Etnofasisme

Dipublikasikan: 14 Oktober 2025

Terakhir diperbarui: 14 Oktober 2025

Raymond Kelvin Nando — Etnofasisme merupakan ideologi politik yang menggabungkan nasionalisme ekstrem berbasis etnis dengan struktur kekuasaan otoritarian dan totaliter sebagaimana ditemukan dalam fasisme klasik. Ideologi ini menempatkan identitas etnis atau ras tertentu sebagai inti dari kehidupan politik, sosial, dan budaya, serta menganggap kelompok lain sebagai ancaman terhadap kemurnian dan kesatuan nasional. Etnofasisme sering muncul dalam konteks krisis sosial atau disintegrasi nasional, ketika sentimen etnis dijadikan sarana mobilisasi kekuasaan dan kekerasan politik.

Pengertian Etnofasisme

Etnofasisme dapat didefinisikan sebagai bentuk fasisme yang menjadikan etnisitas sebagai dasar ideologis dan moral bagi pembentukan negara dan masyarakat, di mana keanggotaan bangsa diukur bukan oleh kewarganegaraan politik, melainkan oleh asal-usul etnis atau ras.

Konsep ini berakar dari etnonasionalisme abad ke-19 yang berkembang menuju ekstremisme pada abad ke-20, terutama dalam ideologi Nazisme di Jerman dan berbagai gerakan etno-supremasis di masa kontemporer.

“The Volk is not merely a collection of individuals, but a living organism bound by blood.”
— Adolf Hitler, Mein Kampf, p. 386

Dalam kerangka etnofasisme, Volk atau bangsa dianggap sebagai entitas biologis dan spiritual yang suci, sehingga melindungi “kemurnian” rasial menjadi kewajiban moral tertinggi negara.

Tokoh Etnofasisme

Meskipun tidak selalu disebut secara eksplisit “etnofasis,” sejumlah tokoh dan gerakan historis memperlihatkan karakteristik yang kuat dari ideologi ini:

  • Adolf Hitler, melalui ideologi Nazisme, menjadikan ras Arya sebagai pusat eksistensi negara Jerman.
  • Corneliu Zelea Codreanu, pemimpin Iron Guard di Rumania, menggabungkan mistisisme Ortodoks dengan nasionalisme etnis dan antikomunisme militan.
  • Ante Pavelić, pendiri Ustaša di Kroasia, yang mendorong kebijakan pembersihan etnis terhadap Serbia dan Yahudi.
  • Dalam konteks modern, varian etnofasisme dapat terlihat dalam retorika supremasis kulit putih dan gerakan identitarian di Eropa dan Amerika.

“A nation is not merely a political construction, but a racial reality.”
— Corneliu Zelea Codreanu, For My Legionaries, p. 211

Prinsip dan Gagasan Utama Etnofasisme

Supremasi Etnis dan Kemurnian Ras

Etnofasisme berangkat dari keyakinan bahwa hanya satu etnis atau ras tertentu yang layak memimpin atau mendominasi wilayah tertentu. Identitas nasional dibangun berdasarkan keseragaman biologis dan budaya.

“The Aryan stands at the top, and all other races must submit.”
— Adolf Hitler, Mein Kampf, p. 392

Dalam pandangan ini, pluralitas budaya dan percampuran etnis dianggap sebagai ancaman terhadap kekuatan bangsa, sehingga kebijakan segregasi, deportasi, atau genosida sering dijustifikasi.

Orang lain juga membaca :  Anarko-Sindikalisme

Negara Totaliter Berbasis Etnis

Negara dalam etnofasisme dipandang sebagai alat untuk melindungi dan memperkuat kelompok etnis dominan.

“The State exists to serve the race, and not the race to serve the State.”
— Heinrich Himmler, Speech to SS Officers, 1937

Pemerintahan otoritarian dipandang perlu untuk memastikan kesatuan etnis tetap terjaga, dan semua oposisi dianggap pengkhianatan terhadap “darah bangsa.”

Kultus Tanah Air dan Mitos Asal-Usul

Etnofasisme sering membangun narasi mitologis tentang tanah air sebagai ruang suci yang hanya dapat dihuni oleh “bangsa asli.”

“Our blood is our soil.”
— Nazi slogan, Blut und Boden, 1930s

Konsep Blut und Boden (darah dan tanah) menjadi simbol keterikatan antara ras dan wilayah, yang menolak kehadiran kelompok lain dengan dalih menjaga kesucian sejarah nasional.

Kekerasan sebagai Instrumen Pemurnian

Kekerasan dalam etnofasisme tidak hanya dianggap sah, tetapi juga dianggap sebagai alat penyucian bangsa.

“Violence is not evil when it serves the purity of the nation.”
— Corneliu Zelea Codreanu, For My Legionaries, p. 218

Prinsip ini menjelaskan mengapa gerakan etnofasis cenderung menormalisasi kekerasan politik, milisi bersenjata, dan kultus kemartiran bagi bangsa.

FAQ

Apakah etnofasisme sama dengan nasionalisme?

Tidak. Nasionalisme menekankan cinta tanah air dan identitas politik bersama, sedangkan etnofasisme mendasarkan legitimasi bangsa pada keseragaman etnis dan biologis.

Apakah etnofasisme hanya terjadi di Eropa?

Tidak. Meskipun lahir dari konteks Eropa, pola pikir etnofasis dapat muncul di berbagai wilayah, termasuk Asia atau Afrika, ketika etnis dominan menggunakan kekuasaan untuk menindas kelompok minoritas.

Referensi

  • Hitler, A. (1925). Mein Kampf. Munich: Franz Eher Verlag.
  • Codreanu, C. Z. (1936). For My Legionaries. Bucharest: Iron Guard Press.
  • Payne, S. G. (1995). A History of Fascism, 1914–1945. Madison: University of Wisconsin Press.
  • Griffin, R. (1993). The Nature of Fascism. London: Routledge.
  • Eatwell, R. (2003). Fascism: A History. London: Chatto & Windus.
  • Forchtner, B. (2019). The Far Right and the Environment. London: Routledge.

Citation

Previous Article

Ekofasisme

Next Article

Etnonasionalisme

Citation copied!