Dipublikasikan: 16 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 16 Oktober 2025
Dipublikasikan: 16 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 16 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Feminisme merupakan ideologi sosial, politik, dan filosofis yang berfokus pada pembebasan perempuan dari sistem patriarki dan memperjuangkan kesetaraan gender di semua bidang kehidupan. Gerakan ini menentang segala bentuk ketimpangan yang membatasi perempuan dalam ranah sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Feminisme tidak hanya menuntut hak-hak perempuan, tetapi juga mengupayakan transformasi struktural terhadap sistem kekuasaan yang menghasilkan ketidakadilan berbasis gender.
Daftar Isi
Feminisme dapat didefinisikan sebagai gerakan dan teori sosial yang berupaya menegakkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam hak, peluang, dan status sosial, serta menolak segala bentuk diskriminasi berbasis gender.
Asal-usul feminisme dapat ditelusuri ke abad ke-18, terutama melalui karya Mary Wollstonecraft yang menuntut pengakuan terhadap kemampuan intelektual dan moral perempuan. Sejak itu, feminisme berkembang menjadi beragam aliran pemikiran, mencakup feminisme liberal, radikal, marxis, dan interseksional.
“I do not wish women to have power over men; but over themselves.”
— Mary Wollstonecraft, A Vindication of the Rights of Woman, p. 119
Ungkapan ini menegaskan esensi feminisme sebagai perjuangan terhadap otonomi dan kebebasan perempuan, bukan dominasi atas laki-laki.
Beberapa tokoh sentral dalam sejarah dan perkembangan feminisme meliputi:
“One is not born, but rather becomes, a woman.”
— Simone de Beauvoir, The Second Sex, p. 283
Feminisme berangkat dari keyakinan bahwa semua manusia, tanpa memandang jenis kelamin, memiliki martabat dan hak yang sama.
“Feminism is the radical notion that women are people.”
— Cheris Kramarae, A Feminist Dictionary, p. 153
Prinsip kesetaraan ini menolak semua bentuk subordinasi perempuan dan memperjuangkan hak yang setara dalam pendidikan, pekerjaan, dan politik.
Feminisme mengidentifikasi patriarki sebagai sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan. Sistem ini membatasi perempuan melalui norma, hukum, dan budaya yang menganggap mereka inferior.
“The master’s tools will never dismantle the master’s house.”
— Audre Lorde, Sister Outsider, p. 112
Kritik feminis berupaya membongkar struktur kekuasaan tersebut, baik dalam rumah tangga, institusi sosial, maupun kebijakan negara.
Konsep interseksionalitas, diperkenalkan oleh feminis kulit hitam, menekankan bahwa penindasan terhadap perempuan tidak hanya disebabkan oleh gender, tetapi juga oleh ras, kelas, orientasi seksual, dan faktor sosial lainnya.
“The oppressions interlock.”
— bell hooks, Ain’t I a Woman?, p. 15
Dengan demikian, feminisme tidak dapat dipahami secara tunggal, melainkan harus mempertimbangkan berbagai konteks sosial dan identitas.
Feminisme menuntut kebebasan perempuan untuk menentukan pilihan atas tubuh dan kehidupan reproduksinya, termasuk hak atas aborsi dan kontrol terhadap seksualitas.
“The personal is political.”
— Carol Hanisch, Notes from the Second Year: Women’s Liberation, p. 76
Pernyataan ini menegaskan bahwa pengalaman pribadi perempuan, seperti kekerasan rumah tangga atau pelecehan seksual, merupakan masalah politik dan sosial yang harus dilawan secara kolektif.
Feminisme menekankan pentingnya solidaritas antarperempuan dan kelompok tertindas dalam menciptakan perubahan sosial. Tujuannya bukan hanya kesetaraan gender, tetapi juga keadilan bagi seluruh manusia.
“Feminism is for everybody.”
— bell hooks, Feminism is for Everybody, p. 1
Apakah feminisme membenci laki-laki?
Tidak. Feminisme menentang sistem patriarki, bukan laki-laki secara individu. Ideologi ini justru membebaskan semua orang dari peran sosial yang menindas, termasuk laki-laki yang juga dirugikan oleh norma gender kaku.
Apakah feminisme masih relevan hari ini?
Ya. Ketimpangan upah, kekerasan seksual, dan keterwakilan politik perempuan masih menjadi masalah global. Feminisme tetap relevan untuk memperjuangkan kesetaraan dan keadilan sosial.
Tidak. Feminisme memiliki berbagai aliran, dari yang liberal hingga radikal, namun semuanya berkomitmen pada prinsip dasar kesetaraan gender dan pembebasan dari penindasan patriarkal.