Dipublikasikan: 16 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 16 Oktober 2025
Dipublikasikan: 16 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 16 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Familialisme merupakan ideologi sosial dan politik yang menempatkan keluarga sebagai dasar utama tatanan moral, sosial, dan politik masyarakat. Ideologi ini menekankan pentingnya nilai-nilai kekeluargaan—seperti kesetiaan, hierarki, tanggung jawab, dan harmoni—sebagai pondasi kehidupan bernegara. Familialisme beranggapan bahwa stabilitas sosial dapat dicapai melalui pemeliharaan struktur keluarga tradisional dan pembagian peran yang dianggap “alami” antara anggota keluarga.
Daftar Isi
Familialisme dapat didefinisikan sebagai pandangan yang menempatkan keluarga sebagai unit sosial utama dan model bagi struktur masyarakat dan negara.
Dalam ideologi ini, masyarakat dilihat sebagai perpanjangan dari keluarga, dan negara sebagai “keluarga besar” di mana pemimpin dianggap sebagai “ayah” yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Familialisme sering berakar pada pandangan konservatif atau tradisional, yang menolak individualisme dan menekankan kesetiaan pada struktur sosial hierarkis.
“The family is the nucleus of civilization.”
— Will Durant, The Mansions of Philosophy, p. 237
Konsep ini banyak digunakan untuk mendukung sistem politik paternalistik dan budaya yang menekankan keharmonisan sosial di atas kebebasan individu.
“Filial piety and brotherly respect are the root of humaneness.”
— Confucius, The Analects, Book I, p. 2
Familialisme melihat struktur keluarga sebagai miniatur negara. Hubungan antara orang tua dan anak dipandang sebagai dasar hubungan antara penguasa dan rakyat.
“The State is nothing but the family writ large.”
— Aristotle, Politics, Book I, p. 12
Dengan demikian, kesetiaan kepada pemimpin dianggap sebagai bentuk lanjutan dari kesetiaan kepada orang tua.
Ideologi ini menekankan hierarki sosial yang jelas, seperti dalam keluarga: ada pemimpin (ayah), pengatur rumah tangga (ibu), dan anggota yang patuh (anak).
“Authority is the cement of family life and, by extension, of social order.”
— Charles Maurras, L’Avenir de l’Intelligence, p. 43
Dalam sistem ini, kebebasan individu sering kali dibatasi demi stabilitas dan harmoni sosial.
Familialisme cenderung mempertahankan pembagian peran gender tradisional, di mana laki-laki bertanggung jawab dalam ruang publik dan ekonomi, sedangkan perempuan dipusatkan pada peran domestik.
“Woman is the guardian of the hearth, the keeper of moral flame.”
— Will Durant, The Mansions of Philosophy, p. 239
Kritikus melihat pandangan ini sebagai bentuk konservatisme sosial yang membatasi kesetaraan gender dan kebebasan individu.
Keluarga dalam ideologi familialis juga menjadi sumber nilai-nilai moral seperti kasih sayang, tanggung jawab, dan solidaritas. Nilai-nilai ini dianggap dapat diperluas ke tingkat masyarakat untuk menciptakan keteraturan dan kebersamaan sosial.
“The moral education of man begins in the family.”
— Giovanni Gentile, Genesis and Structure of Society, p. 61
Tidak sepenuhnya. Familialisme adalah aspek spesifik dari konservatisme sosial yang berfokus pada peran dan fungsi keluarga, meskipun keduanya sering berjalan beriringan.
Ya. Familialisme menganggap individualisme dapat merusak solidaritas sosial dan melemahkan fondasi moral masyarakat.
Masih relevan dalam konteks perdebatan tentang nilai-nilai keluarga, peran gender, dan moralitas publik, meskipun sering dikritik karena dapat digunakan untuk membenarkan patriarki dan kontrol sosial.