Raymond Kelvin Nando — Socrates adalah seorang filsuf besar Yunani kuno yang dianggap sebagai pendiri etika Barat dan metode berpikir kritis filosofis. Ia hidup di Athena pada abad ke-5 SM dan dikenal bukan melalui tulisan tangannya sendiri, tetapi melalui karya murid-muridnya seperti Plato dan Xenophon. Sosoknya menjadi simbol pencarian kebenaran, keteguhan moral, dan komitmen terhadap kebijaksanaan rasional di tengah relativisme moral zaman itu.
Daftar Isi
Biografi Socrates
Socrates lahir di Athena sekitar tahun 470 SM dari keluarga sederhana — ayahnya seorang pemahat, Sophroniscus, dan ibunya seorang bidan, Phaenarete. Ia memperoleh pendidikan dasar seperti warga Athena pada umumnya, tetapi kemudian mengembangkan pemikiran yang jauh melampaui konteks sosial dan politik zamannya. Ia hidup di masa kejayaan intelektual Athena, sezaman dengan para sofis seperti Protagoras dan Gorgias, yang mengajarkan retorika dan relativisme moral.
Socrates tidak meninggalkan tulisan apa pun. Pemikirannya dikenal terutama melalui dialog-dialog Plato seperti Apologia, Crito, dan Phaedo, serta karya Xenophon. Berbeda dari para sofis, ia tidak mengajarkan demi bayaran dan menolak mengklaim dirinya sebagai guru. Ia justru mengaku tidak tahu apa pun, dan menjadikan pengakuan atas ketidaktahuan itu sebagai awal dari kebijaksanaan.
Aktivitas utama Socrates adalah berdialog di tempat umum — pasar, gymnasium, atau jalan-jalan Athena. Ia menggunakan metode tanya jawab untuk mengguncang keyakinan orang tentang apa yang mereka anggap benar. Melalui elenchus (pemeriksaan silang), ia memaksa lawan bicaranya menyadari kontradiksi dalam pemikiran mereka sendiri.
Socrates dituduh merusak moral pemuda dan tidak menghormati dewa-dewa kota. Pada tahun 399 SM, ia diadili dan dijatuhi hukuman mati dengan meminum racun hemlock. Namun, kematiannya bukan akhir dari pengaruhnya. Melalui Plato, Socrates menjadi arketipe filsuf yang hidup demi kebenaran dan integritas moral, serta simbol kebebasan berpikir yang tak tunduk pada kekuasaan.
Konsep-Konsep Utama
Etika & Kebajikan (Virtue Ethics)
Dalam etika Socrates, kebajikan selalu dipahami sebagai bentuk pengetahuan, sehingga seluruh kehidupan moral manusia bertumpu pada kemampuan untuk menilai dengan benar apa yang baik. Ketika ia mengatakan bahwa kebajikan adalah pengetahuan, ia tidak bermaksud bahwa kebajikan hanyalah teori, melainkan bahwa setiap tindakan moral hanya mungkin jika seseorang mengetahui apa yang benar, memahami alasannya, dan mampu melihat konsekuensi dari tindakannya secara jernih. Dari sini muncul pandangannya yang terkenal bahwa tidak ada orang yang secara sengaja berbuat jahat; seseorang berbuat jahat hanya karena ia keliru dalam menilai, keliru memahami apa yang sebenarnya baik bagi dirinya dan bagi komunitasnya. Ketidaktahuan menjadi akar dari seluruh tindakan keliru, sehingga pendidikan moral bukan persoalan pemberian aturan, tetapi proses memperbaiki penilaian, memperjelas konsep-konsep, dan memurnikan akal agar mampu membedakan kebaikan yang sejati dari yang tampak seperti kebaikan.
Socrates sering berbicara seolah-olah semua kebajikan dapat direduksi menjadi satu kemampuan dasar: kemampuan menghakimi dengan benar—kemampuan menilai apa yang harus dilakukan dalam situasi tertentu dan mengapa tindakan itu merupakan tindakan yang baik. Karena itu ia kadang mengatakan bahwa hanya ada satu kebajikan, yaitu right judgement, sedangkan keberanian, keadilan, ketemperaturan, dan kebijaksanaan hanyalah manifestasi dari satu kapasitas ini. Bila seseorang mengetahui apa itu kebaikan, ia akan secara otomatis bertindak baik; dan bila ia bertindak keliru, itu menandakan bahwa ia belum memahami kebaikan secara utuh. Dengan demikian, moralitas menjadi sesuatu yang sangat rasional: kehidupan baik adalah kehidupan di mana akal bekerja secara penuh, menuntun tindakan dengan penilaian yang benar, dan menjaga keselarasan antara kehendak dan kebaikan.
Namun Socrates juga menyadari adanya ketegangan dalam kehidupan moral. Ia membedakan antara kebajikan intelektual—yang bersifat satu, dapat diajarkan, dan terkait kemampuan memahami prinsip-prinsip moral—dengan kebajikan alami atau disposisi bawaan, seperti keberanian spontan atau temperamen tertentu, yang tidak sepenuhnya dapat diajarkan. Ketegangan ini tampak ketika ia berbicara tentang bagaimana kebajikan dapat diajarkan, tetapi juga mengakui bahwa tidak ada guru kebajikan yang nyata. Bagi Socrates, seseorang dapat dibantu, diarahkan, dan dibimbing menuju pemahaman, tetapi tidak dapat “diisi” dengan kebajikan secara pasif; setiap orang harus meraihnya melalui dialog, refleksi diri, dan pengujian akalnya sendiri.
Karena kebajikan adalah pengetahuan, latihan moral bukanlah pembiasaan buta, melainkan selalu disertai dengan pemahaman. Manusia bertindak sesuai dengan apa yang ia anggap benar—dan karena itu, jika pemahamannya keliru, tindakannya pun keliru. Prinsip ini menjelaskan mengapa Socrates begitu menekankan pemeriksaan diri dan dialog kritis. Dengan menguji pendapat, memperjelas konsep, dan membongkar asumsi yang tidak berdasar, ia membantu orang lain menyadari di mana mereka keliru. Ini bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk membebaskan mereka dari ketidaktahuan yang merusak. Kebajikan tumbuh ketika seseorang mengizinkan dirinya diperiksa, diuji, dan dibimbing menuju pengertian yang lebih jernih.
Bagi Socrates, akhirnya, kebajikan juga memiliki aspek estetik. Apa yang baik selalu indah, dan apa yang benar selalu harmonis dengan diri manusia. Ketika seseorang bertindak berdasarkan penilaian yang benar, ia bukan hanya menjadi lebih baik secara moral tetapi juga lebih utuh sebagai manusia—lebih selaras dengan hakikatnya sendiri. Dengan demikian, etika Socrates tidak hanya membicarakan aturan atau kewajiban, tetapi menempatkan pencarian kebenaran sebagai inti kehidupan moral. Kebajikan tidak lain adalah kemampuan untuk hidup sesuai dengan kebaikan yang dipahami dengan jelas, dan seluruh filosofi Socrates adalah ajakan untuk memperdalam penilaian itu, karena kehidupan yang baik hanya mungkin jika seseorang memahami dan mencintai kebaikan secara sadar.
Eudaimonia & Tujuan Hidup
Dalam pemikiran Socrates, eudaimonia menjadi pusat dari seluruh etika, sehingga semua pembicaraan tentang kebajikan, pengetahuan, dan penilaian moral sebenarnya diarahkan untuk menjawab satu pertanyaan fundamental: bagaimana manusia dapat hidup dengan baik? Eudaimonia bukan sekadar kebahagiaan emosional atau kesenangan sesaat, melainkan kondisi kebermaknaan yang menyeluruh—kehidupan yang selaras dengan kebaikan, dijalani dengan pemahaman yang jernih, dan dipandu oleh akal yang terlatih.
Bagi Socrates, seseorang tidak cukup menjalani hidup; ia harus tahu apa yang sedang dijalaninya dan mengapa ia memilih jalannya. Tanpa pemahaman diri dan pemeriksaan moral yang terus-menerus, hidup kehilangan arah dan kualitasnya turun menjadi rutinitas yang kosong. Inilah alasan ia mengatakan bahwa hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani.
Menempatkan eudaimonia sebagai tujuan hidup berarti bahwa pencarian kebaikan merupakan pusat eksistensi manusia. Socrates tidak pernah menyarankan bahwa kebahagiaan datang dari keberuntungan, harta, atau kekuasaan.
Sebaliknya, ia menegaskan bahwa semua hal eksternal bersifat netral: mereka hanya baik jika digunakan oleh orang yang memiliki kebijaksanaan. Karena itu, manusia harus terlebih dahulu bertanya kepada dirinya, bukan “apa yang harus saya lakukan untuk menjadi sukses?”, tetapi “manusia seperti apa yang harus saya menjadi?”. Pertanyaan etis berubah dari perintah dan larangan menjadi refleksi tentang karakter—tentang bagaimana seseorang membentuk jiwanya sendiri agar mampu menjalani kehidupan yang baik. Eudaimonia pada akhirnya bukan hadiah dari luar, tetapi hasil dari pembentukan diri melalui dialektika, penilaian yang tepat, dan komitmen terhadap kebenaran.
Bahwa orang baik tidak dapat dirugikan. Ia tidak bermaksud bahwa orang baik kebal dari penderitaan fisik atau ketidakadilan sosial; ia sendiri mengalami pengadilan yang tidak adil. Tetapi inti ucapannya adalah bahwa eudaimonia terletak di dalam jiwa, bukan pada keadaan luar. Ketika seseorang telah membangun dirinya berdasarkan pengetahuan, ketika ia hidup dengan kebenaran dan kebajikan, tidak ada tindakan eksternal yang dapat merusak apa yang menjadi pusat nilainya. Kerugian sejati hanya terjadi ketika seseorang merusak jiwanya sendiri—ketika ia bertindak tidak adil, atau ketika ia mengkhianati apa yang ia tahu sebagai kebenaran. Dengan demikian, eudaimonia menjadi standar moral tertinggi: ia menentukan tindakan, membimbing keputusan, dan membantu seseorang tetap teguh bahkan dalam situasi paling sulit.
Karena eudaimonia adalah hasil dari kehidupan yang terperiksa, filsafat menjadi bagian esensial dari hidup, bukan sekadar latihan teoretis. Bagi Socrates, menjalani filsafat berarti terus-menerus menguji motif, keyakinan, dan tindakan; memurnikan penilaian sampai ia mencerminkan kebaikan itu sendiri. Ini bukan pencarian yang dilakukan sekali untuk selamanya, melainkan proses seumur hidup, di mana seseorang terus bergerak mendekati kehidupan yang lebih baik. Dengan cara ini, eudaimonia tidak bersifat statis, tetapi tumbuh bersama perkembangan moral dan intelektual seseorang. Hidup yang baik adalah hidup yang terus disempurnakan.
Pada akhirnya, pusat etika Socrates bukan pada aturan atau konsekuensi, melainkan pada pemahaman diri dan pembentukan karakter. Eudaimonia adalah tujuan hidup bukan karena itu membuat manusia senang, tetapi karena itu mewakili pemenuhan hakikat manusia sebagai makhluk berakal yang dituntut untuk hidup dalam kebenaran. Orang yang mencapai eudaimonia bukan sekadar bahagia; ia utuh, selaras, teguh, dan bebas dari kerusakan moral. Itulah bentuk kehidupan yang bagi Socrates merupakan keindahan moral tertinggi, sekaligus tujuan eksistensi manusia yang paling mendasar.
Rasionalitas & Metode Dialektika
Manusia hanya dapat hidup dengan baik jika ia membiarkan akalnya bekerja secara penuh. Akal bukan sekadar alat untuk menyusun argumen, tetapi kapasitas yang memungkinkan manusia memahami hakikat dirinya, menilai tindakannya, dan memeriksa keyakinannya.
Karena itu, filsafat bagi Socrates bukan sistem doktrin, melainkan sebuah kegiatan mental yang terus menerus: bertanya, menguji, mengklarifikasi, dan memurnikan pikiran hingga seseorang dapat melihat kebenaran tanpa kabut kepentingan pribadi atau asumsi keliru.
Rasionalitas tidak dipisahkan dari kehidupan moral, karena hanya akal yang mampu menuntun manusia menuju kebaikan. Tanpa rasionalitas, manusia bertindak berdasarkan kebiasaan, emosi, atau opini umum, bukan berdasarkan pemahaman yang sejati.
Metode utama yang digunakan Socrates untuk menjalankan rasionalitas ini adalah dialektika, terutama bentuk yang kita sebut elenkhos—proses tanya-jawab ketat yang bertujuan menguji konsistensi pemikiran seseorang. Metode ini bukan tentang mengalahkan lawan bicara, tetapi tentang membuat ide-ide mereka saling berhadapan dan saling membantah hingga ketidakkonsistenan muncul dengan sendirinya. Dialektika bukan sekadar teknik retoris; ia merupakan cara Socrates membangkitkan pengetahuan dari dalam diri seseorang. Pengetahuan sejati, menurutnya, tidak ditanamkan dari luar, melainkan lahir melalui proses penyadaran, di mana seseorang menyadari bahwa ia sebenarnya tidak tahu atau bahwa ia memegang premis-premis yang tidak konsisten. Inilah mengapa dialog Socrates selalu dimulai dari kesepakatan bersama: hanya premis yang benar-benar diyakini oleh lawan bicara yang dapat digunakan. Premis yang tidak diakui tidak layak diperdebatkan, karena dialog harus dibangun di atas fondasi yang jujur.
Dalam dialektika, Socrates juga menunjukkan kecenderungan mendefinisikan. Ia selalu mencari esensi suatu konsep—apa itu keadilan, keberanian, kesalehan—bukan hanya memberikan contoh atau deskripsi. Mencari definisi bukan sekadar latihan logika, tetapi usaha moral untuk memahami apa yang sebenarnya kita lakukan ketika kita menyebut sesuatu sebagai baik atau buruk. Bagi Socrates, jika seseorang tidak mampu memberikan definisi jelas tentang kebajikan yang ia klaim miliki, maka ia sebenarnya tidak memiliki kebajikan itu secara sejati. Rasionalitas menuntut ketepatan konsep, dan ketepatan konsep memungkinkan tindakan moral yang konsisten.
Kesadaran Socrates akan pentingnya kesepakatan bersama juga membuat dialektikanya berbeda dari sekadar argumentasi. Ia tidak memaksakan premis; ia meminta lawan bicara mengakui sendiri premis tersebut. Dengan demikian, kebenaran muncul dari dialog, bukan dari otoritas eksternal. Dialog menjadi sarana bagi komunitas intelektual untuk bersama-sama mendekati kebenaran, menunjukkan bahwa rasionalitas bukan proses soliter tetapi upaya bersama yang berakar pada kejujuran dan keterbukaan. Ide muncul melalui komunikasi, dan alasan dicapai melalui komunitas—sebuah gagasan yang telah dibayangkan Socrates jauh sebelum filsafat modern mengartikulasikannya secara eksplisit.
Ketidaktahuan & Sikap terhadap Kesalahan
Ketidaktahuan bukanlah aib yang harus disembunyikan, melainkan titik awal dari seluruh filsafat dan seluruh kehidupan moral. Ia terkenal dengan pernyataan bahwa ia “hanya mengetahui bahwa ia tidak tahu,” sebuah pengakuan yang bukan menunjukkan kehampaan intelektual, tetapi kedewasaan batin untuk melihat keterbatasan diri. Ketidaktahuan yang disadari membuka ruang bagi pencarian kebenaran, sementara ketidaktahuan yang tak disadari—yang disertai keyakinan diri palsu—justru menjadi sumber segala keburukan. Socrates memerangi bentuk ketidaktahuan kedua ini, yang ia sebut hubris intelektual: keadaan ketika seseorang percaya ia telah mengetahui sesuatu padahal belum pernah mengujinya secara rasional. Bagi Socrates, seseorang menjadi bijak bukan ketika ia mengoleksi banyak informasi, tetapi ketika ia memahami betapa banyak hal yang belum ia mengerti.
Dari kesadaran inilah muncul sikap Socrates terhadap kesalahan yang begitu khas dan radikal. Ia tidak memandang kesalahan sebagai kegagalan, melainkan sebagai kesempatan paling berharga untuk mendekat kepada kebenaran. Setiap kali argumennya terbukti keliru, Socrates merasa senang, bukan malu—karena ia menganggap koreksi sebagai bentuk kemajuan moral dan intelektual. Jika ada orang yang menunjukkan bahwa ia salah, itu berarti ia telah diselamatkan dari kekeliruan yang sebelumnya ia tidak sadari. Dengan demikian, kesalahan bukan hanya sesuatu yang boleh, tetapi sesuatu yang harus disambut. Dalam dialog-dialognya, Socrates bahkan mendorong lawan bicara untuk menyerangnya dengan argumen terbaik, bukan demi kemenangan retorik, tetapi demi pembongkaran premis-premis lemah yang mungkin masih ia pegang.
Sikap ini tidak hanya mencerminkan kerendahan hati intelektual, tetapi juga sebuah etika dialog yang sangat ketat. Dalam dialektika Socrates, kejujuran terhadap kesalahan sendiri adalah syarat mutlak. Tidak ada gunanya berdebat jika seseorang tidak bersedia mengakui ketika ia salah, karena argumen hanya dapat bergerak maju jika setiap pihak jujur terhadap apa yang benar-benar ia yakini dan terhadap kelemahan pemikirannya. Kesalahan yang disembunyikan akan menghentikan pertumbuhan intelektual dan merusak jiwa, sebab ia membiarkan seseorang hidup dalam ilusi pengetahuan. Ini sebabnya Socrates selalu meminta lawan bicaranya untuk secara jelas menyatakan posisi mereka: apa yang tidak diucapkan tidak dapat diperiksa, dan apa yang tidak diperiksa tidak dapat diperbaiki.
Ketidaktahuan yang disadari juga memiliki fungsi etis yang mendalam. Bagi Socrates, kejahatan moral terjadi karena ketidaktahuan—karena seseorang tidak mengetahui apa itu kebaikan atau tidak memahami sepenuhnya konsekuensi tindakannya. Tidak ada orang yang sengaja berbuat jahat, menurutnya; setiap tindakan jahat lahir dari penilaian yang keliru. Karena itu, mengakui ketidaktahuan adalah langkah pertama menuju kebajikan, sebab hanya dengan mengakui bahwa kita belum tahu, kita dapat mulai belajar apa yang benar. Dengan cara ini, ketidaktahuan yang diakui menjadi pintu menuju transformasi jiwa.
Hukum, Keadilan & Civic Virtue
Hukum, keadilan, dan kebajikan kewargaan merupakan fondasi kehidupan yang baik, bukan karena masyarakat menuntutnya, melainkan karena jiwa manusia sendiri hanya dapat berkembang melalui keterikatan pada prinsip-prinsip ini. Bagi Socrates, hukum bukan sekadar aturan eksternal yang mengatur perilaku, melainkan struktur rasional yang memungkinkan manusia hidup secara baik, teratur, dan bermakna. Ketaatan pada hukum adalah bentuk penghormatan terhadap akal—baik akal pribadi maupun akal kolektif yang bekerja dalam komunitas. Ketika seseorang dengan sengaja melanggar hukum, ia tidak hanya merusak masyarakat, tetapi merusak dirinya sendiri, sebab ia membiarkan bagian yang terbaik dalam dirinya tunduk pada dorongan-dorongan yang tidak beraturan.
Karena itulah Socrates memegang prinsip yang tampak ekstrem: seseorang tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan, bahkan ketika ia sendiri diperlakukan tidak adil oleh negara. Prinsip ini bukan didasarkan pada sentimentalitas moral, tetapi pada keyakinan bahwa kejahatan selalu merusak jiwa pelakunya. Jika seseorang mencelakakanmu, dan kamu membalas dengan tindakan yang sama, kamu telah memasuki bentuk kerusakan moral yang sama dengannya. Dengan kata lain, membalas kejahatan tidak pernah menghasilkan keadilan; ia hanya menggandakan kerusakan. Dalam Crito, Socrates dengan tegas menolak pelarian dari penjara meskipun ia dihukum secara tidak adil. Baginya, melakukan ketidakadilan demi menyelamatkan diri sendiri tetap merupakan ketidakadilan, dan itu tidak dapat dibenarkan oleh alasan apa pun. Tunduk pada hukum bukan soal menyerah, tetapi soal menjaga integritas jiwa.
Keadilan bagi Socrates bukan pertama-tama soal distribusi, hak, atau institusi, tetapi kualitas moral yang membentuk cara seseorang hidup bersama orang lain. Keadilan berarti tidak mencederai siapa pun, tidak mengambil keuntungan dengan cara yang tidak layak, dan tidak memanfaatkan ketidaktahuan orang lain untuk kepentingan pribadi. Ini adalah kebajikan yang selalu bersifat relasional: seseorang tidak adil sendirian, ia adil melalui tindakan yang mempertimbangkan kesejahteraan orang lain. Maka keadilan adalah kebajikan yang tidak mungkin dijalani tanpa masyarakat. Sebagaimana ia menolak bentuk-bentuk ekstrem individualisme, Socrates juga menolak gagasan bahwa dirinya adalah entitas yang sepenuhnya terpisah dari kota tempat ia hidup. Hubungannya dengan polis bukan kontrak, tetapi keterikatan moral yang mendalam.
Karena itu, bagi Socrates, nilai-nilai kewargaan seperti keadilan, kesetiaan pada hukum, dan persahabatan sipil menjadi pusat kehidupan etis. Ia menempatkan persahabatan sipil—kepercayaan dan kerja sama antara warga negara—sebagai pilar stabilitas etis dan politik. Tanpa hubungan ini, kota akan menjadi tempat penuh kecurigaan, dan keutamaan tidak mungkin tumbuh. Persahabatan sipil adalah bentuk solidaritas rasional: saling mengakui martabat sesama warga, saling menjaga keadilan, dan saling menuntun agar tidak jatuh dalam keburukan. Etika Socrates tidak hanya menuntut kebaikan pribadi, tetapi kebaikan publik, sebab jiwa seseorang terjalin dengan struktur moral komunitasnya.
Jiwa & Psikologi Moral
Jiwa adalah pusat seluruh kehidupan moral manusia, bukan hanya sebagai entitas metafisik, tetapi sebagai inti dari diri—tempat keputusan, penilaian, dan kebajikan berakar. Jiwa bukan sesuatu yang terdiri dari banyak bagian yang saling bertentangan, sebagaimana kelak dipikirkan Plato; ia lebih sederhana, lebih tunggal, dan bekerja sepenuhnya melalui penilaian rasional. Ketika seseorang berbuat baik atau buruk, ia tidak melakukannya karena bagian tertentu dalam dirinya memberontak melawan bagian lainnya, melainkan karena ia memiliki atau tidak memiliki pengetahuan yang benar. Moralitas, bagi Socrates, bukan soal pertarungan antara dorongan dan akal, tetapi sepenuhnya merupakan kualitas dari pemahaman.
Karena itu Socrates menolak gagasan akrasia, yakni “kelemahan kehendak”, di mana seseorang mengetahui yang baik namun tetap melakukan hal yang buruk. Bagi dia, hal itu mustahil. Jika seseorang melakukan tindakan buruk, itu berarti ia tidak benar-benar tahu apa yang baik; ia hanya memiliki pendapat yang keliru atau penilaian yang belum matang. Semua tindakan lahir dari apa yang tampak sebagai kebaikan bagi pelakunya pada saat itu. Bahkan ketika seseorang mencuri, berbohong, atau bertindak ceroboh, ia melakukannya karena dalam pikirannya, tindakan itu menawarkan sesuatu yang ia yakini sebagai kebaikan—keuntungan, keselamatan, kepuasan, atau kenyamanan. Kesalahan moral adalah kesalahan penilaian. Dengan demikian penyembuhan moral bukan pengendalian diri yang heroik, melainkan pendidikan jiwa: memperbaiki cara seseorang melihat dunia agar yang baik benar-benar tampak sebagai yang baik.
Jiwa, dalam kerangka ini, adalah sesuatu yang terus bergulat untuk memahami dirinya sendiri. Ia ditentukan oleh kualitas penilaiannya, oleh cara ia mempertimbangkan alasan, dan oleh kemampuannya untuk menyelaraskan hidup dengan apa yang benar. Karena itu, bagi Socrates, merawat jiwa jauh lebih penting daripada merawat tubuh atau memperoleh kekayaan. Tubuh hanya memberi kebutuhan sesaat; jiwa memberi arah hidup. Jika tubuh rusak, seseorang bisa tetap hidup dengan baik; tetapi jika jiwa rusak—melalui kebohongan, ketidakadilan, atau ketidaktahuan—maka seluruh hidup seseorang kehilangan nilai, terlepas dari seberapa sukses atau berkuasanya ia secara lahiriah.
Dalam psikologi moral Socrates, keutamaan bukanlah hiasan, melainkan kondisi kesehatan jiwa. Kebijaksanaan membersihkan jiwa dari kebingungan; keberanian meluruskan jiwa agar tidak terombang-ambing oleh rasa takut; keadilan menjaga jiwa agar tidak mengambil apa yang bukan haknya; kesederhanaan menahan jiwa dari melampaui batas yang tidak layak. Semua kebajikan ini kembali pada satu kemampuan mendasar: kemampuan untuk menilai dengan benar. Penilaian moral bukan reaksi emosional, tetapi tindakan intelektual yang membentuk keberadaan seseorang dari dalam.
Intellectual Virtue vs Natural Virtue
Ketegangan yang menarik antara keyakinannya bahwa kebajikan adalah pengetahuan—dan karena itu dapat diajarkan—dengan pengakuannya bahwa ia tidak pernah menemukan siapa pun yang benar-benar mampu mengajarkannya, termasuk dirinya sendiri. Ia berpendapat bahwa semua kebajikan pada dasarnya merupakan bentuk penilaian benar, sehingga seseorang yang sungguh mengetahui apa yang baik pasti akan bertindak baik. Bila kebajikan adalah pengetahuan, maka logikanya kebajikan dapat diajarkan sebagaimana geometri atau musik. Namun dalam praktiknya Socrates justru melihat kenyataan yang berlawanan: orang-orang baik tidak selalu berhasil menghasilkan anak yang baik, guru-guru yang dihormati tidak mampu memastikan murid-muridnya menjadi lebih berbudi, dan masyarakat tidak memiliki kurikulum yang jelas tentang bagaimana kebajikan seharusnya diajarkan. Ini membuatnya mempertanyakan apakah manusia sungguh memiliki metode untuk mengajarkan kebajikan.
Ketegangan itu semakin tampak dalam caranya memposisikan diri. Ia tidak mengklaim sebagai guru yang memiliki pengetahuan tentang kebajikan; ia lebih mirip bidan intelektual, seseorang yang membantu orang lain melahirkan kebenaran dari dalam dirinya sendiri. Karena itu ia menolak gagasan bahwa kebajikan dapat ditanamkan dari luar melalui ceramah, doktrin, atau indoktrinasi moral. Jika kebajikan adalah keadaan jiwa yang berkaitan dengan pengertian yang jernih, maka tidak ada orang yang bisa sekadar “memberikan” pengertian itu kepada orang lain. Tugas seorang filsuf, menurut Socrates, bukan mengisi, melainkan membangunkan; bukan memindahkan pengetahuan, tetapi memurnikan cara seseorang menilai.
Di sini tampak perbedaan antara apa yang ia sebut intelectual virtue—kebajikan intelektual yang bersifat sistematis, rasional, dan dapat dijelaskan—dengan natural virtue, kebajikan yang tampak secara alami pada beberapa orang tanpa dapat dirinci bagaimana ia terbentuk. Beberapa orang terlihat adil, bijaksana, atau berani tanpa mampu menjelaskan alasan tindakan mereka atau memberikan dasar rasional bagi kebiasaan baik itu. Socrates melihat bahwa kebajikan semacam ini rapuh karena bergantung pada kebiasaan, pendidikan keluarga, atau karakter bawaan. Tanpa landasan rasional, kebajikan seperti itu dapat goyah ketika menghadapi situasi yang lebih rumit. Inilah sebabnya ia menganggap natural virtue tidak sepenuhnya kebajikan; hanya intelectual virtue—kebajikan yang didukung pemahaman rasional—yang benar-benar layak disebut kebajikan.
Maka pertanyaan “apakah kebajikan dapat diajarkan?” menjadi lebih kompleks dalam pemikiran Socrates. Kebajikan bisa diajarkan, tetapi tidak dalam bentuk konvensional seperti pelajaran keterampilan. Yang bisa diajarkan hanyalah metode untuk menyingkap ketidaktahuan, menguji keyakinan, menajamkan definisi, dan menyingkirkan kontradiksi dalam cara seseorang berpikir. Kebajikan tidak ditransfer; ia muncul ketika seseorang melalui proses pemeriksaan diri yang gigih. Metode dialektika Socrates—bertanya, memeriksa, membingungkan, membongkar, lalu membangun kembali—adalah satu-satunya cara efektif untuk memurnikan jiwa hingga mampu melihat apa yang benar.
Konsekuensinya, kebajikan bukan sesuatu yang diberikan oleh guru, negara, atau tradisi, tetapi sesuatu yang harus ditemukan sendiri melalui pencarian rasional yang jujur. Maka meskipun secara teori kebajikan dapat diajarkan, dalam kenyataannya ia hanya dapat dicapai oleh seseorang yang bersedia menjalani proses panjang pengujian diri. Di sinilah letak paradoks Socrates: kebajikan adalah pengetahuan, tetapi pengetahuan itu tidak dapat diberikan—ia hanya dapat digugah melalui dialog, kesadaran akan ketidaktahuan, dan komitmen untuk memperbaiki jiwa dari dalam.
Perbandingan dgn Plato
Socrates sering digambarkan sebagai figur yang inklusif karena ia mempraktikkan filsafat sebagai percakapan terbuka yang dapat melibatkan siapa saja—tukang sepatu, budak, politisi, pemuda, penyair, perempuan, bahkan orang-orang yang dianggap tidak berpendidikan. Baginya, kemampuan berpikir dan mencari kebenaran bukan milik kelas tertentu; semua manusia memiliki kapasitas untuk bertanya, memeriksa diri, dan mengupayakan hidup yang baik. Ia tidak membedakan antara bangsawan dan rakyat biasa dalam hal kemampuan moral. Seseorang yang miskin atau tidak terpelajar bisa menunjukkan kebijaksanaan yang lebih besar daripada seorang politisi terkemuka, selama ia bersedia memeriksa dirinya dan menerima kebenaran ketika ditemui. Kualitas yang ia tuntut bukan status sosial, melainkan kesediaan untuk berpikir jujur. Sikap inklusif inilah yang membuatnya berani berdialog di pasar, berbicara dengan orang-orang yang secara sosial tidak dianggap penting, dan menganggap bahwa pengertian moral dapat muncul dari siapa pun, asalkan ia hidup dengan integritas dan mau diuji.
Plato, sebaliknya, mengembangkan kerangka pemikiran yang lebih elitis. Ia memandang bahwa kebenaran tertinggi—yakni pengetahuan tentang Form—hanya dapat dicapai oleh jiwa yang terlatih secara intelektual dan moral pada tingkat yang jauh lebih tinggi daripada mayoritas manusia. Dalam Republik, Plato secara eksplisit membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas yang berbeda berdasarkan kapasitas jiwa: para penguasa filosof, para penjaga, dan para pekerja. Pengetahuan filosofis yang sejati bukan sesuatu yang bisa dicapai oleh semua orang; hanya mereka yang melalui pendidikan ketat, panjang, dan sangat terarah yang dapat mencapai tingkat kontemplasi yang memungkinkan mereka memahami kebaikan itu sendiri. Ia tidak percaya bahwa masyarakat luas mampu menjalani pemeriksaan diri dengan kedalaman yang memadai atau memiliki kemampuan stabil untuk memandang kebenaran moral tanpa tersesat oleh opini. Dalam kerangka ini, kebijaksanaan menjadi sesuatu yang terpusat pada sekelompok kecil orang—sebuah aristokrasi intelektual.
Perbedaan antara keduanya dapat terlihat dari cara mereka memahami apa itu kehidupan filosofis. Socrates melihat filsafat sebagai seni hidup yang bisa diterapkan di mana saja—di pasar, di jalan, dalam percakapan sederhana—dan siapa pun bisa mengambil bagian di dalamnya. Ia percaya bahwa kemampuan untuk menjadi baik tidak dibatasi oleh status, bakat alamiah, atau pendidikan formal. Yang penting adalah kesediaan untuk diuji dan keberanian mengakui ketidaktahuan. Sementara itu Plato memandang filsafat sebagai jalan yang membutuhkan kapasitas bawaan tertentu, disiplin intelektual yang sangat tinggi, dan struktur pendidikan yang hanya mungkin dijalankan oleh sebagian kecil masyarakat. Jika Socrates mempraktikkan filsafat sebagai kegiatan demokratis dalam arti paling murninya, Plato memandang filsafat sebagai puncak hierarki spiritual dan intelektual, sesuatu yang hanya sedikit orang mampu mencapainya.
Pandangan tentang Tuhan & Kebaikan Ilahi
Dalam pemikiran Socrates, Tuhan bukanlah sosok yang berubah-ubah, cemburu, atau berperilaku impulsif sebagaimana sering digambarkan dalam mitos-mitos Yunani kuno; Tuhan adalah prinsip kebaikan yang paling murni, tidak tercemar oleh kelemahan manusia. Pemurnian gambaran tentang Tuhan menjadi salah satu aspek terpenting dari proyek moral Socrates, karena ia yakin bahwa gambaran yang keliru tentang Tuhan akan merusak moral manusia. Jika manusia percaya bahwa para dewa dapat bertindak tidak adil, cemburu, atau kejam, maka manusia pun akan merasa dibenarkan untuk berbuat serupa. Karena itu Socrates menolak keras mitologi yang menggambarkan para dewa sebagai pelaku kebohongan, perebut kekuasaan, atau kekerasan antar sesama dewa. Sosok ilahi, menurutnya, harus sepenuhnya baik; jika tidak, ia tidak layak disebut ilahi.
Dari sini muncul gagasan penting bahwa Tuhan tunduk pada kebaikan, bukan sebaliknya. Artinya, Tuhan tidak mendefinisikan kebaikan melalui kehendak-Nya, tetapi Tuhan baik karena Ia berada dalam keselarasan sempurna dengan kebaikan yang itu sendiri bersifat rasional dan tidak berubah. Kebaikan bukan produk kekuasaan, melainkan sesuatu yang dapat dipahami secara rasional oleh manusia. Karena itu Socrates menolak ide bahwa Tuhan dapat melakukan kejahatan atau memerintahkan sesuatu yang tidak adil; kebaikan ilahi bersifat konsisten, dan konsistensi inilah yang memberi dunia moral kepastian. Dengan cara ini, Socrates menegaskan bahwa moralitas tidak bersumber dari ketakutan terhadap hukuman ilahi, tetapi dari pengenalan rasional terhadap kebaikan itu sendiri. Tuhan tidak memerintahkan sesuatu menjadi benar; yang benar adalah apa yang sejalan dengan kebaikan, dan Tuhan hanya menghendaki apa yang benar.
Keyakinannya pada moralitas yang rasional membuat Socrates memandang bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak bersifat transaksional. Doa bukan permohonan untuk mendapat kekayaan atau keselamatan, tetapi permohonan untuk menjadi lebih baik. Ia bahkan mengecam mereka yang berdoa untuk keberuntungan atau keuntungan, karena menurutnya hal-hal itu dapat membahayakan jika seseorang tidak memiliki kebijaksanaan untuk menggunakannya dengan benar. Orang baik tidak bisa dirugikan karena bukan dunia luar yang menentukan nilai hidupnya, tetapi keadaan jiwanya. Dan karena Tuhan sepenuhnya baik, maka Tuhan tidak akan pernah membiarkan keadaan jiwa seseorang rusak oleh tindakan tidak adil dari luar. Bahkan kematian tidak dianggap sebagai kerugian, sebab Tuhan tidak mungkin membiarkan orang baik mengalami sesuatu yang buruk pada tingkat terdalam dari keberadaan mereka.
Pandangan Socrates tentang Tuhan juga memiliki dimensi epistemik. Ia percaya bahwa prinsip ilahi tidak dapat berkontradiksi dengan akal; apa yang benar secara rasional juga benar secara moral dan ilahi. Karena itu ia sering dianggap meletakkan dasar bagi gagasan bahwa akal dan wahyu tidak boleh bertentangan. Yang ilahi adalah apa yang paling rasional. Pendirian ini tampak jelas dalam caranya menolak argumen-argumen yang tidak konsisten atau pandangan yang berseberangan dengan kebaikan universal.
Hidup & Mati
Hidup dan mati tidak dipisahkan oleh rasa takut atau obsesi sebagaimana dialami kebanyakan manusia; keduanya dipahami melalui kacamata moral, yakni kondisi jiwa seseorang. Baginya, nilai hidup tidak diukur oleh lamanya seseorang bernapas atau banyaknya hal yang ia miliki, melainkan oleh kualitas pemeriksaan diri yang ia jalani. Hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani bukan karena hidup itu menjadi sia-sia secara praktis, tetapi karena tanpa pemeriksaan diri jiwa tidak pernah mengetahui apakah ia bergerak menuju kebaikan atau tenggelam dalam kebiasaan buruk. Inti hidup adalah perawatan jiwa, dan seluruh makna hidup dipusatkan pada upaya untuk menjadi lebih baik. Karena itu kehidupan panjang yang dijalani tanpa kebajikan tidak memiliki keunggulan apa pun dibanding kehidupan pendek yang dijalani dengan ketulusan untuk mencari kebenaran.
Pandangan ini membuat Socrates melihat kematian dengan cara yang jauh lebih jernih dan tidak penuh kecemasan. Ia menegaskan bahwa takut mati adalah sebuah bentuk ketidaktahuan, sebab tidak ada manusia yang benar-benar mengetahui apa yang terjadi setelah kematian. Karena itu, menganggap kematian sebagai sesuatu yang buruk sama kelirunya dengan menganggapnya sesuatu yang baik—keduanya hanyalah asumsi kosong. Sikap paling rasional adalah mengakui ketidaktahuan dan membiarkan penilaian moral menentukan bagaimana kita bertindak, bukan ketakutan pada hal-hal yang tidak kita pahami. Yang diketahui Socrates hanyalah bahwa tindakan buruk merusak jiwa, sedangkan kematian tidak. Jadi, jika harus memilih antara berbuat salah atau mati, baginya lebih baik mati. Kematian tidak dapat menyakiti jiwa, tetapi ketidakadilan dapat menghancurkan nilai seseorang secara total.
Socrates bahkan menawarkan gambaran positif tentang kematian. Ia menyebut kemungkinan bahwa kematian mungkin seperti tidur tanpa mimpi, sebuah kedamaian yang sempurna dan menyenangkan. Atau, ia membayangkan kemungkinan bertemu dengan jiwa-jiwa lain yang telah meninggal dan dapat berdialog dengan mereka sehingga dirinya tetap dapat menjalankan aktivitas yang ia cintai: memeriksa, bertanya, mencari kebenaran. Dalam kedua kemungkinan tersebut, tidak ada alasan untuk takut. Kematian, bukannya ancaman, justru menawarkan pembebasan dari kesukaran indrawi tanpa menghancurkan makna hidup. Yang bisa merusak makna hidup hanyalah tindakan moral yang salah, bukan berhentinya fungsi tubuh.
Karena itu, Socrates tetap konsisten memilih untuk tidak melarikan diri dari hukuman mati sekalipun ia yakin keputusan pengadilan tidak adil. Ia tidak takut mati, tetapi ia takut merusak jiwanya melalui tindakan yang bertentangan dengan prinsip kebaikan. Melarikan diri berarti melanggar hukum yang selama ini ia hormati dan mengingkari kehidupan moral yang ia jalani. Kebaikan bukan upaya menghindari kematian, tetapi pengabdian pada jiwa. Dan jiwa tetap baik selama ia tidak tercemar oleh ketidakadilan, bahkan ketika tubuhnya dihancurkan.
Nilai, Fungsi & Keindahan Moral
Nilai moral tidak berdiri sendiri sebagai sesuatu yang abstrak atau sentimental; nilai selalu berkaitan dengan fungsi, dan fungsi selalu berkaitan dengan keindahan moral. Sebuah benda, sebuah tindakan, atau seorang manusia disebut “baik” karena ia menjalankan fungsi alaminya dengan tepat. Pisau yang baik adalah pisau yang memotong dengan baik; mata yang baik adalah mata yang melihat dengan jelas; dan manusia yang baik adalah manusia yang menjalankan fungsi khasnya—yakni menggunakan akal budi untuk memahami kebaikan dan mengarahkan hidupnya sesuai dengan pemahaman itu. Dengan kata lain, nilai moral tidak dilepaskan dari struktur hakikat manusia; ia bukan kode eksternal, tetapi ekspresi dari bagaimana manusia seharusnya bekerja sebagai makhluk rasional.
Pendekatan ini membuat penilaian moral selalu mengarah pada tujuan. Tindakan hanya dianggap baik bila mengaktualkan fungsi jiwa, yakni memajukan penilaian yang benar, memperbaiki karakter, serta membawa manusia lebih dekat pada kebaikan. Kekayaan, kekuatan, dan kehormatan bisa menjadi baik, tetapi hanya jika digunakan dengan benar; jika digunakan tanpa pengertian, semuanya dapat menjadi buruk. Tidak ada hal eksternal yang baik atau buruk “pada dirinya sendiri”—nilai selalu terikat pada cara penggunaannya. Karena itu Socrates menolak pandangan populer yang menganggap keberhasilan, status, atau kenikmatan sebagai nilai tertinggi. Semua itu hanya instrumen, bukan tujuan.
Karena nilai adalah fungsi yang dijalankan dengan baik, apa yang baik sering kali tampak sekaligus indah. Socrates menggunakan kata kalon, yang berarti indah sekaligus mulia. Keindahan moral adalah keindahan pada tingkat terdalam: sesuatu indah bukan karena menyenangkan indra, tetapi karena mencerminkan tatanan yang benar dan keselarasan batin. Orang yang adil tampak indah karena tindakannya memperlihatkan jiwa yang tertata dan harmonis. Keberanian tampak indah karena ia adalah keteguhan jiwa untuk tetap setia pada kebaikan meski menghadapi bahaya. Bahkan kematian yang dipilih demi mempertahankan prinsip keadilan pun menjadi indah, sebagaimana terlihat dalam sikap Socrates sendiri di hadapan pengadilan dan menjelang kematiannya.
Bagi Socrates, keindahan moral bukan sekadar estetika batin, melainkan indikator bahwa jiwa bekerja sebagaimana mestinya. Kebajikan itu indah karena ia adalah realisasi terbaik dari apa yang bisa dicapai manusia. Hal ini menjelaskan mengapa ia tidak pernah tertarik pada kecantikan fisik. Sosok yang tampak cantik tetapi jiwanya yang tidak teratur adalah bentuk “keindahan palsu,” sebagaimana wadah berkilau yang berisi sesuatu yang busuk. Keindahan sejati adalah kejernihan moral, bukan kemolekan tubuh. Itulah mengapa ia sering mengejek mereka yang terpesona oleh tubuh tapi tidak mengurus jiwa: mereka membalikkan urutan nilai, menghargai yang kecil dan mengabaikan yang besar.
Socrates juga melihat bahwa nilai dan keindahan moral tidak pernah dipisahkan dari pengetahuan. Karena nilai adalah fungsi, dan fungsi manusia berasal dari rasionalitas, maka keindahan moral hanya muncul ketika seseorang bertindak berdasarkan penilaian yang tepat. Keindahan moral bukan keberuntungan, bukan kebiasaan, bukan bakat bawaan, tetapi hasil dari pengertian. Kekayaan, misalnya, dapat menjadi sesuatu yang baik bila disertai kebijaksanaan, tetapi tanpa kebijaksanaan ia justru menjadi beban moral. Inilah sebabnya Socrates mengatakan bahwa kekayaan bukan membuat seseorang baik, melainkan orang baiklah yang membuat kekayaan menjadi sesuatu yang bernilai. Fungsi moral dari benda-benda bergantung pada keadaan jiwa yang menggunakannya.
Sosial & Kepribadian
Manusia tidak pernah dipahami sebagai makhluk yang cukup pada dirinya sendiri. Jiwa seseorang, betapapun rasional atau berbakatnya, tidak dapat menemukan bentuk terbaiknya tanpa kehadiran orang lain. Sosialitas bukan sekadar kondisi eksternal, melainkan bagian struktural dari kepribadian manusia. Socrates memandang bahwa pembentukan karakter dan penemuan diri selalu memerlukan interaksi, percakapan, konflik intelektual yang sehat, serta tantangan moral yang datang dari sesama. Ia tidak pernah membayangkan manusia sebagai individu yang tertutup dan mandiri secara absolut, karena kebenaran moral selalu muncul dalam dialog, bukan dalam kesendirian yang sunyi.
Kepribadian bagi Socrates bukan kebiasaan atau temperamen bawaan, melainkan kualitas jiwa yang terbentuk melalui pencarian kebenaran bersama orang lain. Manusia dapat saja lahir dengan watak tertentu—berani, pemalu, temperamental—tetapi itu bukan kepribadian moralnya. Kepribadian sejati adalah apa yang lahir dari proses refleksi, pendidikan diri, dan keterlibatan dalam kehidupan bersama. Karena itu Socrates sering mengatakan bahwa ia tidak mengajar dengan cara menuangkan pengetahuan, melainkan membantu “melahirkan” jiwa orang lain melalui percakapan. Proses ini tidak mungkin terjadi tanpa dunia sosial, karena seseorang hanya dapat menyadari kekeliruan atau kedalaman pikirannya ketika diuji oleh pikiran orang lain. Komunitas tidak hanya menjadi tempat manusia hidup, tetapi medium bagi terbentuknya keutamaan moral.
Sikap Socrates terhadap masyarakat jauh dari idealisasi romantis. Ia tahu bahwa masyarakat sering menekan, salah menilai, bahkan menghukum orang yang benar. Namun ia tetap memandang bahwa hidup dalam polis adalah syarat bagi berkembangnya kepribadian yang utuh. Masyarakat yang baik memberi ruang bagi percakapan dan kritik; masyarakat yang buruk bisa melahirkan kedangkalan moral. Namun dalam kedua kondisi itu, manusia tetap membutuhkan yang lain untuk memahami dirinya. Bahkan ketidaksetujuan publik terhadap dirinya tidak menjauhkan Socrates dari kehidupan sosial, melainkan menguji konsistensi kepribadiannya. Sosialitas bukan tentang kesesuaian, tetapi tentang keberanian untuk memperlihatkan diri secara jujur di hadapan orang lain.
Yang menarik adalah bahwa Socrates, meskipun sangat sosial, tetap sangat individual. Ia menolak menjadi bagian dari gerombolan, menolak tunduk pada opini massa, dan selalu mendorong individu untuk menggunakan pikirannya sendiri. Tetapi penolakan pada konformitas bukan berarti penolakan pada masyarakat; justru sebaliknya, ia percaya bahwa masyarakat hanya bisa menjadi baik bila setiap anggotanya menjadi individu yang matang secara moral. Kepribadian yang rendah diri atau tanpa refleksi membuat seseorang mudah terseret oleh opini umum, sementara kepribadian yang terdidik oleh dialog mampu menahan desakan mayoritas demi mempertahankan kebaikan. Inilah paradoks Socrates: menjadi pribadi yang kuat hanya mungkin melalui kehidupan sosial yang intens.
Karena itu hubungan antara sosial dan kepribadian dalam pemikiran Socrates bersifat timbal balik. Masyarakat menyediakan arena di mana seseorang menguji pikiran, menata perilaku, mengasah kebajikan, dan menyingkap kebodohan dirinya. Sebaliknya, kepribadian yang terarah pada kebaikan memperbaiki masyarakat melalui contoh hidup, bukan melalui paksaan. Socrates menunjukkan hal ini bukan dengan teori, tetapi melalui hidupnya sendiri. Ia hadir di pasar, di jalan, di rumah-rumah, mengajak siapa pun berbicara, memancing mereka berpikir dan bertanggung jawab atas pendapatnya. Ia bukan guru privat bagi segelintir orang terpilih; ia adalah tokoh publik yang membentuk kepribadian masyarakat melalui kepribadian pribadinya.
Kesimpulan
Socrates menegaskan bahwa kebijaksanaan, kebenaran, dan kebajikan adalah tujuan tertinggi manusia. Melalui elenchus, ia menunjukkan bahwa filsafat adalah seni bertanya dan belajar dari ketidaktahuan. Ia tidak hanya meletakkan dasar bagi epistemologi dan etika Barat, tetapi juga menjadi simbol keberanian moral dan integritas intelektual. Dengan kematiannya, ia membuktikan bahwa kebenaran lebih berharga daripada hidup itu sendiri.
FAQ
Apa kontribusi terbesar Socrates bagi filsafat?
Ia memperkenalkan metode dialektika (elenchus) dan menegaskan bahwa kebijaksanaan sejati berawal dari pengakuan atas ketidaktahuan.
Mengapa Socrates dihukum mati?
Ia dituduh merusak moral pemuda dan tidak menghormati dewa-dewa Athena, namun sebenarnya ia dihukum karena keberaniannya menentang kemunafikan sosial dan politik.
Apa makna kutipan “The unexamined life is not worth living”?
Bahwa kehidupan yang tidak direfleksikan secara moral dan intelektual kehilangan makna sejatinya.
Referensi
- Plato. (1997). Complete Works. Ed. J. M. Cooper. Indianapolis: Hackett Publishing.
- Xenophon. (1990). Memorabilia. Trans. E. C. Marchant. Cambridge: Harvard University Press.
- Guthrie, W. K. C. (1971). Socrates. Cambridge: Cambridge University Press.
- Brickhouse, T. C., & Smith, N. D. (1994). Plato’s Socrates. New York: Oxford University Press.
- Vlastos, G. (1991). Socratic Studies. Cambridge: Cambridge University Press.
- Benson, H. H. (2011). A Companion to Socrates. Malden: Wiley-Blackwell.