Karl Jaspers

Dipublikasikan: 3 Oktober 2025

Terakhir diperbarui: 5 Oktober 2025

Raymond Kelvin Nando — Karl Jaspers adalah seorang filsuf eksistensialis asal Jerman yang dikenal karena usahanya menghubungkan filsafat eksistensial dengan tradisi metafisika, serta pemikirannya tentang batas-batas pengetahuan, kebebasan, dan komunikasi. Ia juga memberikan kontribusi besar dalam filsafat agama dan sejarah filsafat, menjadikannya salah satu figur penting dalam filsafat abad ke-20.

Biografi Karl Jaspers

Karl Theodor Jaspers lahir pada 23 Februari 1883 di Oldenburg, Jerman. Pada awalnya, ia mempelajari hukum, tetapi segera beralih ke kedokteran, khususnya psikiatri. Minatnya pada kejiwaan manusia mendorongnya untuk meneliti kondisi mental, yang kemudian membentuk landasan bagi refleksi filosofisnya.

Pada 1913, Jaspers menerbitkan karya pertamanya, Allgemeine Psychopathologie (Psikopatologi Umum), yang menggabungkan pendekatan empiris dengan refleksi filosofis mengenai penyakit jiwa. Buku ini menjadi tonggak penting dalam psikologi modern dan masih dianggap klasik hingga kini.

Setelah bergeser dari psikiatri ke filsafat, Jaspers mulai mengajar di Universitas Heidelberg. Ia menjadi semakin dikenal sebagai pemikir yang mengaitkan eksistensialisme dengan metafisika, berbeda dengan Martin Heidegger yang lebih menekankan pada fenomenologi.

Pada masa rezim Nazi, Jaspers mengalami tekanan karena ia menolak bekerja sama dengan ideologi Nazi, terlebih karena istrinya, Gertrud Mayer, adalah keturunan Yahudi. Setelah Perang Dunia II, ia kembali aktif menulis dan mengajar, menekankan pentingnya demokrasi dan komunikasi filosofis dalam dunia modern.

Karl Jaspers meninggal pada 26 Februari 1969 di Basel, Swiss. Warisannya adalah filsafat eksistensial yang lebih inklusif, terbuka pada pluralitas, dan berusaha mengatasi keterbatasan pengetahuan manusia.

Orang lain juga membaca :  Isaac Newton

Konsep-Konsep Utama

Grenzsituationen (Situasi Batas)

Dalam filsafat Jaspers, situasi batas adalah momen-momen dalam kehidupan yang tidak bisa dihindari, seperti penderitaan, konflik, kematian, dan rasa bersalah. Situasi ini mengungkap keterbatasan manusia sekaligus membuka peluang untuk meraih keotentikan.

“Grenzsituationen sind Situationen, in denen wir nicht ausweichen können, sondern in denen wir uns als Existenz erfahren.” (Philosophie, 1932, hlm. 178)
“Situasi batas adalah situasi di mana kita tidak dapat menghindar, melainkan di mana kita mengalami diri kita sebagai eksistensi.”

Melalui situasi batas, manusia dihadapkan pada kenyataan bahwa pengetahuan rasional memiliki batas, dan hanya dengan menghadapinya, manusia dapat mengalami kebebasan dan transendensi.

Transzendenz (Transendensi)

Jaspers menekankan bahwa filsafat sejati harus mengakui keberadaan sesuatu yang melampaui rasionalitas, yakni transendensi. Transendensi tidak dapat dijelaskan sepenuhnya, tetapi dapat dialami melalui simbol, bahasa agama, dan komunikasi filosofis.

“Transzendenz ist nicht Gegenstand des Wissens, sondern das, worin die Existenz sich selbst übersteigt.” (Philosophie, 1932, hlm. 249)
“Transendensi bukanlah objek pengetahuan, melainkan sesuatu di mana eksistensi melampaui dirinya sendiri.”

Konsep ini menunjukkan keterbukaan Jaspers terhadap dimensi religius, tanpa terikat pada dogma tertentu.

Kommunikation (Komunikasi)

Menurut Jaspers, komunikasi otentik adalah jalan utama untuk mencapai keaslian eksistensial. Dalam komunikasi yang mendalam, manusia tidak hanya bertukar informasi, tetapi juga saling mengungkapkan diri dalam kebebasan.

Komunikasi semacam ini memungkinkan manusia mengatasi isolasi eksistensial dan menyadari keberadaannya bersama orang lain.

Dalam Konteks Lain

Filsafat Agama

Jaspers memberikan tempat penting bagi agama sebagai simbol dari transendensi. Ia menolak fundamentalisme maupun reduksionisme, dan lebih menekankan agama sebagai cara manusia berhubungan dengan misteri yang melampaui pengetahuan.

“Religion ist Symbolsprache der Transzendenz.” (Der philosophische Glaube, 1948, hlm. 56)
“Agama adalah bahasa simbol dari transendensi.”

Dengan demikian, agama dipahami bukan sebagai kumpulan doktrin tetap, melainkan sebagai simbol yang membuka ruang refleksi terhadap yang mutlak.

Orang lain juga membaca :  William dari Champeaux

Sejarah Filsafat

Jaspers juga dikenal karena Vom Ursprung und Ziel der Geschichte (1949), di mana ia memperkenalkan konsep Achsenzeit (Zaman Poros), yakni periode sekitar 800–200 SM di mana tokoh-tokoh besar seperti Konfusius, Buddha, Socrates, dan nabi-nabi Ibrani muncul secara bersamaan di berbagai tempat.

Konsep ini menunjukkan pandangan universal Jaspers tentang sejarah manusia, yakni bahwa kebijaksanaan muncul dalam berbagai budaya, menegaskan pluralitas sumber eksistensial.

Kesimpulan

Karl Jaspers adalah filsuf eksistensialis Jerman yang berusaha melampaui batas pengetahuan dengan menekankan pengalaman eksistensial, transendensi, dan komunikasi otentik. Ia menghadirkan eksistensialisme yang lebih terbuka, religius, dan dialogis, sekaligus memperkaya pemahaman tentang sejarah manusia.

Frequently Asked Questions (FAQ)

Apa yang dimaksud dengan Grenzsituationen menurut Jaspers?

Itu adalah situasi batas seperti penderitaan, kematian, atau rasa bersalah yang tidak bisa dihindari, dan justru mengungkapkan eksistensi manusia.

Bagaimana Jaspers memandang agama?

Jaspers melihat agama sebagai simbol transendensi, bukan sebagai dogma mutlak, melainkan bahasa simbol yang menghubungkan manusia dengan misteri.

Apa itu Achsenzeit dalam filsafat Jaspers?

Achsenzeit adalah Zaman Poros sekitar 800–200 SM ketika berbagai tokoh spiritual dan filosofis besar muncul hampir bersamaan di seluruh dunia.

Referensi

  • Jaspers, K. (1932). Philosophie. Berlin: Springer.
  • Jaspers, K. (1948). Der philosophische Glaube. Munich: Piper.
  • Jaspers, K. (1949). Vom Ursprung und Ziel der Geschichte. Munich: Piper.
  • Kirkbright, S. (2004). Karl Jaspers: A Biography – Navigations in Truth. New Haven: Yale University Press.
  • Schilpp, P. A. (Ed.). (1981). The Philosophy of Karl Jaspers. La Salle: Open Court.
  • Thornhill, C. (2002). Karl Jaspers: Politics and Metaphysics. New York: Routledge.
Previous Article

Karl Marx

Next Article

Kaspar Schwenckfeld

Citation copied!