Leonard Nelson

Dipublikasikan: 5 Oktober 2025

Terakhir diperbarui: 5 Oktober 2025

Raymond Kelvin Nando — Leonard Nelson adalah seorang filsuf Jerman yang dikenal karena usahanya menghidupkan kembali rasionalisme kritis Kantian dan etika murni Plato dalam konteks modern. Ia menolak empirisme dan positivisme yang berkembang pada abad ke-19, dengan menegaskan bahwa pengetahuan sejati bersumber pada prinsip apriori rasional. Melalui pemikirannya, Nelson menjadi salah satu tokoh utama dalam Neukantianisme Göttingen, yang berupaya menafsirkan kembali filsafat Immanuel Kant dengan metode logika deduktif dan analisis reflektif terhadap pengetahuan.

Biografi Leonard Nelson

Leonard Nelson lahir pada 11 Juli 1882 di Berlin, Jerman, dari keluarga akademik yang sangat menghargai ilmu pengetahuan dan kebebasan berpikir. Ayahnya adalah seorang dokter, sementara ibunya mendorong minatnya terhadap sastra dan filsafat sejak dini. Ketertarikan Nelson terhadap filsafat muncul pada usia muda setelah membaca karya Immanuel Kant dan Plato.

Ia belajar di Universitas Göttingen di bawah bimbingan Leonard Courant dan Hilbert, dan dengan cepat menunjukkan kecemerlangan dalam bidang logika dan epistemologi. Pada awal abad ke-20, Nelson mendirikan “Göttinger Philosophische Gesellschaft” (Perhimpunan Filsafat Göttingen), yang menjadi wadah diskusi kritis antara filsafat dan ilmu pengetahuan murni.

Pada tahun 1917, Nelson menerbitkan karya utamanya, System der philosophischen Ethik, di mana ia berusaha mendasarkan moralitas pada rasionalitas apriori, bukan pada pengalaman empiris. Ia menolak segala bentuk dogmatisme, baik teologis maupun materialistik, dan mengembangkan metode refleksi yang disebut regressive method—sebuah cara berpikir yang bergerak mundur dari pengalaman konkret menuju prinsip dasar pengetahuan.

Orang lain juga membaca :  Nicholas dari Autrecourt

Nelson juga memiliki dimensi etis yang kuat. Ia mendirikan Internationale Jugend-Bund, organisasi yang memperjuangkan pendidikan moral, perdamaian, dan keadilan sosial. Ia wafat mendadak pada 29 Oktober 1927 di Göttingen, meninggalkan warisan filosofis yang mendalam bagi generasi penerus seperti Julius Kraft dan Grete Hermann.

Konsep-Konsep Utama

Regressive Methode (Metode Regresif)

Konsep utama Nelson dalam epistemologi adalah regressive method, yaitu cara untuk menelusuri dasar pengetahuan dari pengalaman menuju prinsip apriori. Ia menolak pendekatan empiris yang memulai dari observasi menuju generalisasi, dan sebaliknya, berargumen bahwa validitas pengalaman hanya dapat dipahami bila kita mengetahui struktur rasional yang mendasarinya.

Die regressive Methode führt von den Urteilen der Erfahrung auf die Bedingungen der Möglichkeit dieser Urteile. (Abhandlungen der Fries’schen Schule, 1909, hlm. 15)

Metode regresif, tulis Nelson, membawa kita dari penilaian pengalaman menuju kondisi kemungkinan dari penilaian tersebut.
Kutipan ini mencerminkan semangat Kantianisme yang diperbarui, di mana rasionalitas mendahului pengalaman, tetapi Nelson menekankan bahwa analisis ini harus dilakukan dengan cara reflektif, bukan spekulatif. Melalui metode regresif, filsafat menjadi semacam “ilmu dasar” (Grundwissenschaft), yang menyingkap struktur logis pengetahuan manusia.

Nelson juga menekankan bahwa metode ini bersifat normatif dan bukan psikologis; ia bukan menganalisis bagaimana manusia berpikir secara faktual, melainkan bagaimana seharusnya berpikir agar pengetahuannya valid secara universal.

Apriorische Erkenntnis (Pengetahuan Apriori)

Nelson mengembangkan kembali gagasan a priori Kant, dengan menegaskan bahwa prinsip-prinsip dasar pengetahuan tidak dapat diambil dari pengalaman empiris, tetapi diturunkan dari refleksi rasional terhadap syarat kemungkinan berpikir.

Das Apriori ist nicht eine Tatsache der Erfahrung, sondern die Bedingung ihrer Möglichkeit. (System der philosophischen Ethik, 1917, hlm. 47)

Pengetahuan apriori, bagi Nelson, adalah dasar mutlak dari semua pengetahuan yang sah. Ia tidak muncul dari pengalaman, melainkan mendahuluinya. Dalam kerangka ini, Nelson berupaya memurnikan filsafat dari psikologisme dan mengembalikannya pada fungsi aslinya: penyelidikan rasional terhadap prinsip-prinsip universal.

Orang lain juga membaca :  Moses Mendelssohn

Dengan demikian, apriorische Erkenntnis bukanlah doktrin metafisik, melainkan metode epistemologis yang menuntun kita untuk memahami syarat rasional pengetahuan.

Philosophische Ethik (Etika Filsafati)

Etika Nelson sangat dipengaruhi oleh Plato dan Kant. Ia berpendapat bahwa moralitas sejati tidak dapat didasarkan pada konsekuensi atau perasaan, tetapi harus bersumber dari prinsip moral apriori yang rasional dan universal.

Das moralische Gesetz ist keine Erfahrungstatsache, sondern eine Vernunftforderung. (System der philosophischen Ethik, 1917, hlm. 82)

Hukum moral, menurut Nelson, bukan fakta pengalaman, melainkan tuntutan rasional. Pandangan ini menunjukkan bahwa moralitas adalah ekspresi dari akal murni, bukan hasil kebiasaan atau konvensi sosial. Dengan demikian, etika bagi Nelson adalah ilmu normatif tentang kewajiban rasional manusia, yang berdiri di atas fondasi epistemologi kritis.

Etika ini menegaskan bahwa manusia, melalui akalnya, dapat menilai benar atau salah secara otonom. Moralitas sejati lahir dari kesadaran rasional, bukan dari otoritas eksternal.

Dalam Konteks Lain

Filsafat Ilmu dan Logika

Nelson menolak positivisme yang berusaha menjadikan filsafat sebagai cabang ilmu empiris. Ia berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu reflektif yang mengkaji syarat rasional dari semua ilmu lain.

Die Philosophie ist keine Naturwissenschaft, sondern die Wissenschaft der Prinzipien der Naturwissenschaften. (Vorlesungen über die Grundlagen der Ethik, 1922, hlm. 10)

Filsafat, menurut Nelson, bukan ilmu alam, melainkan ilmu tentang prinsip-prinsip dari ilmu alam itu sendiri. Pandangan ini memosisikan filsafat sebagai “ilmu dasar” yang memberi legitimasi epistemologis pada sains.

Dalam konteks ini, Nelson menjadi jembatan antara rasionalisme klasik dan epistemologi modern. Ia menolak empirisme reduksionis dan menegaskan bahwa ilmu pengetahuan memerlukan landasan rasional yang tidak bersumber pada pengalaman, tetapi pada refleksi filosofis.

Orang lain juga membaca :  Anaximenes

Filsafat Pendidikan dan Moralitas Sosial

Selain epistemologi, Nelson juga berkontribusi dalam filsafat pendidikan. Ia memandang pendidikan sebagai proses rasionalisasi moral, bukan sekadar transmisi pengetahuan. Tujuan pendidikan, menurutnya, adalah membentuk individu yang mampu berpikir otonom dan bertanggung jawab secara etis.

Pandangan ini tercermin dalam aktivitasnya bersama Internationale Jugend-Bund, di mana ia mengajarkan nilai-nilai humanistik seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab sosial sebagai ekspresi dari hukum moral apriori.

Kesimpulan

Leonard Nelson adalah filsuf rasionalis modern yang berusaha mengembalikan filsafat pada fungsi kritisnya: mencari dasar rasional dari pengetahuan dan moralitas. Melalui regressive method, apriorische Erkenntnis, dan philosophische Ethik, ia membangun sistem berpikir yang menegaskan kemandirian akal budi manusia dalam menemukan kebenaran dan kebajikan. Dalam tradisi filsafat Jerman, ia menjadi penerus langsung semangat Kant dan Plato dalam konteks abad ke-20.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Apa kontribusi utama Leonard Nelson dalam filsafat?

Ia mengembangkan metode regresif sebagai dasar epistemologi kritis yang menelusuri prinsip apriori di balik pengalaman empiris.

Apa hubungan Nelson dengan Kant?

Nelson adalah penerus tradisi Kantian, terutama dalam hal rasionalisme kritis dan penolakan terhadap empirisme dan psikologisme.

Apa tujuan utama etika Nelson?

Untuk menegaskan bahwa moralitas bersumber dari prinsip rasional apriori, bukan dari pengalaman atau otoritas eksternal.

Referensi

  • Nelson, L. (1917). System der philosophischen Ethik. Leipzig: Meiner Verlag.
  • Nelson, L. (1909). Abhandlungen der Fries’schen Schule. Göttingen: Vandenhoeck & Ruprecht.
  • Nelson, L. (1922). Vorlesungen über die Grundlagen der Ethik. Göttingen: Philosophische Gesellschaft.
  • Kraft, J. (1947). The Philosophy of Leonard Nelson. London: Routledge.
  • Herman, G. (1935). Logic and Philosophy in the Nelson School. Berlin: Springer.
  • Brandt, R. (1981). Ethical Rationalism in German Neo-Kantianism. Cambridge: Cambridge University Press.

Citation

Previous Article

Leon Battista Alberti

Next Article

Leonardo Bruni

Citation copied!