Dipublikasikan: 16 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 22 Oktober 2025
Dipublikasikan: 16 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 22 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Feminisme Radikal merupakan salah satu aliran paling berpengaruh dalam teori dan gerakan feminis yang berfokus pada pembongkaran sistem patriarki sebagai akar utama penindasan terhadap perempuan. Ideologi ini tidak hanya menuntut kesetaraan formal, tetapi menginginkan transformasi mendasar terhadap struktur sosial, budaya, dan politik yang membentuk relasi kekuasaan berbasis gender. Feminisme radikal memandang patriarki sebagai sistem global yang mengatur tubuh, seksualitas, dan reproduksi perempuan demi mempertahankan dominasi laki-laki.
Daftar Isi
Feminisme radikal dapat didefinisikan sebagai teori dan gerakan yang menyoroti kekuasaan patriarki sebagai sumber utama penindasan terhadap perempuan, dan menuntut perubahan struktural yang melampaui reformasi hukum atau kesetaraan formal.
Aliran ini muncul pada akhir 1960-an di Amerika Serikat dan Eropa Barat, sebagai respons terhadap feminisme liberal yang dianggap terlalu kompromistis dengan sistem patriarkal. Bagi feminis radikal, perjuangan utama bukan sekadar memperoleh hak yang sama dengan laki-laki, tetapi mengubah sistem sosial yang mendefinisikan peran dan nilai perempuan secara opresif.
“The personal is political.”
— Carol Hanisch, Notes from the Second Year: Women’s Liberation, p. 76
Kutipan ini menjadi slogan utama feminisme radikal, yang menegaskan bahwa pengalaman pribadi perempuan—termasuk kekerasan, pelecehan, dan eksploitasi domestik—adalah bentuk nyata dari struktur politik patriarki.
“Sexual domination is the model for all power.”
— Kate Millett, Sexual Politics, p. 24
Feminisme radikal menegaskan bahwa patriarki adalah sistem tertua dan paling universal dari penindasan manusia, yang melampaui batas kelas, ras, atau bangsa.
“The first division of labor is that between man and woman for the reproduction of children.”
— Shulamith Firestone, The Dialectic of Sex, p. 11
Bagi Firestone, penindasan terhadap perempuan bermula dari pengendalian terhadap kemampuan reproduksi mereka, yang menjadi dasar seluruh struktur sosial patriarkal.
Feminisme radikal memandang seksualitas sebagai arena utama penindasan patriarki. Laki-laki menggunakan kontrol terhadap tubuh perempuan melalui perkawinan, pornografi, prostitusi, dan norma sosial untuk mempertahankan kekuasaan mereka.
“Pornography is the theory, and rape is the practice.”
— Andrea Dworkin, Pornography: Men Possessing Women, p. 19
Dalam pandangan ini, seksualitas bukan sekadar ekspresi pribadi, melainkan institusi sosial yang diatur untuk mempertahankan dominasi laki-laki.
Feminisme radikal menekankan pentingnya kesadaran kolektif perempuan terhadap bentuk penindasan yang dialami sehari-hari. Proses consciousness raising menjadi metode utama dalam gerakan ini untuk menghubungkan pengalaman pribadi dengan struktur politik.
“Sisterhood is powerful.”
— Robin Morgan, Sisterhood is Powerful, p. xiii
Melalui solidaritas dan kesadaran bersama, feminis radikal menuntut perubahan sistemik terhadap institusi sosial seperti perkawinan, keluarga, agama, dan negara.
Feminisme radikal memperjuangkan hak perempuan untuk mengendalikan tubuh dan fungsi reproduksinya sendiri, termasuk hak atas aborsi, kontrasepsi, dan kebebasan seksual.
“Women must control their own bodies.”
— National Organization for Women, Statement of Purpose, 1966
Dalam kerangka ini, tubuh perempuan menjadi medan perjuangan politik melawan kontrol patriarki.
Tidak. Feminisme radikal tidak memusuhi laki-laki sebagai individu, tetapi mengkritik sistem patriarki yang memberi laki-laki posisi dominan dalam struktur sosial.
Feminisme liberal berfokus pada reformasi hukum dan kesetaraan hak, sedangkan feminisme radikal menuntut perubahan struktural terhadap sistem patriarki yang mengatur relasi kekuasaan secara menyeluruh.
Sangat relevan. Isu-isu seperti kekerasan seksual, eksploitasi tubuh perempuan, dan ketidaksetaraan sosial masih menjadi masalah global yang menjadi fokus utama feminisme radikal.