Dipublikasikan: 17 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 17 Oktober 2025
Dipublikasikan: 17 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 17 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Globalisme adalah ideologi dan kerangka pemikiran yang menekankan pentingnya keterhubungan dan integrasi antarbangsa dalam bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Ia melihat dunia sebagai satu kesatuan sistemik di mana batas-batas nasional semakin kabur akibat kemajuan teknologi, perdagangan, dan komunikasi. Globalisme berangkat dari keyakinan bahwa kerja sama internasional dan saling ketergantungan dapat membawa perdamaian, kemakmuran, dan kemajuan manusia secara kolektif. Namun, ideologi ini juga sering menjadi perdebatan karena dianggap mengancam kedaulatan nasional, identitas budaya, dan keadilan ekonomi di tingkat lokal.
Daftar Isi
Globalisme dapat dipahami sebagai ideologi yang mendukung pembentukan tatanan dunia yang terintegrasi secara ekonomi, politik, dan budaya, di mana keputusan dan kebijakan sering kali melampaui batas negara. Ia menolak pandangan isolasionis dan menegaskan bahwa tantangan modern seperti perubahan iklim, migrasi, dan ketimpangan ekonomi hanya bisa diatasi melalui kerja sama global.
“Globalization is not a policy choice; it is a fact.”
— Thomas L. Friedman, The Lexus and the Olive Tree, p. 9
Kutipan Friedman ini menegaskan bahwa globalisme lahir dari kenyataan historis dan struktural yang tidak dapat dihindari. Dalam konteks ini, globalisme bukan sekadar dorongan ideologis, tetapi respons terhadap transformasi dunia yang saling terkoneksi secara kompleks.
Salah satu prinsip dasar globalisme adalah keyakinan bahwa negara, masyarakat, dan individu di seluruh dunia saling bergantung satu sama lain dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks ekonomi, hal ini terlihat pada rantai pasokan internasional dan pasar modal global yang terintegrasi. Secara politik, interdependensi diwujudkan melalui organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
“In an interdependent world, the security and prosperity of any nation depends upon the security and prosperity of all.”
— Joseph E. Stiglitz, Globalization and Its Discontents, p. 22
Interdependensi ini mengubah cara pandang terhadap kekuasaan dan tanggung jawab. Tidak ada satu negara pun yang dapat menyelesaikan masalah global sendirian. Dengan demikian, kolaborasi internasional menjadi syarat utama bagi stabilitas global.
Globalisme berpijak pada nilai kosmopolitanisme, yakni pandangan bahwa semua manusia adalah warga dunia yang memiliki tanggung jawab moral terhadap satu sama lain. Prinsip ini menolak eksklusivitas nasional dan menekankan solidaritas lintas batas.
“The idea of a world citizenship arises from the recognition that human dignity transcends national frontiers.”
— David Held, Democracy and the Global Order, p. 112
Kosmopolitanisme dalam globalisme tidak berarti menghapus identitas lokal, melainkan menempatkan nilai kemanusiaan di atas sekat etnis atau nasional. Ia menuntut bentuk baru etika global yang menghormati keberagaman namun mendorong kerja sama lintas budaya.
Aspek ekonomi globalisme sering dikaitkan dengan neoliberalisme dan perdagangan bebas. Pendukungnya percaya bahwa integrasi pasar dunia akan meningkatkan efisiensi, pertumbuhan, dan inovasi. Namun, banyak pemikir globalis yang lebih progresif menekankan pentingnya regulasi agar globalisasi tidak hanya menguntungkan segelintir pihak.
“The hidden hand of the market will never work without a hidden fist.”
— Thomas L. Friedman, The Lexus and the Olive Tree, p. 52
Kutipan ini menunjukkan paradoks globalisme: pasar bebas memerlukan stabilitas politik dan kekuasaan militer global untuk menopangnya. Oleh karena itu, globalisme bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga struktur kekuasaan yang menopang sistem global.
Globalisme mendorong munculnya ide governance global—bentuk pemerintahan yang melibatkan berbagai aktor internasional seperti lembaga multilateral, perusahaan transnasional, dan masyarakat sipil global. Prinsip ini bertujuan menciptakan koordinasi global dalam menghadapi isu lintas negara seperti perubahan iklim, terorisme, dan pandemi.
“Global governance is not world government, but the collective management of common affairs.”
— David Held, Global Covenant, p. 34
Konsep ini tidak selalu berarti menciptakan pemerintahan tunggal dunia, tetapi membangun sistem yang memungkinkan pengambilan keputusan bersama yang efektif dan adil.
Globalisme secara ideologis menolak nasionalisme eksklusif dan proteksionisme ekonomi, karena dianggap menghambat kemajuan kolektif umat manusia. Dalam pandangan globalis, identitas nasional yang tertutup sering kali menjadi sumber konflik dan perang.
“The danger today is not too much globalization, but too little cooperation.”
— Kofi Annan, Address to the UN General Assembly, 2001
Dengan menekankan pentingnya kerja sama dan solidaritas global, globalisme berupaya membangun dunia yang lebih damai dan saling bergantung secara konstruktif.
Tidak. Globalisme adalah ideologi atau cara pandang yang mendukung globalisasi, sedangkan globalisasi adalah proses faktual dari keterhubungan dunia.
Tidak sepenuhnya. Globalisme lebih menekankan keseimbangan antara kerja sama internasional dan tanggung jawab negara, bukan penghapusan kedaulatan.
Karena dianggap menguntungkan negara maju dan perusahaan multinasional, serta melemahkan ekonomi lokal dan identitas budaya.