Dipublikasikan: 14 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 22 Desember 2025
Dipublikasikan: 14 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 22 Desember 2025
Raymond Kelvin Nando — Anaximenes adalah seorang filsuf pra-Sokratik dari Miletus yang dikenal sebagai penerus pemikiran Thales dan Anaximander. Ia merupakan tokoh penting dalam sejarah filsafat alam Yunani karena memperkenalkan teori monistik tentang udara (aēr) sebagai prinsip dasar (arkhē) dari seluruh realitas. Melalui pandangan kosmologisnya yang sederhana namun mendalam, Anaximenes berupaya menjelaskan struktur dan dinamika alam secara rasional, menegaskan kesinambungan antara materi dan kehidupan.
Daftar Isi
Anaximenes lahir sekitar tahun 586 SM di Miletus, Ionia, dan hidup hingga sekitar tahun 526 SM. Ia merupakan murid Anaximander dan penerus tradisi intelektual dari “Sekolah Miletus” — salah satu pusat awal filsafat di dunia Yunani.
Meskipun informasi biografis tentangnya terbatas, Anaximenes diyakini aktif dalam periode ketika ilmu pengetahuan dan filsafat mulai menggantikan mitos dalam menjelaskan fenomena alam. Ia dikenal sebagai pengamat langit dan fenomena atmosfer, dan banyak terinspirasi oleh upaya Anaximander yang lebih abstrak dalam mencari prinsip pertama. Namun, berbeda dengan gurunya, Anaximenes mengembalikan fokus pada substansi material, yaitu udara, yang dianggapnya sebagai sumber sekaligus pengatur segala hal.
Bagi Anaximenes, udara (aēr) adalah prinsip dasar dari segala sesuatu. Ia melihat udara sebagai unsur yang paling fundamental karena bersifat hidup, dinamis, dan mampu mengalami perubahan bentuk melalui proses pemadatan (condensation) dan pengenceran (rarefaction).
Dalam fragmen yang dikutip oleh Theophrastus, Anaximenes menyatakan:
Just as our soul, being air, holds us together and controls us, so does breath and air encompass the whole world. (Fragment 2, Diels–Kranz, hlm. 64)
Dari kutipan ini terlihat bahwa udara bukan hanya unsur fisik, melainkan juga memiliki dimensi spiritual atau vital. Jiwa manusia, menurutnya, adalah udara yang menghidupkan tubuh; demikian pula alam semesta memiliki “jiwa kosmis” berupa udara yang menyelimuti dan menata segalanya.
Anaximenes menjelaskan bahwa melalui proses condensation dan rarefaction, udara dapat berubah menjadi berbagai bentuk materi:
Dengan demikian, segala bentuk materi berasal dari transformasi berkelanjutan satu unsur dasar yang sama — udara.
Konsep condensation dan rarefaction merupakan kontribusi ilmiah penting dari Anaximenes. Ia adalah filsuf pertama yang menjelaskan perubahan alam sebagai hasil dari proses kuantitatif yang berkesinambungan, bukan perubahan esensial dari satu substansi ke substansi lain.
Ia menulis:
Air differs in kind according to its rarity or density; when it is made finer, it becomes fire; when thicker, it becomes wind, then cloud, and when thickened still more, it becomes water, then earth, then stones. (Fragment 3, Diels–Kranz, hlm. 65)
Dengan teori ini, Anaximenes menjembatani pandangan Thales (yang menekankan unsur air) dan Anaximander (yang menekankan prinsip abstrak apeiron). Ia menawarkan pandangan yang lebih empiris dan konkret tentang realitas, namun tetap mengandung dimensi spiritual — sebab udara baginya bukan sekadar materi, tetapi juga kekuatan hidup yang menata kosmos.
Pandangan Anaximenes mencerminkan keyakinan mendalam akan kesatuan antara manusia dan alam. Jiwa individu dan jiwa dunia adalah manifestasi dari substansi yang sama, yaitu udara. Hal ini menandai salah satu bentuk awal dari pantheisme Yunani — pandangan bahwa segala sesuatu adalah satu dan hidup di bawah prinsip yang sama.
Udara menghubungkan semua bentuk kehidupan, menjadi simbol transendensi antara materi dan roh. Dalam pengertian ini, filsafat Anaximenes tidak hanya fisik, tetapi juga mengandung makna metafisik dan spiritual yang mendalam.
Anaximenes melanjutkan tradisi rasionalisme Ionia, yaitu usaha menjelaskan alam berdasarkan prinsip alamiah tanpa mengandalkan mitos atau dewa-dewa. Ia memperkenalkan metode penalaran sebab-akibat (aitia) yang menjadi cikal bakal pendekatan ilmiah dalam memahami fenomena kosmos.
Aristoteles dalam Meteorologica mengakui peran penting Anaximenes dalam pengembangan pemikiran ilmiah awal:
Anaximenes determined the nature of the underlying substance and the process by which change occurs. (Meteorologica, I.3)
Melalui pandangannya, Anaximenes berkontribusi pada perkembangan teori kontinuitas — gagasan bahwa perubahan dalam alam terjadi secara bertahap, bukan melalui lompatan ontologis.
Pemikiran Anaximenes memiliki pengaruh besar terhadap filsafat klasik, terutama pada Herakleitos dan Stoisisme. Gagasannya tentang udara sebagai kekuatan hidup menginspirasi konsep pneuma (napas hidup) dalam filsafat Stoa, yang dianggap sebagai prinsip rasional yang menembus seluruh alam semesta.
Dalam tradisi ilmiah, teori transformasi materi Anaximenes juga menjadi dasar bagi gagasan tentang perubahan wujud zat dan kesetimbangan termodinamika pada masa modern.
Anaximenes menempati posisi penting dalam sejarah filsafat karena usahanya menghubungkan rasionalitas metafisik dengan pengamatan empiris. Ia menegaskan bahwa alam semesta memiliki prinsip tunggal — udara — yang menjadi sumber kehidupan dan keteraturan.
Melalui teori aēr, condensation, dan rarefaction, ia tidak hanya menjelaskan perubahan fisik, tetapi juga mengajukan pandangan spiritual tentang kesatuan manusia dengan kosmos. Dalam dirinya, kita melihat awal dari upaya manusia memahami dunia melalui perpaduan antara akal, pengamatan, dan intuisi metafisik.
Aēr berarti udara, yang bagi Anaximenes adalah prinsip dasar dari segala sesuatu, bersifat hidup, dan menjadi sumber serta pengatur seluruh alam semesta.
Perubahan terjadi melalui proses condensation (pemadatan) dan rarefaction (pengenceran) udara, yang menghasilkan berbagai bentuk materi dari api hingga batu.
Karena udara adalah substansi yang menembus dan menghidupkan semua hal, sebagaimana jiwa menghidupkan tubuh manusia; udara menyatukan dan mengatur keseluruhan kosmos.