Dipublikasikan: 12 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 12 Oktober 2025
Dipublikasikan: 12 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 12 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Anarkisme Kolektivis merupakan salah satu bentuk klasik dari anarkisme sosial yang berakar pada perjuangan kelas pekerja abad ke-19. Ideologi ini memadukan semangat pembebasan dari otoritas negara dengan penolakan terhadap kepemilikan pribadi atas alat produksi. Bagi para penganutnya, kebebasan sejati hanya dapat terwujud bila produksi dan kekayaan kolektif dikelola secara bersama oleh para pekerja sendiri. Anarkisme kolektivis menekankan kerja sama sosial, solidaritas, dan desentralisasi ekonomi sebagai pondasi bagi masyarakat yang adil dan setara.
Daftar Isi
Anarkisme Kolektivis adalah aliran anarkisme yang menekankan kepemilikan kolektif atas sarana produksi dan pengelolaan ekonomi secara demokratis oleh pekerja. Ideologi ini menolak kapitalisme, negara, dan sistem upah, karena ketiganya dianggap menciptakan ketimpangan sosial serta penindasan struktural.
Dalam masyarakat kolektivis, hasil produksi dibagi berdasarkan kerja dan kebutuhan komunitas, bukan keuntungan pribadi. Prinsip ini berpijak pada keyakinan bahwa kerja manusia memiliki nilai sosial, dan oleh karena itu, buah kerja tidak boleh menjadi alat dominasi atau akumulasi kekuasaan.
Gerakan ini muncul kuat di Eropa, terutama di kalangan buruh Spanyol, Italia, dan Swiss pada akhir abad ke-19, dan menjadi salah satu fondasi intelektual bagi pembentukan First International (Asosiasi Buruh Internasional).
Mikhail Bakunin adalah tokoh sentral dalam pengembangan anarkisme kolektivis. Dalam karyanya Statism and Anarchy (1873), ia menegaskan bahwa kebebasan sejati tidak mungkin dicapai melalui negara atau partai revolusioner mana pun, karena setiap bentuk kekuasaan politik cenderung melahirkan tirani.
“Kebebasan tanpa sosialisme adalah hak istimewa; sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebiadaban.”
— Mikhail Bakunin, Statism and Anarchy, hlm. 178
James Guillaume, murid dan rekan Bakunin dalam International Workingmen’s Association (IWA), memperdalam gagasan kolektivisasi sebagai jalan praktis menuju masyarakat bebas. Ia menekankan bahwa organisasi buruh harus menjadi alat langsung untuk menghapus kapitalisme dan negara, bukan sekadar alat reformasi.
Carlo Cafiero, seorang revolusioner Italia, turut mengartikulasikan anarkisme kolektivis sebagai sistem ekonomi di mana kerja adalah hak dan kewajiban sosial. Ia menulis bahwa kolektivisasi tidak berarti penghapusan individu, melainkan pembebasan individu dari eksploitasi ekonomi.
Ketiga tokoh ini membentuk dasar intelektual bagi anarkisme sosial yang berorientasi pada penghapusan hierarki ekonomi dan penciptaan solidaritas berbasis kerja.
Inti dari anarkisme kolektivis adalah penghapusan kepemilikan pribadi atas alat produksi dan pembentukan sistem produksi yang dikelola oleh para pekerja. Dalam masyarakat kolektivis, pabrik, lahan, dan sumber daya menjadi milik bersama yang dikelola melalui dewan pekerja dan federasi lokal.
“Masyarakat bebas hanya mungkin bila produksi dan distribusi berada di tangan mereka yang bekerja, bukan mereka yang berkuasa.”
— James Guillaume, Ideas on Social Organization, hlm. 42
Sistem ini tidak mengenal majikan atau buruh dalam arti kapitalistik. Setiap individu memiliki hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan menerima hasil kerja sesuai kontribusi sosialnya. Dengan demikian, ekonomi tidak lagi menjadi instrumen dominasi, tetapi ruang solidaritas.
Bagi Bakunin dan para kolektivis, negara adalah bentuk tertinggi dari penindasan, karena ia memusatkan kekuasaan di tangan segelintir orang atas nama rakyat. Mereka menolak pandangan Marxis yang menganggap negara dapat menjadi alat transisi menuju sosialisme.
“Setiap negara, meskipun disebut rakyat sekalipun, adalah mesin penindasan.”
— Mikhail Bakunin, God and the State, hlm. 67
Anarkisme kolektivis memperjuangkan penghapusan negara secara langsung, menggantinya dengan federasi bebas antara komunitas dan serikat pekerja. Dalam sistem ini, koordinasi menggantikan komando, dan kebebasan individu dijaga melalui kesepakatan kolektif, bukan paksaan hukum.
Prinsip solidaritas menjadi inti moral dari anarkisme kolektivis. Kebebasan individu tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan sosial; keduanya saling memperkuat dalam masyarakat tanpa kelas.
“Kebebasan individu tumbuh dari solidaritas bersama, bukan dari persaingan.”
— Carlo Cafiero, The Revolution of 1877, hlm. 95
Solidaritas tidak hanya berarti membantu sesama, tetapi juga mengakui keterikatan eksistensial antarindividu dalam kehidupan sosial. Dalam anarkisme kolektivis, tanggung jawab terhadap komunitas adalah bentuk tertinggi dari kebebasan itu sendiri.
Anarkisme kolektivis membagi hasil produksi berdasarkan kerja, sedangkan komunisme anarkis membagi berdasarkan kebutuhan. Keduanya menolak negara dan kapitalisme, namun komunisme anarkis menekankan distribusi tanpa perantara kerja sebagai ukuran nilai.
Tidak untuk barang konsumsi pribadi, seperti rumah atau pakaian. Yang dihapus adalah kepemilikan atas alat produksi dan sumber daya yang digunakan untuk mengeksploitasi kerja orang lain.
Ya. Prinsip demokrasi ekonomi, desentralisasi, dan solidaritas sosial semakin relevan dalam menghadapi ketimpangan global dan konsentrasi kekuasaan korporasi. Banyak gerakan koperasi modern dan ekonomi solidaritas terinspirasi oleh prinsip kolektivisme anarkis.