Dipublikasikan: 12 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 12 Oktober 2025
Dipublikasikan: 12 Oktober 2025
Terakhir diperbarui: 12 Oktober 2025
Raymond Kelvin Nando — Anarko-feminisme adalah ideologi yang memadukan prinsip-prinsip anarkisme dengan feminisme radikal untuk menentang semua bentuk dominasi, baik yang berbasis pada negara, kapitalisme, maupun patriarki. Ia berangkat dari keyakinan bahwa penindasan terhadap perempuan dan sistem kekuasaan politik saling terkait secara struktural. Dengan demikian, pembebasan perempuan tidak dapat dicapai tanpa pembongkaran hierarki kekuasaan secara menyeluruh. Anarko-feminisme menempatkan kebebasan personal, kesetaraan, dan solidaritas sebagai dasar pembentukan masyarakat yang bebas dari penindasan dalam bentuk apa pun.
Daftar Isi
Anarko-feminisme, sering disebut juga feminisme libertarian, adalah cabang dari anarkisme yang mengintegrasikan perjuangan gender dengan perjuangan sosial yang lebih luas. Ideologi ini menolak pandangan bahwa patriarki dapat dihapus hanya melalui reformasi hukum atau representasi politik perempuan. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa patriarki tertanam dalam struktur sosial yang sama yang menciptakan negara, kapitalisme, dan agama institusional.
Dalam kerangka anarko-feminisme, kebebasan individu tidak bisa direalisasikan selama masih ada bentuk dominasi yang menindas satu jenis kelamin atas yang lain. Oleh karena itu, perjuangan feminis harus bersifat revolusioner, menghapus bukan hanya diskriminasi gender, tetapi juga sistem kekuasaan yang menopangnya.
Anarko-feminisme juga menekankan pentingnya pengorganisasian horizontal dan kerja kolektif, di mana setiap individu memiliki suara yang sama. Prinsip ini diterapkan dalam komunitas, kelompok aktivis, dan jaringan solidaritas yang menolak otoritas formal dan menumbuhkan kesadaran sosial melalui tindakan langsung.
Emma Goldman adalah tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan anarko-feminisme klasik. Dalam karyanya Anarchism and Other Essays (1910), ia menulis bahwa kebebasan perempuan tidak dapat dicapai melalui hukum atau institusi negara, melainkan melalui pembebasan diri dari dalam. Goldman mengkritik pernikahan, agama, dan moralitas tradisional sebagai bentuk perbudakan modern yang mengekang perempuan.
“Perempuan tidak akan bebas sampai ia tidak lagi meminta kebebasan, tetapi mengambilnya.”
— Emma Goldman, Anarchism and Other Essays, hlm. 211
Voltairine de Cleyre, melalui esainya Sex Slavery (1895), menggambarkan bagaimana struktur sosial dan ekonomi memperlakukan perempuan sebagai komoditas. Ia menegaskan bahwa kebebasan sejati harus melibatkan pembongkaran semua institusi yang membatasi peran dan pilihan perempuan.
Tokoh modern seperti Peggy Kornegger, dengan tulisannya Anarchism: The Feminist Connection (1975), menyoroti hubungan langsung antara anarkisme dan feminisme, dengan menegaskan bahwa keduanya menolak semua bentuk hierarki dan otoritas yang menindas.
Ketiga tokoh ini menegaskan bahwa anarko-feminisme bukan sekadar cabang dari feminisme, tetapi evolusi dari anarkisme itu sendiri — memperluas gagasan kebebasan ke ranah pribadi, tubuh, dan relasi sosial.
Anarko-feminisme menilai bahwa patriarki adalah bentuk tertua dari sistem dominasi, dan bahwa semua struktur kekuasaan modern — negara, gereja, dan kapitalisme — dibangun di atas logika patriarkal. Oleh karena itu, perjuangan melawan patriarki harus bersamaan dengan perjuangan melawan otoritarianisme.
“Negara adalah perpanjangan dari kekuasaan laki-laki atas perempuan.”
— Peggy Kornegger, Anarchism: The Feminist Connection, hlm. 12
Ideologi ini tidak memisahkan antara perjuangan sosial dan personal. Anarko-feminisme berupaya menghancurkan dualisme publik-pribadi yang membuat penindasan domestik tampak “alami”. Ia menuntut kebebasan total, baik dalam ruang politik maupun dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam tubuh dan relasi cinta.
Salah satu kontribusi penting anarko-feminisme adalah penegasan bahwa tubuh dan seksualitas adalah medan politik. Kontrol atas tubuh perempuan — melalui hukum, agama, atau norma sosial — dianggap sebagai bentuk dominasi yang sama dengan eksploitasi ekonomi.
“Kebebasan cinta tidak berarti kebebasan untuk mengeksploitasi, melainkan kebebasan untuk memilih tanpa rasa takut.”
— Emma Goldman, Marriage and Love, hlm. 94
Dalam pandangan ini, kebebasan seksual bukan sekadar persoalan moral, tetapi bagian dari perjuangan melawan kekuasaan. Tubuh yang bebas adalah simbol perlawanan terhadap semua bentuk otoritas yang mengatur bagaimana seseorang harus hidup dan mencintai.
Anarko-feminisme menolak bentuk organisasi hierarkis karena dianggap mereproduksi nilai patriarkal. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya jaringan horizontal yang berbasis solidaritas, saling mendukung, dan berbagi tanggung jawab.
“Kita tidak ingin menjadi bagian dari sistem kekuasaan, kita ingin mengakhirinya.”
— Voltairine de Cleyre, Selected Works, hlm. 176
Struktur horizontal ini menciptakan ruang aman bagi perempuan dan kelompok tertindas untuk berpartisipasi secara setara dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian, anarko-feminisme menggabungkan teori dengan praktik — menghidupi prinsip anarkisme dalam bentuk kolektif dan relasional yang nyata.
Feminisme liberal berfokus pada kesetaraan dalam sistem yang ada, seperti representasi politik dan hak hukum, sedangkan anarko-feminisme menolak seluruh struktur kekuasaan yang menopang patriarki, termasuk negara dan kapitalisme.
Tidak. Anarko-feminisme menolak sistem patriarki, bukan individu laki-laki. Ia mendorong kesadaran bahwa semua gender memiliki tanggung jawab bersama untuk menghancurkan struktur penindasan yang saling mengikat.
Sangat relevan. Dalam konteks krisis gender, kekerasan domestik, dan ketimpangan ekonomi global, anarko-feminisme menawarkan perspektif pembebasan yang menyeluruh, menghubungkan perjuangan feminis dengan ekologi, anti-kapitalisme, dan hak tubuh.