Dipublikasikan: 13 Januari 2026
Terakhir diperbarui: 13 Januari 2026
Dipublikasikan: 13 Januari 2026
Terakhir diperbarui: 13 Januari 2026
Raymond Kelvin Nando — Zoroastrianisme adalah salah satu agama dan sistem filsafat moral tertua di dunia yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan ideologi dan pemikiran etika dalam sejarah manusia. Didirikan oleh Zarathustra (Zoroaster) di Persia kuno sekitar abad ke-6 SM, Zoroastrianisme menekankan dualisme antara kebaikan dan kejahatan, serta tanggung jawab moral individu untuk memilih jalan kebenaran. Meskipun berakar pada keyakinan religius, sistem nilai dan struktur moralnya memberikan fondasi bagi banyak konsep etika politik dan sosial dalam peradaban Barat dan Timur Tengah.
Daftar Isi
Zoroastrianisme berpusat pada ajaran Ahura Mazda, Tuhan tertinggi yang melambangkan kebenaran, cahaya, dan kebaikan. Ajarannya menyatakan bahwa kehidupan adalah medan perjuangan antara Ahura Mazda (kebaikan) dan Angra Mainyu (kejahatan).
“Good thoughts, good words, good deeds — these are the pillars of the Zoroastrian faith.”
— Avesta, Yasna 35:2
Dalam konteks ideologi, Zoroastrianisme mengajarkan bahwa kesejahteraan sosial dan moral bergantung pada partisipasi aktif manusia dalam menegakkan kebenaran (asha) dan melawan kebohongan (druj).
Zoroastrianisme berasaskan pandangan dualisme moral, di mana dunia merupakan arena pertarungan abadi antara dua kekuatan kosmis: kebenaran (Ahura Mazda) dan kebohongan (Angra Mainyu).
“Between the two spirits, the wise have rightly chosen good, and thus life and immortality shall be theirs.”
— Avesta, Yasna 30:3
Pandangan ini menegaskan bahwa manusia memiliki kebebasan moral untuk memilih pihak mana yang akan diikuti, sehingga setiap tindakan manusia memiliki konsekuensi kosmis terhadap keseimbangan antara kebaikan dan kejahatan.
Zoroastrianisme menekankan bahwa kebaikan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Prinsip “Good Thoughts, Good Words, Good Deeds” menjadi pedoman moral universal yang mencerminkan tanggung jawab individu terhadap masyarakat dan dunia.
“He who sows good thoughts reaps good deeds and brings order to the world.”
— Avesta, Yasht 13:56
Ajaran ini menolak fatalisme dan mengajarkan bahwa manusia adalah agen aktif dalam menciptakan keadilan sosial serta harmoni dunia.
Salah satu aspek paling progresif dari Zoroastrianisme adalah pandangan kesucian unsur alam—tanah, air, udara, dan api—yang dianggap sebagai manifestasi dari Ahura Mazda.
“Pollution of the elements is pollution of the divine creation.”
— Vendidad, Fargard 5
Pemeliharaan alam dipandang sebagai kewajiban spiritual dan moral, menjadikan Zoroastrianisme salah satu sistem etika tertua yang mempromosikan prinsip ekologi dan keberlanjutan lingkungan.
Zoroastrianisme memiliki konsep akhir zaman positif, di mana dunia akan dimurnikan dari kejahatan, dan kebenaran akan menang sepenuhnya.
“At the end of time, the dead shall rise, and the world will be renewed in everlasting light.”
— Bundahishn, Chapter 30
Ajaran ini menumbuhkan harapan moral bahwa keadilan kosmis akan ditegakkan, sehingga setiap tindakan baik memiliki makna abadi dalam rencana universal.
Zoroastrianisme adalah agama, tetapi sistem moral dan filosofinya memiliki nilai ideologis karena mengatur hubungan antara manusia, masyarakat, dan tatanan moral kosmos.
Ajaran Zoroastrianisme memengaruhi konsep surga-neraka, hari penghakiman, dan kebebasan moral dalam agama-agama Abrahamik seperti Yudaisme, Kristen, dan Islam.
Ya. Komunitas kecil Zoroastrian, dikenal sebagai Parsi di India dan Zardushti di Iran, masih menjalankan ajaran ini dengan menjaga kesucian ritual dan prinsip moral klasiknya.