sendiri yang menuntun mereka kembali ke sumber tanpa intermediasi eksternal.
Logika bukan aturan moral atau hukum eksternal; ia muncul alami dari cara ciptaan mengalami eksistensi. Saat kesadaran menata pengalaman dalam ruang, waktu, dan hukum, entitas membedakan, menghubungkan, dan menafsirkan fenomena. Dari proses ini lahir logika—bukan untuk menilai benar atau salah secara moral, tetapi sebagai alat bagi kesadaran untuk memahami pola, urutan, dan sebab-akibat dalam eksistensi mereka. Kebijaksanaan lahir dari pengalaman, dan tidak mengejar hierarki atau tujuan moral.
Sebagian kesadaran tertutup oleh ketidaksadaran akibat batas eksistensial, sehingga logika muncul secara fragmentaris. Kesalahan atau bias bukan kegagalan, melainkan konsekuensi alami dari keterbatasan ini. Seiring pengalaman dan interaksi, ketidaksadaran menipis, memungkinkan logika berkembang lebih inklusif.
Logika beroperasi dalam medium eksistensi: ruang memberi struktur, waktu memungkinkan urutan, kehendak memungkinkan untuk potensi dan hukum menyediakan kerangka konsisten. Manusia dan makhluk lain hanyalah medium untuk menafsirkan pola – pola ini.
Logika adalah manifestasi arus Kesadaran Universal; ia memungkinkan ciptaan menavigasi eksistensi, memahami keteraturan, dan mengalami realitas secara utuh, tetap selaras dengan arus kosmis dan tanpa kehilangan integritas eksistensinya.
Setiap ciptaan mengalami realitas dari perspektif uniknya, dan perspektif ini membentuk cara mereka menalar dan menafsirkan pengalaman. Bias muncul sebagai konsekuensi alami dari keterbatasan ini, bukan sebagai kesalahan moral atau kekeliruan intelektual. Karena kesadaran ciptaan tertutup sebagian oleh ketidaksadaran dan dibatasi oleh ruang, waktu, kehendak dan hukum; interpretasi mereka terhadap fenomena sering kali terdistorsi atau terfokus pada aspek tertentu yang lebih mudah diakses. Perspektif berbeda ini menghasilkan variasi dalam penalaran, sehingga dua entitas yang menghadapi fenomena yang sama bisa sampai pada kesimpulan yang berbeda tanpa ada kontradiksi terhadap arus kosmis.
Bias dan perspektif menunjukkan bahwa logika selalu bersifat fragmentaris dan relatif, menyesuaikan dengan kapasitas pengalaman dan posisi eksistensial masing-masing. Namun, hal ini bukanlah kelemahan, melainkan alat yang memungkinkan ciptaan mengeksplorasi realitas dari berbagai sudut, menguji keteraturan, dan memperluas pemahaman. Seiring sebagian ketidaksadaran menipis dan kesadaran menjadi lebih terbuka, bias bisa diminimalkan, tetapi perspektif unik setiap ciptaan tetap bertahan sebagai ciri alami eksistensi. Bias dan perspektif bukan hanya fenomena psikologis atau intelektual, tetapi manifestasi kosmis dari cara kesadaran ciptaan berinteraksi dengan dunia, memungkinkan logika berkembang secara alami, fragmentaris, dan selaras dengan arus Kesadaran Universal.
Logika adalah hubungan valid yang timbul antara proposisi menuju kesimpulan — baik itu hubungan yang didasarkan pada realitas empiris, struktur matematis, atau kerangka konseptual tertentu. Maka dari itu, Logika bergantung pada bagaimana dunia (atau sistem) itu sendiri, bukan semata pada cara kita menalar. Logika bisa valid walaupun seluruh premisnya dianggap keliru, dan bisa tidak valid walaupun kesimpulannya kebetulan benar.
Logika yang dipahami murni sebagai struktur dan aturan, terlepas dari isi makna, pengalaman, atau kesadaran penafsir, logika bersifat objektif dan universal: suatu proposisi yang valid tidak bergantung pada siapa yang menalar atau bagaimana ia menafsirkannya. Jika bentuk logisnya benar, ia benar bagi siapa pun dan kapan pun, selama makna simbolnya ditetapkan secara konsisten. Di sini, kesadaran hanya berperan sebagai pengguna logika, bukan penentu logika. Sementara, dalam tingkatan logika yang dipahami sebagai semantik dan epistemik, kebijaksanaan bersifat relatif karena ditafsirkan pada berbagai teori (hipotesa) dan makna (apa yang dirujuk oleh kata, simbol, atau proposisi).
Keduanya (tingkatan format, dan semantik & epistemik), bergantung pada kesadaran pada tiap – tiap ciptaan. Argumen tidak boleh disebut bijaksana secara absolut tanpa menyebut sistemnya. Pernyataan yang tepat bukan “ini bijaksana”, tetapi “ini bijaksana dalam sistem X”. Jika sebuah proposisi dianggap bijaksana di satu sistem tetapi gagal di sistem lain, itu menunjukkan perbedaan asumsi dasar, bukan kelemahan logika. Logika menuntut konsistensi internal, bukan keseragaman lintas semua sistem.
Logika memerlukan kesadaran untuk diartikulasikan, diketahui, atau digunakan. pernyataan matematis “2 + 2 = 4” itu bijaksana tidak menunggu dan bergantung pada mahluk untuk menjadi bijaksana, tetapi menjadi bijaksana ketika ciptaan memiliki kesadaran akan pernyataan tersebut.
Proposisi adalah klaim yang bijaksana mengenai eksistensi. Suatu klaim disebut bijaksana, apabila isi klaimnya memiliki dasar yang memadai; Dasar yang memadai biasanya karena ia berkorespondensi dengan fakta, konsisten dalam suatu sistem pengetahuan, atau teruji dalam praktik.
Inferensi adalah proses yang menjelaskan mengapa kesimpulan dianggap mengikuti dari proposisi. Inferensi adalah cara menarik kesimpulan, bukan isi pernyataannya. Ia bekerja melalui pola-pola tertentu
Kesimpulan adalah pernyataan yang ditarik dari satu atau lebih proposisi melalui suatu proses inferensi. Kesimpulan diukur dari apakah ia benar-benar mengikuti alur proposisi – proposisi yang mendahuluinya.
Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diberikan dari luar, bukan pula wahyu, dogma, atau kebenaran yang ditanamkan oleh otoritas eksternal. Pengetahuan muncul sebagai relasi antara kesadaran ciptaan dengan struktur eksistensi tempat ia berada.
Karena seluruh ciptaan termanifestasi dari Kesadaran Universal dan Ketiadaan, maka potensi untuk mengetahui sudah inheren dalam setiap entitas. Namun, pengetahuan aktual hanya mungkin muncul ketika kesadaran beroperasi di dalam ruang, waktu, kehendak, dan hukum. Tanpa batas-batas ini, tidak ada diferensiasi; tanpa diferensiasi, tidak ada objek pengetahuan.
Pengalaman adalah interaksi langsung antara kesadaran (Ciptaan) dan Kesadaran Universal (Pencipta) didalam eksistensi dengan struktur ruang, waktu, kehendak, dan hukum. Apa yang dialami bukan “realitas absolut”, melainkan realitas sebagaimana dimungkinkan oleh batas eksistensial ciptaan; Oleh karena itu, pengalaman selalu sahih bagi yang mengalaminya, namun tidak pernah absolut bagi ciptaan yang lain.
Logika memungkinkan kesadaran menata pengalaman menjadi hubungan yang koheren. Ia tidak menciptakan realitas, tetapi menyingkap keteraturan yang sudah ada dalam hukum kosmik.
Logika tidak menjamin kebenaran ontologis, tetapi menjamin konsistensi struktural dalam sistem pengetahuan tertentu.
Pengetahuan berkembang melalui pertukaran perspektif antar ciptaan. Karena setiap entitas mengalami realitas dari sudut yang berbeda, interaksi memungkinkan perluasan ranah pengetahuan, meski tidak pernah mencapai totalitas Kesadaran Universal.
Kebenaran bukanlah kesesuaian mutlak dengan Realitas Absolut, karena Realitas Absolut melampaui kategori benar–salah.
Dalam ranah ciptaan, kebenaran bersifat koheren, korespondensial, dan cenderung pragmatis.
Suatu klaim dapat benar dalam satu sistem, dan tidak relevan dalam sistem lain, tanpa kontradiksi. Maka, kebenaran bukanlah mahkota hierarkis, melainkan posisi fungsional dalam jaringan pengetahuan.
Etika tidak berasal dari perintah Pencipta, hukum ilahi, atau tujuan tertentu. Pencipta tidak membutuhkan kepatuhan, penyembahan, atau pengakuan moral dari ciptaan. Etika muncul sebagai konsekuensi interaksi antar kesadaran yang terbatas di dalam ruang dan waktu. Karena ciptaan saling bergantung dan tidak memiliki hierarki ontologis, maka setiap tindakan selalu berada dalam jaringan sebab–akibat yang memengaruhi entitas lain.
Nilai bukan kualitas objektif yang melekat pada tindakan, melainkan penilaian relasional yang muncul dari dampak suatu tindakan terhadap kelangsungan, kestabilan, atau kehancuran pola eksistensi. Nilai bersifat kontekstual, temporal, bergantung pada kapasitas kesadaran pelaku dan yang terdampak
Tidak ada tindakan yang baik atau buruk; yang ada hanyalah tindakan yang selaras atau tidak selaras dengan struktur eksistensi tempat ia terjadi.
Bersambung….